Meskipun demikian, tanggung jawab tetap berada pada pengelola layanan karena APS bertugas dalam area operasional stasiun.
Pihak BPKASS menyatakan bahwa evaluasi menyeluruh sedang berlangsung, termasuk penelusuran objektif terhadap kronologi dan sikap petugas.
Apabila terbukti melanggar standar etika pelayanan, maka sanksi tegas akan diberikan oleh perusahaan terkait.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bentuk pembinaan langsung pun diminta dilakukan secepat mungkin kepada petugas yang bersangkutan.
Sebagai langkah antisipatif, pelatihan ulang akan diwajibkan bagi semua petugas layanan stasiun di bawah koordinasi BPKASS.
Fokus pelatihan mencakup sikap ramah, etika pelayanan, dan penerapan prinsip hospitality yang lebih kuat kepada pelanggan.
Langkah ini diambil untuk mencegah insiden seperti kasus petugas KAI larang balita naik kereta kembali terulang di masa mendatang.
Peraturan Tiket Anak-Anak dalam Kebijakan Perjalanan KAI
Terkait kejadian ini, BPKASS juga menegaskan kembali bahwa setiap calon penumpang, termasuk anak-anak, wajib memiliki tiket perjalanan.
Aturan ini diterapkan bukan hanya demi administrasi, tetapi juga untuk menjamin keselamatan seluruh penumpang di dalam kereta.
Namun demikian, dalam implementasinya, pendekatan yang humanis dan bijak tetap harus dikedepankan oleh petugas di lapangan.
Insiden petugas KAI larang balita naik kereta memperlihatkan perlunya penyesuaian prosedur agar tidak kaku dan merugikan penumpang.
Penting juga bagi seluruh keluarga yang bepergian membawa anak kecil untuk memahami dan mematuhi aturan pembelian tiket sejak awal.
Keseimbangan antara kedisiplinan aturan dan sikap empatik dari petugas menjadi kunci layanan transportasi publik yang berkualitas.
Kesimpulan: Insiden Petugas Kereta Api Indonesia Menjadi Cerminan Perlunya Reformasi Pelayanan
Kisah keluarga Sri Ushwa di Stasiun Mandai menjadi bukti nyata bahwa pendekatan petugas KAI masih menyimpan banyak kekurangan dalam hal empati dan solusi.
Anak-anak seharusnya diprioritaskan dalam situasi darurat dan tak layak dijadikan objek penolakan yang dingin.
Penolakan terhadap balita tanpa solusi manusiawi menunjukkan perlunya pelatihan yang lebih menyentuh aspek psikologis dan komunikasi.
Kejadian ini seharusnya jadi titik balik bagi KAI untuk memperbaiki sistem pelayanan dan mendidik para petugas agar lebih ramah, fleksibel, dan profesional dalam menyikapi situasi di lapangan.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






