Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 18)

- Penulis

Minggu, 27 Oktober 2024 - 09:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 18)

Kenyataan pahit dengan bukti nyata yang tak pernah terpikirkan, bagaikan gelegar petir yang menyambar di siang bolong. Gadis pujaan hati tempat cintanya berlabuh, dengan semena-mena menghancurkan reputasinya. Berita ini telah menampar wajahnya, dan membuatnya merasa kotor dan hina.

 

Toni mengarahkan mobilnya ke jalan arah pulang ke rumah. Cintanya yang begitu besar membuatnya sulit berpikir jernih. Toni minggir dan berhenti untuk memutar ulang rekaman CCTV. Harapannya, wanita dalam rekaman itu bukanlah Erlika, tapi wanita lain yang mirip dengannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Matanya melotot, wajah kemerahan, rahang mengatup erat, darahnya bergolak cepat naik ke ubun-ubun, membuat kepala pusing, pandangan pun berkunang-kunang. Ternyata wanita itu memang dia, Erlika, pujaan hatinya. Waktu dan tanggalnya persis sama, tidak bergeser sedetik pun, dia benar-benar memberikan bungkusan bubuk obat untuk dicampurkan ke dalam minumannya.

 

Dengan kemarahan yang memuncak Toni melempar ponsel ke kursi sebelah, dia telungkup di stir mobil lalu menangis. Kondisi Ratih yang sangat hancur akibat perbuatannya, telah memporak-porandakan hatinya. Hancur berkeping seperti dilibas badai.

 

Seharian ini bersama pujaan hatinya, pikirannya tenang, hatinya gembira, beban yang ditanggungnya seakan sirna. Saat itu hanya ada kebahagiaan. Kebahagiaan dan keceriaan hari ini bersama tunangannya lenyap begitu saja berganti kemarahan dan sakit hati karena pengkhianatan wanita pujaannya. Dia masih tidak percaya Erlika setega ini padanya.

 

Setelah tenang, dia mengeringkan wajahnya. Dia mulai ragu dengan keputusannya untuk pulang ke rumah. Pikirannya berkecamuk berubah-ubah. Selintas ingatan akan kesehatan mamahnya mampu menguatkan hatinya untuk pulang. Toni tancap gas menuju rumah, tempat teraman dan ternyaman baginya.

 

Toni masuk ruang keluarga, papah dan mamahnya sedang melihat acara humor di salah satu stasiun televisi swasta, dalam diam. Wajah keduanya sulit diterka. Sesekali kilau bening duka bergulir dari sudut matanya yang mulai menua. Suasa sangat kontras dengan di layar TV. Humor-humor lucu tak mampu menyapu kesedihan, kemarahan sekaligus penyesalan kedua pasangan paruh baya ini. Hati Toni seperti diiris-iris sembilu. Melihat putranya baru pulang Barman menyambut dengan dingin. Mamahnya hanya memandang dengan kecewa.

 

Inget pulang? sindir papahnya.

 

Toni tidak menyahut, dia berlutut di depan orang tuanya sambil menangis meminta maaf. Toni menceritakan kejadian malam itu tanpa menyinggung perjanjian yang dibuat bersama Ratih. Justru adanya perjanjian itu yang membuatnya semakin terpuruk dalam penyesalan. Barman dan Ninit saling pandang.

 

Jadi kamu menidurinya dengan brutal? Keterlaluan sekali, kamu Ton! Kamu barbar Ton, biadab sekali! Sudah belajar sampai benua lain, tapi kamu masih tidak beradab! Memalukan sekali! Barman mendengus kesal dan kecewa mendapati putranya yang telah berbuat keji pada istrinya.

 

Toni nggak sadar, Pah.

 

Tapi kau keterlaluan sekali, sambar mamahnya sedih, dia merasa gagal sebagai seorang ibu.

 

Selama ini kami memang tidak melakukan hubungan apa pun. Kami tidur terpisah, lanjut Toni memecah kesunyian.

 

Jadi, di mana Ratih tidur? tanya Ninit kaget.

 

Aku yang tidur di sofa ruang kerjaku, jelas Toni. Barman hanya geleng-geleng kepala sambil memijit keningnya. Matanya memerah berkaca-kaca.

 

Lalu semalam kamu kemana? Papah sama Mamah ingin tahu keadaan di sana. Ayahmu pasti masih syok. Dari jawaban-jawaban yang lugas saat bicara di telpon, sepertinya marah karena kita tidak segera mencari. Ton, kamu memang ndak bisa diandelin. Papah sempat percaya padamu kalau kamu sudah mencari detektif, tapi apa hasilnya?

 

Aku tidak berhasil menghubunginya. Toni menjawab dengan enteng tanpa beban.

