Redaksiku.com – Startup semikonduktor kecerdasan buatan asal Inggris, OLIX, mencuri perhatian setelah valuasinya melonjak lebih dari tiga kali lipat hanya dalam waktu sekitar enam bulan.
Perusahaan yang didirikan pada 2024 itu kini bernilai US$3,3 miliar, atau secara kasar setara sekitar Rp60 triliun, setelah mengamankan pendanaan Series B senilai US$312 juta.
OLIX mengumumkan putaran pendanaan terbarunya pada 3 Agustus 2026. Perusahaan mengatakan investasi tersebut akan digunakan untuk membawa chip AI pertamanya menuju pelanggan, memperluas platform semikonduktor khusus, serta memenuhi kebutuhan manufaktur dan rantai pasok sebelum produk komersial pertamanya dikirim.
Lonjakan valuasi itu sangat cepat. Pada Februari 2026, OLIX masih memiliki valuasi sedikit di atas US$1 miliar setelah memperoleh pendanaan sekitar US$220 juta. Enam bulan kemudian, nilainya telah mencapai US$3,3 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Valuasi OLIX Naik Tiga Kali Lipat
Pendanaan Series B terbaru menjadi tonggak besar bagi OLIX.
Dalam pengumuman resminya, perusahaan menyebut putaran investasi sebesar US$312 juta dilakukan pada valuasi US$3,3 miliar, hanya dua tahun setelah perusahaan berdiri di London.
Nilai tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan valuasi sekitar US$1 miliar yang dicapai OLIX pada pendanaan Februari 2026.
Jika dikonversikan secara kasar ke mata uang Indonesia, valuasi terbaru perusahaan berada di kisaran Rp60 triliun, tergantung kurs yang digunakan.
Kenaikan tersebut membuat OLIX menjadi salah satu startup chip AI asal Inggris yang paling cepat meningkatkan valuasinya di tengah persaingan global dalam membangun infrastruktur komputasi kecerdasan buatan.
Arm hingga Pendiri Netflix Ikut Suntik Modal
Putaran Series B OLIX didukung sejumlah nama besar.
Perusahaan menyebut investor baru dalam pendanaan tersebut mencakup Fundomo, Arm dan Hudson River Trading. Salah satu pendiri Netflix, Reed Hastings, juga ikut berinvestasi sebagai investor individu.
Investor lama seperti Hummingbird Ventures, Crane, Plural, Creandum, Phoenix Court dan Transition juga meningkatkan komitmen mereka.
Keterlibatan Arm menjadi salah satu hal yang menarik perhatian karena perusahaan asal Inggris tersebut merupakan salah satu pemain terpenting di industri desain semikonduktor global.
Data Center Dynamics juga melaporkan Sovereign AI venture fund milik pemerintah Inggris ikut mengumumkan investasinya pada OLIX.
Masuknya pemerintah memperlihatkan bahwa persaingan chip AI kini bukan sekadar bisnis antarkorporasi, tetapi mulai menjadi bagian dari strategi teknologi nasional.
OLIX Dibangun James Dacombe
OLIX didirikan di London pada 2024 oleh pengusaha teknologi muda James Dacombe.
Financial Times melaporkan Dacombe masih berusia 25 tahun ketika membawa perusahaan tersebut mencapai valuasi US$3,3 miliar.
OLIX sebelumnya dikenal sebagai perusahaan yang sangat tertutup dalam mengembangkan teknologi chip generasi barunya.
Dacombe juga merupakan pendiri dan CEO CoMind, startup teknologi pemantauan otak yang telah mengumpulkan pendanaan sekitar US$100 juta.
Namun OLIX kini menjadi bisnis yang jauh lebih besar dari sisi valuasi setelah ledakan kebutuhan komputasi untuk model AI.

Bukan Sekadar Membuat GPU Seperti Nvidia
Hal paling menarik dari OLIX adalah pendekatannya dalam menghadapi dominasi pemain seperti Nvidia.
Perusahaan tidak sekadar mencoba menciptakan GPU lain dengan spesifikasi yang lebih tinggi.
OLIX berpendapat cara industri membangun perangkat keras untuk AI inference mulai mencapai batas efisiensinya.
Inference merupakan tahap ketika model AI yang telah dilatih digunakan untuk memproses perintah pengguna dan menghasilkan jawaban.
