Raja Surakarta PB XIII Wafat, Keraton Yogyakarta Tiadakan Pentas dan Tidak Menabuh Gamelan

- Penulis

Senin, 3 November 2025 - 13:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Raja Surakarta PB XIII Wafat, Keraton Yogyakarta Tiadakan Pentas dan Tidak Menabuh Gamelan

Raja Surakarta PB XIII Wafat, Keraton Yogyakarta Tiadakan Pentas dan Tidak Menabuh Gamelan

Redaksiku.com – Duka mendalam menyelimuti dunia kebudayaan Jawa. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono XIII,Raja Surakarta, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Kabar duka ini menggema di dua keraton besar pewaris budaya Mataram, menandai berakhirnya satu babak penting dalam sejarah trah kerajaan Jawa.

Sebagai wujud penghormatan dan empati, Keraton Yogyakarta meniadakan seluruh kegiatan hiburan di lingkungan istana, termasuk pentas Paket Wisata Srimanganti yang rutin digelar untuk wisatawan. Selain itu, gamelan keraton juga tidak akan dibunyikan hingga prosesi pemakaman almarhum PB XIII selesai dilaksanakan.

Kabar Duka dari Surakarta

Sinuhun Paku Buwono XIII berpulang pada Minggu Pon, 2 November 2025, bertepatan dengan 11 Jumadilawal Dal 1959, dalam usia 77 tahun. Kepergian sang raja menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga besar Keraton Surakarta, tetapi juga bagi masyarakat luas yang menghormati perannya sebagai simbol penjaga tradisi dan nilai-nilai luhur budaya Jawa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kabar duka tersebut disampaikan secara resmi oleh Utusan Dalem dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kepada Keraton Yogyakarta pada Minggu sore (2/11/2025). Informasi ini dikonfirmasi oleh KRT Purwowinoto, Penghageng II Kawedanan Purwa Aji Laksana Keraton Yogyakarta.

Utusan Dalem diterima oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi dan GKR Bendara di Pendapa Ndalem Kilen, kompleks Keraton Yogyakarta, ujar KRT Purwowinoto dalam keterangan tertulis pada Senin (3/11/2025).

Surat resmi kabar duka itu disampaikan langsung kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai tanda penghormatan antarkeraton. Tradisi penyampaian kabar kemangkatan secara resmi ini merupakan bagian dari tata protokoler keraton yang dijaga turun-temurun, mencerminkan nilai kesopanan, tata krama, serta penghargaan yang tinggi antarpusat budaya Jawa.

Rencana Pemakaman di Pajimatan Imogiri

Jenazah almarhum PB XIII dijadwalkan akan dimakamkan di Pajimatan Imogiri, kompleks pemakaman para raja Mataram yang berada di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 5 November 2025.

KRT Purwowinoto menjelaskan bahwa pihak Keraton Yogyakarta masih menunggu dhawuh (perintah) dari Ingkang Sinuwun Hamengku Buwono X terkait siapa yang akan ditugaskan untuk mewakili keraton menghadiri prosesi pemakaman tersebut. Kami menanti dhawuh dari Ngarsa Dalem mengenai siapa yang akan diutus melayat, ujarnya.

Sebagai bentuk duka cita mendalam, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga mengirimkan karangan bunga ke Keraton Kasunanan Surakarta. Tindakan simbolik ini menegaskan hubungan kultural yang erat antara dua keraton bersaudara, meski telah berdiri sendiri sejak masa kolonial.

Raja Surakarta PB XIII Wafat, Keraton Yogyakarta Tiadakan Pentas dan Tidak Menabuh Gamelan
Raja Surakarta PB XIII Wafat, Keraton Yogyakarta Tiadakan Pentas dan Tidak Menabuh Gamelan

Keraton Yogyakarta Hentikan Aktivitas Budaya Sementara

Dalam tradisi keraton Jawa, penghormatan terhadap raja atau bangsawan yang wafat diwujudkan dalam bentuk penghentian sementara kegiatan seni dan hiburan. Karena itu, Keraton Yogyakarta memutuskan meniadakan pentas wisata Srimanganti dan tidak menabuh gamelan hingga prosesi pemakaman selesai.

Pentas Srimanganti sendiri merupakan program wisata budaya yang rutin digelar di Bangsal Srimanganti, menampilkan tari-tarian klasik dan tabuhan gamelan khas Yogyakarta. Pementasan ini biasanya menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin menyaksikan seni tradisional secara langsung di lingkungan keraton.

Namun, demi menghormati wafatnya Sinuhun Paku Buwono XIII, seluruh aktivitas tersebut dihentikan sementara. Kebijakan ini menunjukkan betapa tinggi nilai unggah-ungguh (tata krama) dalam budaya Jawa, khususnya dalam konteks hubungan antarkeraton.

Mangkunegoro X Melayat ke Keraton Surakarta

Duka yang sama juga dirasakan oleh KGPAA Mangkunegoro X, penguasa Pura Mangkunegaran Surakarta. Ia turut hadir melayat jenazah PB XIII di Sasana Parasdya, kompleks Keraton Kasunanan Solo, pada Minggu malam (2/11/2025).

Mangkunegoro X datang lebih awal sebelum kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang juga hadir memberi penghormatan terakhir. Setelah prosesi melayat, keduanya meninggalkan kompleks keraton bersama dan diantar oleh Putra Mahkota KGPAA Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram.