 

Kamu tolol sekali. Kamu cuma telpon? Memang kamu sudah kenal? Bukannya dateng. Memang kita bayar jasanya, tapi kita yang butuh! Hari ini seharian kamu kemana? Kamu tidak masuk kantor; dihubungi tidak bisa; kemana hati nuranimu, Ton! Istrimu pergi, dari sebelum subuh menggelandang sampe sore. Dia ditemukan orang dalam keadaan nggak sadar. Bukannya nungguin, malah pergi!

 

Toni tidak mampu menjawab. Dia hanya menunduk. Ketiganya terdiam. Mamah dan papahnya sangat syok. Mereka miris merasakan penderitaan menantunya karena ulah putranya. Mereka makin kecewa ternyata putra mereka tidak berusaha mencari Ratih. Ninit benar-benar kecewa pada putra semata wayangnya. Dia merasa sangat bersalah atas kejadian ini.

 

Pantas saja Ratih tidak boleh dibesuk! gumam Ninit lirih, dengan perasaan campur aduk.

 

Papah hampir tidak bisa membesuknya! Kami hanya ketemu bundamu itu pun di luar kamar. Ayahmu benar-benar marah dan tersinggung. Dia tidak mau menemui kami. Ton, kamu telah menghancurkan persahabatan yang sudah puluhan tahun terjalin, hanya karena seorang perempuan! Papah tidak bisa mentolerir lagi. Perempuan itu harus dipecat!

 

Papah kenal? tanya Ninit kaget.

 

Dia karyawan hotel kita!

 

Toni bungkam pikirannya ruwet seperti benang kusut, ditambah kebuntuan akal sehatnya, dia ingin menghilang. Di kedalaman hatinya ada sebintik cahaya terang yang perlahan membesar. Lamat-lamat Toni merasakan kembali masa-masa kecil dahulu. Dia senang sekali punya adik perempuan yang cantik. Dia akan menangis kalau Ratih pulang.

 

Sesuatu berkelebat di benaknya, terdengar sebuah bisikan. Ingat Toni, dia telah merampas kasih sayang orang tuamu!

 

Toni berjengit, itu sudah berlalu! Sekarang dia istriku, tanggung jawabku! gumamnya dalam hati. Pertarungan batin terus berkecamuk, akhirnya ¦

 

Sudah, diaaam! teriaknya. Pah, tolong Toni ¦, bisiknya lirih, lalu terkulai.

 

Toni ¦, jerit kedua orang tuanya bersamaan. Barman membantu Toni berdiri dan memapahnya ke kamar tidur utama. Ninit menyusul masuk, setelah menyuruh Isah membuatkan teh hangat.

 

Ton, istirahatlah. Kau harus tau, Papah dan Mamah selalu ada untukmu! Bagaimanapun semua sudah terjadi. Sekarang hadapi dengan otak jernih! Jadilah laki-laki seutuhnya. Laki-laki sejati! Barman menguatkan hati putranya.

 

Ninit mengambil piyama suaminya, diberikan kepada Toni, minumlah, lalu ganti baju. Tidurlah di sini, kita tidur bertiga, kata Ninit tersenyum lembut, menenangkan.

 

Iya Ton. Tidur bertiga seperti saat kamu kecil. Bukan karena kamu takut, tapi memang kamarnya cuma satu, sahut Barman geli. Ketiganya tertawa.

 

Malam itu Toni tidur di kasur lipat yang di gelar di samping tempat tidur orang tuanya. Rasa aman dan nyaman membuatnya cepat terlelap. Napas Barman terdengar halus teratur, menandakan suami Ninit itu sudah nyenyak. Tinggal Ninit yang masih gelisah. Bolak balik ganti posisi, dihantui oleh perasaan bersalah, dia pun menyalahkan penyakitnya. Kemudian berbalik membelakangi suaminya, menarik guling, lalu memeluknya.

 

Andai saja aku sehat, mungkin pernikahan mereka tidak terjadi. Mereka bahagia dengan pilihan masing-masing, bisiknya lirih menyesali diri. Suatu ingatan melintas, dia langsung berjengit.

 

Ratih, Ratih mau sekolah ke Jerman! Dengan kondisi seperti itu, pasti dia batal pergi. Dia pasti sangat membenci Toni, dan mungkin membenci kami. Hari itu rencananya Ratih mau ke kampus mengambil surat-surat untuk keperluan keberangkatan dan studinya di Jerman, gumamnya lirih. Ninit mengembuskan napas dalam keluhan.

 

Ratih sayang, putri cantikku. Putri kesayangan Mamah ¦. lanjutnya lirih sambil menyembunyikan wajahnya di guling, air bening di matanya makin membanjir. Maafkan Mamah, Sayang, jeritnya dalam hati, tangis pilu pun mengiringi.