Dalam chatbot AI, misalnya, proses inference berlangsung setiap kali pengguna mengirim pertanyaan dan sistem menghasilkan token sebagai respons.
OLIX menggambarkan pusat data AI sebagai sebuah “pabrik token”.
Menurut perusahaan, satu token membutuhkan ratusan operasi dengan karakteristik berbeda. Namun sistem AI konvensional umumnya meminta satu jenis chip serbaguna menjalankan banyak tahapan tersebut.
OLIX ingin mengubah pendekatan itu.
Setiap Tahap AI Dikerjakan Chip Khusus
Strategi OLIX adalah membangun serangkaian chip khusus yang masing-masing menjalankan bagian tertentu dari proses menghasilkan token.
Perusahaan mengibaratkannya seperti lini produksi sebuah pabrik.
Alih-alih satu mesin melakukan seluruh pekerjaan, setiap tahapan mempunyai mesin yang dirancang khusus untuk menjalankan tugasnya.
Platform tersebut dinamakan X-1.
Dalam sistem X-1, model AI didistribusikan ke banyak chip sehingga setiap chip dapat berfokus pada bagian tertentu dari model.
Meski dibuat khusus, OLIX mengatakan chip-chip tersebut tetap memiliki arsitektur komputasi fleksibel sehingga tidak terkunci pada satu model AI tertentu.
Konsep inilah yang diharapkan dapat meningkatkan kecepatan sekaligus menekan biaya menjalankan model AI dalam skala besar.
Pakai Cahaya untuk Menghubungkan Chip
OLIX juga menggunakan pendekatan berbeda untuk komunikasi antarchip.
Perusahaan membangun photonic interconnect, yaitu sistem yang memindahkan data dari satu chip ke chip lain menggunakan cahaya, bukan hanya sambungan berbasis tembaga seperti dalam arsitektur tradisional.
OLIX menyebut pendekatannya sebagai slow and wide optical interconnect.
Tujuannya adalah mengirimkan data dengan latensi sangat rendah sekaligus menekan penggunaan energi.
Dalam sistem AI berskala besar, komunikasi antarprosesor menjadi salah satu tantangan karena ribuan chip harus bertukar data dalam kecepatan sangat tinggi.
Semakin besar sebuah model, semakin besar pula kebutuhan bandwidth antarchip.
Karena itu, teknologi konektivitas optik menjadi salah satu area yang semakin diperhatikan industri semikonduktor AI.
Chip Pertama Bernama DX-1
Produk pertama dalam platform X-1 adalah chip bernama DX-1.
OLIX menyebut DX-1 sebagai decode accelerator, yakni chip yang dirancang untuk tahapan ketika model AI melakukan penalaran dan menghasilkan keluaran kepada pengguna.
Perusahaan mengklaim untuk model berukuran 100 miliar parameter, DX-1 dirancang mampu menghasilkan lebih dari 10.000 token per detik per pengguna pada konfigurasi tertentu.
Itu merupakan klaim performa yang disampaikan OLIX berdasarkan desain teknologinya.
Karena produk komersial pertamanya belum dikirim ke pelanggan, klaim tersebut belum sama dengan hasil pengujian independen terhadap produk produksi massal.
Diklaim Bisa Mendukung Model 10 Triliun Parameter
OLIX juga membuat klaim agresif mengenai skalabilitas platform X-1.
Arsitekturnya disebut mampu diperluas untuk menangani model AI dengan ukuran 10 triliun parameter atau lebih melalui sistem multi-rack.
Ribuan chip dapat dihubungkan dalam infrastruktur yang jauh lebih besar untuk menjalankan model frontier AI.
Data Center Dynamics menyebut OLIX merancang sistem agar hingga sekitar 10.000 chip dapat terhubung melalui domain multi-rack menggunakan interkoneksi optik.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa OLIX tidak berniat sekadar menjual satu chip.
Perusahaan ingin menyediakan sebuah sistem komputasi AI lengkap dalam bentuk rack.
Tak Bergantung pada HBM
Ada bagian lain yang membuat teknologi OLIX menarik di tengah kelangkaan komponen semikonduktor AI.
DX-1 dirancang untuk menyimpan model dalam memori SRAM berkecepatan tinggi yang berada pada chip.
OLIX mengatakan desain tersebut tidak membutuhkan High Bandwidth Memory atau HBM, komponen yang sangat penting bagi banyak akselerator AI modern.
