BEI Tetapkan TOBA Sebagai Green Equity Transition Pertama di Indonesia

- Penulis

Senin, 7 September 2026 - 14:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Bursa Efek Indonesia menetapkan PT TBS Energi Utama Tbk berpredikat Green Equity Transition.

BEI menetapkan PT TBS Energi Utama Tbk sebagai emiten pertama berpredikat Green Equity Transition di Indonesia.

Redaksiku.com – Bursa Efek Indonesia secara resmi menetapkan PT TBS Energi Utama Tbk sebagai perusahaan tercatat pertama di tanah air yang berhasil mengantongi predikat Green Equity Transition pada awal semester kedua tahun ini.

Langkah strategis tersebut mulai berlaku sejak 28 Agustus 2026 yang bertepatan langsung dengan momen peluncuran perdana fasilitas IDX Green Equity Designation oleh otoritas bursa.

Dari total tiga emiten yang mendapatkan penetapan perdana dalam program tersebut, perusahaan berkode saham TOBA ini tercatat sebagai satu-satunya entitas bisnis yang masuk ke dalam kategori transisi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Pengembangan Usaha Bursa Efek Indonesia Iding Pardi mengungkapkan bahwa kehadiran klasifikasi baru ini memegang peranan krusial dalam menciptakan ekosistem investasi yang lebih transparan.

“IDX Green Equity Designation merupakan milestone penting dalam membangun pasar modal Indonesia yang semakin transparan, kredibel, dan berorientasi pada keberlanjutan,” jelasnya dalam keterbukaan informasi publik.

Predikat transisi hijau dari bursa ini didapatkan setelah melalui proses peninjauan independen yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat global.

Proses Penilaian dan Standar Internasional

Penetapan status khusus bagi emiten yang melakukan transformasi bisnis ini tidak diberikan secara sembarangan karena melalui serangkaian ulasan mendalam.

Proses peninjauan independen tersebut dikerjakan oleh S&P Global Ratings dengan merujuk pada standar Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia serta prinsip-prinsip global yang berlaku.

Terdapat beberapa indikator utama yang menjadi bahan pertimbangan ketat oleh tim penilai sebelum akhirnya mengeluarkan status transisi hijau tersebut.

  • Kontribusi finansial dari lini usaha yang ramah lingkungan terhadap total pendapatan perusahaan secara keseluruhan.
  • Tingkat keselarasan operasional bisnis dengan taksonomi keuangan berkelanjutan yang berlaku secara nasional.
  • Penerapan tata kelola perusahaan yang baik dalam menjalankan transisi energi bersih.
  • Pelaksanaan penilaian berkala terhadap pencapaian target emisi dan keberlanjutan lingkungan.
  • Keterbukaan informasi yang transparan dan akuntabel kepada publik serta para pemegang saham.

Bagi emiten bersangkutan, perolehan status bergengsi ini bersandar langsung pada laporan keuangan tahun buku yang telah melalui proses audit penuh.

Berdasarkan catatan laporan tersebut, portofolio bisnis infrastruktur berkelanjutan yang tidak bersumber dari batu bara menyumbang porsi pendapatan yang sangat signifikan bagi perusahaan.

Transformasi Bisnis Menuju Energi Bersih

Perubahan orientasi bisnis yang dilakukan oleh manajemen menunjukkan hasil yang nyata melalui pergeseran kontribusi pendapatan dari sektor energi fosil ke sektor hijau.

Pada periode tahun buku sebelumnya, lini usaha non-batubara mampu menyumbang hampir separuh dari total pendapatan konsolidasi yang dikantongi oleh perusahaan.

Komitmen jangka panjang perusahaan juga terlihat sangat kuat melalui alokasi belanja modal yang sepenuhnya diarahkan pada kegiatan usaha yang berkelanjutan.

S&P Global Ratings mencatat bahwa sebanyak 92% komitmen belanja modal perusahaan untuk periode lima tahun ke depan dialokasikan khusus untuk kegiatan hijau tanpa menyentuh sektor batu bara sama sekali.