 

Malam yang sunyi, di dalam kamar yang senyap. helaan napas dan desis pendingin yang mengisi kesunyian. Ninit mengambil napas panjang, mengeluarkannya perlahan, diulanginya sampai dadanya terasa lapang. Dia teringat nasehat dokternya, untuk mengelola perasaannya. Kondisi jantungnya sangat peka terhadap tekanan perasaan.

 

Di dalam hatinya timbul tekad untuk membantu Ratih melakukan penyembuhan. Untuk itu dia harus tahan banting seperti Arum, sahabatnya. Kehidupan nyaman saat ini, menurunkan daya tahan tubuhnya. Entah bagaimana caranya, dia harus berusaha agar putranya bertanggung jawab pada pernikahannya. Ratih tidak boleh menjadi janda, dan dia juga tidak mau putranya menikahi perempuan yang telah mempermalukan keluarga Sumbogo.

 

Sementara itu, selama di rumah sakit, Ratih berjuang dengan rasa sakit dan trauma yang mendalam. Dia tidak ingin bertemu dengan siapapun, terutama Toni, yang baginya hanya menyisakan kenangan pahit. Sampai saat ini, setiap kali nama Toni disebut, amarahnya langsung membara, tubuhnya mengejang, rahangnya mengatup erat dengan gigi menggeletuk.

 

Psikolog yang mendampinginya berusaha membantu untuk menghadapi trauma tersebut. Guru spiritualnya, ustazah pengajian masjid Unsoed, juga rutin mengunjungi Ratih. Walaupun perlahan, kondisi mental Ratih mulai membaik. Dosis obat juga berkurang. Kontribusi yang sangat besar dalam pemulihan kesehatan Ratih adalah dukungan dari ayah dan bundanya. Keduanya tidak pernah meninggalkannya sendiri, terutama ayahnya.

 

Kecanggihan teknologi membantu Rangga mengoperasikan perusahaan dan memonitor proyek-proyeknya. Semua bisa dilakukan secara online. Sekretarisnya yang mumpuni, mondar-mandir antara kantor dan rumah sakit. Terlintas keinginan untuk menarik putra sulungnya pulang untuk membantunya.

 

Diam-diam Barman mengutus Manajer Keuangan untuk mengurus pembayaran tagihan rumah sakit. Pembayaran uang muka yang telah dikeluarkan oleh keluarga besan, dikembalikan kepada Arum.  Barman juga berpesan untuk menyampaikan, jika biaya pengobatan Ratih adalah tanggung jawab Toni.

 

Selama Ratih dirawat, Ninit rutin datang membesuknya, meskipun di awal mendapat penolakan. Berkat guru spiritualnya, kekerasan hati Ratih luruh. Ninit yakin suatu saat nanti menantunya, putri cantiknya dapat memaafkan Toni, suaminya.

 

Kondisi Ratih memberi kekuatan pada Ninit untuk melawan kerapuhannya dan memupuk tekadnya untuk sehat. Memantik api harapan untuk hidup sehat demi rumah tangga Toni, putra semata wayangnya. Semuanya sudah terjadi, merupakan takdir yang harus disyukuri dan dijalani. Life must go on. Apalagi, menantunya masih belum bersedia menemui putranya. Tekadnya semakin bulat.

 

***

 

Di sebuah kafe kecil yang terletak di tengah persawahan, kafe yang sedang viral saat ini, Toni duduk sendirian dengan secangkir kopi panas di depannya. Pengunjung yang cukup banyak, musik life yang memanaskan udara dingin, menjadikan suasana kafe menjadi hangat.

 

Keberadaan Toni di kafe membuat suasana hatinya menjadi sedikit lebih hidup meski sedang dirundung duka. Perpisahan dengan kekasihnya, Erlika, beberapa minggu lalu masih menyisakan rasa pahit yang sulit untuk dilupakan. Apa lagi Ratih, istrinya, masih belum bersedia bertemu dengannya. Malam itu, Toni ingin melupakan semua masalahnya, setidaknya untuk sementara.

 

Angannya kembali ke peristiwa beberapa minggu yang lalu. Dengan bukti hasil rekaman CCTV yang memalukan, dilanjutkan tindakan brutal sangat mengerikan, telah membulatkan tekad Toni memutuskan untuk membatalkan pertunangan, sekaligus memutus hubungan dengan Erlika. Dia kini menyadari telah salah menaruh hati.

 

Malam itu, Toni pergi mencari Erlika, ke tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi berdua. Ia menemukannya di sebuah resto tempat mereka bertunangan dulu. Melihat kehadirannya, wajah Erlika langsung pucat dan matanya penuh dengan ketakutan.