HBM menjadi salah satu komponen yang permintaannya melonjak tajam seiring pertumbuhan pusat data AI.
OLIX juga mengatakan desainnya tidak membutuhkan advanced packaging yang kini menjadi salah satu bottleneck manufaktur chip berperforma tinggi.
Dengan menghindari dua komponen yang pasokannya paling terbatas itu, OLIX berharap bisa meningkatkan kapasitas produksi tanpa menghadapi tekanan rantai pasok sebesar rivalnya.
Ingin Membuat AI Lebih Murah
Pertarungan chip AI saat ini tidak lagi hanya mengenai kemampuan komputasi.
Biaya listrik dan biaya menjalankan model AI semakin menjadi perhatian perusahaan teknologi.
Model AI yang semakin kompleks membutuhkan lebih banyak komputasi untuk setiap pertanyaan pengguna.
OLIX percaya penggunaan chip khusus pada setiap tahapan inference bisa menghasilkan perubahan besar dalam performa dan biaya operasional AI.
Perusahaan juga mengembangkan sistem dari awal, mulai dari chip, laser hingga jaringan yang menghubungkan seluruh perangkat.
Produk akhirnya akan diberikan kepada pelanggan dalam bentuk rack lengkap untuk workload inference kelas berat.
Produk Pertama Baru Dikirim 2027
Meski valuasinya sudah mencapai miliaran dolar, produk OLIX belum dipasarkan secara luas.
Perusahaan menargetkan chip DX-1 mulai dikirim kepada pelanggan pertama pada semester kedua 2027.
Sebagian besar dana US$312 juta yang baru diperoleh akan digunakan untuk mencapai target tersebut.
Selain menyelesaikan DX-1, dana akan dipakai mengembangkan platform custom silicon yang lebih luas serta membiayai komitmen manufaktur dan rantai pasok yang dibutuhkan untuk produksi skala besar.
Artinya, valuasi tinggi OLIX saat ini masih sangat bergantung pada keyakinan investor terhadap kemampuan perusahaan mengeksekusi teknologi yang sedang dibangun.
OLIX Terus Rekrut Insinyur
Perusahaan juga sedang meningkatkan jumlah tenaga kerjanya.
OLIX membuka perekrutan pada bidang silicon, photonics, compiler dan systems engineering.
Tim perusahaan tersebar di sejumlah pusat teknologi, termasuk:
London
Bristol
Austin
Toronto
San Francisco.
Financial Times melaporkan OLIX telah memiliki lebih dari 140 pekerja ketika pendanaan terbaru diumumkan.
Ekspansi tersebut diperlukan karena membangun chip AI membutuhkan keahlian yang tidak hanya berasal dari sektor desain semikonduktor, tetapi juga optik, jaringan, perangkat lunak compiler dan sistem pusat data.
Tokoh Stanford Masuk Dewan Direksi
Bersamaan dengan pendanaan terbaru, OLIX mengumumkan masuknya Profesor Nick McKeown ke dewan direksi perusahaan.
McKeown merupakan Profesor Emeritus Ilmu Komputer dan Teknik Elektro di Stanford University serta salah satu tokoh penting dalam perkembangan teknologi jaringan modern.
Ia ikut menciptakan konsep software-defined networking, OpenFlow dan P4 serta memenangkan Marconi Prize 2025.
McKeown juga pernah mendirikan beberapa perusahaan teknologi.
Salah satunya adalah Nicira yang kemudian diakuisisi VMware, sedangkan Barefoot Networks dibeli Intel.
Kehadirannya memberi OLIX pengalaman tambahan dalam teknologi networking, bidang yang sangat berkaitan dengan arsitektur multi-chip perusahaan.
Mantan CFO Wise Ikut Bergabung
OLIX juga menunjuk Matt Briers sebagai Chief Financial Officer.
Briers sebelumnya menjabat CFO perusahaan teknologi finansial Wise selama sekitar sembilan tahun. Ia ikut membawa Wise dari perusahaan swasta menuju pencatatan saham langsung di London Stock Exchange pada 2021.
Masuknya CFO dengan pengalaman membawa perusahaan teknologi ke pasar modal menjadi perkembangan yang menarik.
Namun OLIX sejauh ini belum mengumumkan rencana IPO.