Perkembangan transformasi ini terus melaju kencang memasuki pertengahan tahun berjalan, di mana kontribusi sektor infrastruktur berkelanjutan semakin mendominasi struktur keuangan.

Porsi pendapatan dari lini bisnis ramah lingkungan melonjak naik secara drastis, sementara porsi dari bisnis batu bara mengalami penyusutan yang cukup berarti.

  • Pengelolaan limbah menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang sebagian besar pendapatan serta laba operasional perusahaan.
  • Ekosistem kendaraan listrik yang dikembangkan mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang melesat hampir tiga kali lipat secara tahunan.
  • Laba kotor konsolidasi melonjak lebih dari dua kali lipat seiring dengan perbaikan efisiensi operasional.
  • Arus kas dari aktivitas operasi berhasil berbalik menjadi positif setelah sebelumnya berada di zona merah.

Direktur Utama dan Chief Executive Officer TBS Dicky Yordan menuturkan bahwa pencapaian ini merupakan tonggak sejarah dalam perjalanan perusahaan mengubah wajah bisnisnya.

“Penetapan ini menetapkan standar yang harus kami jaga setiap tahun, dan kami berharap penetapan ini mempertemukan kami dengan investor yang memang mencari perusahaan seperti kami,” ujarnya.

Pertanyaan Umum

Apa itu predikat Green Equity Transition?

Predikat tersebut merupakan klasifikasi khusus yang diberikan oleh Bursa Efek Indonesia kepada perusahaan tercatat yang sedang berada dalam proses transisi bisnis menuju praktik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kapan penetapan status hijau ini mulai berlaku?

Penetapan resmi bagi perusahaan tercatat pertama ini mulai berlaku sejak tanggal 28 Agustus 2026 bersamaan dengan peluncuran fasilitas indeks saham hijau yang baru di pasar modal.

Faktor apa yang membuat emiten ini terpilih?

Pemilihan ini didasarkan pada hasil peninjauan independen yang menilai kontribusi pendapatan dari bisnis non-batubara, komitmen belanja modal hijau, serta tata kelola perusahaan yang transparan.

Ringkasan

Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) sebagai emiten pertama di Indonesia yang meraih predikat Green Equity Transition dalam fasilitas IDX Green Equity Designation mulai 28 Agustus 2026.

Status transisi hijau ini diperoleh setelah peninjauan independen oleh S&P Global Ratings berdasarkan kontribusi pendapatan non-batubara, komitmen belanja modal hijau sebesar 92% untuk lima tahun ke depan, serta transparansi tata kelola perusahaan.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rencana Kerja Kemenkeu 2027: Fokus pada Lima Program Prioritas
Strategi Reksadana Saat Pasar Membaik untuk Investor
Fortune Indonesia Investment Forum 2026 Bahas Strategi Investasi Global
Analisis UBS untuk EXCL Usai Merger dan Tantangan Margin
Capex AKR Corporindo (AKRA) Semester I-2026 Tembus Rp 546 Miliar
Harga Minyak Tembus US$ 97 per Barel Dipicu Kesepakatan Iran-Oman
MBMA Pertimbangkan Jual Saham di Bursa Hong Kong
IHSG Rawan Turun, Cek Rekomendasi Saham AKRA hingga MDKA

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 04:05 WIB

Rencana Kerja Kemenkeu 2027: Fokus pada Lima Program Prioritas

Selasa, 8 September 2026 - 19:00 WIB

Strategi Reksadana Saat Pasar Membaik untuk Investor

Selasa, 8 September 2026 - 17:45 WIB

Fortune Indonesia Investment Forum 2026 Bahas Strategi Investasi Global

Selasa, 8 September 2026 - 15:32 WIB

Analisis UBS untuk EXCL Usai Merger dan Tantangan Margin

Selasa, 8 September 2026 - 14:50 WIB

Capex AKR Corporindo (AKRA) Semester I-2026 Tembus Rp 546 Miliar

Berita Terbaru

Pemerintah menargetkan peningkatan utilitas industri pengolahan kopi nasional hingga mencapai 86,6 persen.

EKONOMI

Target Utilisasi Industri Kopi Indonesia Naik Jadi 86,6%

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:55 WIB