Dalam pernyataannya kepada media, Mangkunegoro X menyampaikan belasungkawa mendalam atas berpulangnya PB XIII. Saya secara pribadi dan mewakili keluarga besar Dalem Mangkunegaran, turut berduka cita yang sangat dalam atas berpulangnya Ir. Sinuhun Paku Buwono XIII, ujarnya dengan nada haru.

Sosok Pemimpin yang Dihormati

Bagi Mangkunegoro X, mendiang PB XIII bukan sekadar sosok pemimpin keraton, melainkan juga pribadi yang tangguh, bijaksana, dan menjadi teladan bagi banyak pihak. Beliau seorang pemimpin yang tangguh, arif, dan menjadi contoh yang baik bagi saya secara pribadi. Kami di lingkungan keraton berkomitmen untuk terus saling mendukung dan menjaga hubungan baik, tuturnya.

Ucapannya menggambarkan betapa PB XIII dihormati di antara para pemangku budaya Jawa. Di bawah kepemimpinannya, Keraton Kasunanan Surakarta berusaha menjaga marwah budaya tradisional, sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Meski dihadapkan pada dinamika internal dan tantangan modernisasi, PB XIII tetap konsisten menempatkan keraton sebagai pusat pelestarian budaya dan spiritualitas Jawa.

Simbol Persaudaraan Dua Keraton

Relasi antara Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta memang memiliki akar sejarah panjang sejak perjanjian Giyanti tahun 1755, yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua entitas. Meski secara politik dan administratif telah terpisah, keduanya tetap memiliki ikatan genealogis dan budaya yang kuat.

Setiap kali salah satu keluarga kerajaan mengalami peristiwa penting baik kebahagiaan maupun kedukaan keraton lainnya akan menyampaikan penghormatan melalui upacara resmi. Tradisi ini menjadi bentuk komunikasi kultural yang mempererat hubungan dua trah besar keturunan Mataram.

Dalam konteks ini, keputusan Keraton Yogyakarta untuk meniadakan kegiatan budaya bukan hanya bentuk belasungkawa, tetapi juga simbol persaudaraan luhur antara dua istana yang sama-sama menjadi penjaga warisan Nusantara.

Warisan Budaya dan Spirit Kepemimpinan

Kepergian PB XIII menyisakan jejak panjang bagi perjalanan budaya Jawa modern. Ia dikenal berperan aktif dalam upaya pelestarian adat dan seni tradisional, termasuk mendukung berbagai kegiatan kebudayaan di wilayah Surakarta.

Di mata banyak pihak, almarhum juga menjadi figur pemersatu di tengah perbedaan pandangan internal keraton. Ketegasannya dalam menjaga tatanan adat dan kebijaksanaannya dalam memimpin menjadikannya sosok yang dihormati tidak hanya di lingkup keraton, tetapi juga di mata pemerintah dan masyarakat luas.

Kini, masyarakat menantikan kelanjutan kepemimpinan di Keraton Kasunanan Surakarta pasca wafatnya PB XIII. Sementara itu, penghormatan dari berbagai pihak mulai dari kalangan bangsawan, pejabat negara, hingga masyarakat menunjukkan betapa besar pengaruh dan jasa beliau dalam menjaga eksistensi budaya Jawa.

Penutup: Duka yang Menyatukan

Wafatnya Sinuhun Paku Buwono XIII bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Keraton Surakarta, tetapi juga duka bersama bagi seluruh masyarakat Jawa yang mencintai warisan budayanya.

Melalui keputusan Keraton Yogyakarta untuk meniadakan pentas dan tidak menabuh gamelan, nilai luhur saling menghormati antartrah Mataram kembali ditunjukkan. Dalam suasana duka, kedua keraton besar ini memperlihatkan keteladanan: bahwa budaya Jawa sejatinya adalah tentang rasa, hormat, dan kebersamaan.

Ikuti berita viral dari Redaksiku di Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Penulis : Redaksiku

Editor : Redaksiku

Sumber Berita: Berbagai sumber

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

‎10 Cara Mencegah Kebakaran Hutan, Ini Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan agar Tidak Meluas
Istilah Dasarian Viral di Media Sosial, Ternyata Ini Artinya Menurut BMKG
Viral Rekening Aktivis Pati Diblokir, Bagaimana Nasib Saham Bank Mandiri BMRI?
Maulid Nabi Muhammad SAW: Sejarah, Tradisi, dan Makna Penting bagi Umat Islam
Aduh! Retribusi Leang-Leang Rp1,36 Miliar, Misteri dalam Catatan BPK
Viral Sungai Barito Berubah Seperti Gurun, Ternyata Ini Faktor Penyebabnya
KKB Sandera 9 Perempuan di Papua, Operasi Besar Dilakukan untuk Bebaskan Korban
Kolom Komentar Bank Mandiri Ramai Diserbu Nasabah, Keluhan Layanan Jadi Sorotan

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:49 WIB

‎10 Cara Mencegah Kebakaran Hutan, Ini Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan agar Tidak Meluas

Senin, 24 Agustus 2026 - 21:56 WIB

Viral Rekening Aktivis Pati Diblokir, Bagaimana Nasib Saham Bank Mandiri BMRI?

Senin, 24 Agustus 2026 - 21:42 WIB

Maulid Nabi Muhammad SAW: Sejarah, Tradisi, dan Makna Penting bagi Umat Islam

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:37 WIB

Aduh! Retribusi Leang-Leang Rp1,36 Miliar, Misteri dalam Catatan BPK

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Viral Sungai Barito Berubah Seperti Gurun, Ternyata Ini Faktor Penyebabnya

Berita Terbaru