Karena itu, perekrutan Briers tidak serta-merta berarti perusahaan akan segera melantai di bursa.
Pemerintah Inggris Ikut Bertaruh pada OLIX
Kesuksesan OLIX juga mempunyai dimensi strategis bagi Inggris.
Pemerintah Inggris melalui Sovereign AI venture fund dilaporkan ikut berinvestasi pada perusahaan tersebut.
Menteri AI Inggris Kanishka Narayan menilai negara yang mempunyai kemampuan membangun chip akan mendapatkan posisi strategis dalam perkembangan teknologi AI. Pemerintah melihat OLIX sebagai salah satu perusahaan domestik dengan potensi mengembangkan teknologi chip terobosan.
Investasi itu terjadi ketika banyak negara berlomba mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan maupun rantai pasok semikonduktor dari negara lain.
Chip AI kini dipandang sebagai infrastruktur strategis yang setara pentingnya dengan pusat data, energi dan konektivitas.
Tantang Nvidia, tetapi Jalannya Masih Panjang
Lonjakan valuasi OLIX membuat perusahaan semakin sering disebut sebagai salah satu calon penantang di pasar chip AI.
Namun menyebut OLIX sudah menjadi pesaing langsung Nvidia dalam skala bisnis masih terlalu dini.
Nvidia telah mempunyai ekosistem perangkat keras, software, developer dan pelanggan pusat data yang sangat besar.
Sementara OLIX masih harus menyelesaikan desain produknya, memasuki tahap manufaktur, memastikan yield produksi, membangun perangkat lunak yang stabil dan membuktikan kinerja produknya kepada pelanggan.
Produk pertamanya juga baru ditargetkan dikirim pada semester kedua 2027.
Dengan demikian, nilai US$3,3 miliar yang diberikan investor mencerminkan ekspektasi terhadap potensi teknologi OLIX, bukan bukti bahwa perusahaan sudah menyamai skala bisnis Nvidia.
Investor Tetap Memburu Startup Chip AI
Pendanaan besar OLIX memperlihatkan minat investor terhadap perusahaan chip AI masih sangat kuat.
Kebutuhan inference terus meningkat karena penggunaan chatbot, agen AI, coding assistant dan layanan berbasis model generatif semakin luas.
Semakin banyak pengguna sebuah layanan AI, semakin besar jumlah token yang harus diproses pusat data.
Hal tersebut menciptakan peluang bagi startup yang mampu menawarkan komputasi lebih cepat atau lebih murah dibandingkan arsitektur yang tersedia saat ini.
Namun industri semikonduktor juga membutuhkan modal sangat besar.
Startup harus membayar biaya desain, manufaktur, pengujian, perangkat lunak, packaging hingga pembangunan rantai pasok sebelum mendapatkan pendapatan dalam skala besar.
OLIX kini memiliki tambahan US$312 juta untuk mencoba melewati tahap tersebut.
Dari US$1 Miliar Jadi US$3,3 Miliar dalam Enam Bulan
Perjalanan OLIX sepanjang 2026 cukup mencolok.
Pada Februari, perusahaan mengumpulkan US$220 juta dengan valuasi sekitar US$1 miliar.
Pada Agustus, OLIX kembali memperoleh US$312 juta dan valuasinya melonjak menjadi US$3,3 miliar.
Hanya dalam waktu sekitar enam bulan, valuasi startup tersebut lebih dari tiga kali lipat.
Kenaikan itu menunjukkan betapa besarnya ekspektasi investor terhadap teknologi yang dapat mengurangi biaya menjalankan model AI.
OLIX mempertaruhkan pendekatan yang berbeda dari chip general-purpose: chip khusus untuk setiap tahap inference, SRAM pada chip, dan photonic interconnect yang memindahkan data menggunakan cahaya.
Jika teknologi tersebut dapat diproduksi dalam skala besar dan memenuhi klaim performanya, OLIX berpotensi menjadi pemain baru yang diperhitungkan dalam infrastruktur AI.
Namun ujian sebenarnya baru akan dimulai ketika DX-1 sampai ke tangan pelanggan pada 2027.
Untuk saat ini, keberhasilan terbesar OLIX adalah meyakinkan investor untuk memberikan valuasi US$3,3 miliar atau sekitar Rp60 triliun kepada perusahaan yang baru berdiri dua tahun.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