 

Erlika sudah diberitahu oleh Pramusaji suruhannya jika perbuatan mereka terekam kamera CCTV. Pramusaji tersebut mengancam jika sampai dia dipecat dari pekerjaannya, dia akan melaporkan kepada bosnya dan membongkar kejahatan Erlika kepada CEO Group ANCALA hotel tempat Erlika bekerja.

 

“Mas Toni, aku ¦” Erlika mencoba menjelaskan, tetapi Toni sudah tidak bisa menahan amarahnya.

 

“Kau telah menghancurkan hidupku, Lika! Kenapa kau melakukannya?” Suara Toni bergetar, mengandung rasa sakit dan kemarahan yang mendalam.

 

Erlika terdiam, air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku tidak bermaksud melakukan itu, Mas. Aku hanya … aku merasa kau menjauh dariku. Aku hanya ingin memilikimu dan kau tetap di sisiku. Aku tidak ingin kehilanganmu, Mas.”

 

Kau masih juga tidak memercayaiku? Ingat Lika, ini kesalahan yang ketiga kalinya. Kesalahan yang paling fatal! kata Toni dengan tegas.

 

Aku sangat mencintaimu, Mas, rintih Erlika memelas.

 

Toni merasa hatinya hancur. Semua kenangan indah bersama Erlika kini ternodai oleh tindakan egois tunangannya yang telah menghancurkan hidup Ratih, istrinya. “Ini bukan cinta, Lika. Ini adalah ambisi untuk memiliki. Aku tidak bisa lagi bersamamu.”

 

Erlika meraih tangan Toni, “Mas, aku mohon … beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan memperbaikinya.”

 

Namun, Toni menarik tangannya. “Tidak, Lika. Ini sudah berakhir. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan. Semua ini adalah akibat dari perbuatanmu.”

 

Dengan langkah berat, Toni meninggalkan Erlika di tempat itu. Ia tahu bahwa ia harus melanjutkan hidup meski semua yang terjadi terasa seperti mimpi buruk. Dia telah salah melabuhkan cintanya. Dengan tekad baru, ia berusaha untuk memperbaiki hidupnya dan memupuk rasa kasih sayang terhadap istrinya yang mulai bersemi.

 

Sementara itu, Arum dan Ninit bahu membahu memulihkan putri kesayangan mereka. Melihat kegigihan Ninit yang tampak makin sehat, meluruhkan kemarahan Rangga. Hubungan kedua keluarga semakin mengalir.

 

Perlahan-lahan kesehatan Ratih pulih. Dia mulai menyadari tugasnya sebagai seorang istri. Ustazah menyarankan Ratih kembali ke rumah suaminya, tempat terbaik yang diridhai Allah. Secara fisik dia sudah dinyatakan sehat. Psikolog juga merekomendasi kesehatan mental Ratih sudah stabil. Ayah dan bundanya menyetujui setelah kedua mertuanya menjamin keamanan lahir dan batin menantunya.

 

Ratih pulang ke rumah suaminya. Dia mulai pasrah kepada nasibnya yang kelak, sesuai perjanjian, akan menjadi janda. Dia yakin masih punya masa depan. Ayahnya berjanji jika memang putrinya menghendaki perceraian, Rangga akan mendukungnya. Dia juga akan membiayai pendidikan putrinya di mana pun Ratih inginkan.

 

Barman dan Ninit berjanji akan menjaga dan membahagiakan menantunya dengan sebaik-baiknya. Keduanya kemudian, merancang jalan-jalan seperti yang diimpikan Ninit selama ini, tour ke Turki. Mereka akan bepergian bersama, satu keluarga. Mereka berempat akan jalan-jalan sekalian healing dan merekatkan kedua hati pasangan muda itu. Barman dan Toni mengambil cuti panjang.

 

Keduanya, Papah dan Mamah, akan memamerkan kemesraan mereka di hadapan Ratih. Toni sudah didoktrin untuk menunjukkan kasihnya kepada istrinya. Toni diminta untuk belajar mencintai istrinya dan berusaha menjadikan Ratih sebagai pendamping hidupnya.

 

Pelan-pelan Ton, ingat pepatah jawa, alon-alon asal kelakon. Witing trisno jalaran soko kulino. Apalagi kalian sudah saling kenal. Asal kamu selalu disamping istrimu, cinta akan tumbuh sendiri! pinta Ninit. Tanpa komentar Toni mengangguk menyanggupi.

 

Aku akan berusaha! janjìnya dalam hati.

 

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Internasional

Rusia Hadapi Krisis BBM, Mengapa Pasokan Energi Dunia Ikut Waspada?

Rabu, 26 Agu 2026 - 22:53 WIB