Novel : Room for Two Bab 10: Buah yang Jatuh Tidak Jauh dari Pohonnya

- Penulis

Rabu, 13 November 2024 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Room for Two Bab 10 Karya Bumban Dafnah

Room for Two Bab 10 Karya Bumban Dafnah

Novel : Room for Two Bab 10: Buah yang Jatuh Tidak Jauh dari Pohonnya

Room for Two Bab 10 Karya Bumban Dafnah
Room for Two Bab 10 Karya Bumban Dafnah

Sudah kuputuskan, aku tidak akan melakukan apa-apa untuk menghibur Reivan. Lebih tepatnya, aku tidak bisa. Aku tidak terpikir harus melakukan apa. 

Reivan tidak pernah benar-benar terbuka kepadaku tentang kesulitannya, jadi aku pun tidak tahu harus melakukan apa untuk membuatnya merasa lebih baik. Beda dengan Alston. Kekasihku itu selalu terang-terangan mengungkapkan apa yang ia butuhkan. Katakan saja uang tunai, uang makan, uang kosankarena perantau, Alston menyewa sebuah kamar kos selama tinggal di Bandung.

Hal yang paling baik yang bisa kulakukan untuk meringankan beban pikiran Reivan adalah dengan tidak bertanya apa-apa. Dengan begitu aku akan merasa ia baik-baik saja, sampai suatu ketika, aku malah menciptakan bencanaku sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku benar-benar tidak ingat, berapa pastinya uang yang kuhabiskan untuk kebutuhanku. Maksudku, tiap kali Alston meminta, aku akan langsung memberinya uang tanpa pikir panjang. Dan itu sudah berlangsung selama kurang lebih satu bulan. 

Tidak ada masalah yang terjadi, setidaknya menurutku begitu, hingga Bu Nawang, ibunya Reivan, mengajakku belanja bulanan. Ajakan itu disampaikan oleh Bu Lia secara langsung di depan Reivan.

Hari ini Bu Lia enggak belanja, ya, Neng. Ibu tadi telepon, katanya mau ngajakin Neng Ishana belanja.

Hari itu hari Minggu. Reivan baru saja pulang dari kegiatan lari pagi dan aku baru beres sarapan.

Kok, ibumu enggak telepon aku, sih?

Reivan menggeleng sambil mengeringkan keringat yang membasahi kening dan lehernya menggunakan handuk kecil. Ke saya juga enggak bilang apa-apa, katanya. Kapan Ibu telepon, Bu?

Tadi subuh, Mas. Tadi Ibu tanya mau masak apa, terus Bu Lia bilang, ˜belum tahu, Bu, Bu Lia mau lihat kulkas dulu ada sayur apa™. Terus taunya Ibu bilang, ˜Belum belanja? Ya udah, biar saya aja yang belanja sama mantu™, gitu katanya.

Benar saja, Bu Nawang datang tepat pukul sembilan pagi sambil menyetir mobilnya sendiri. Yang lebih mengejutkan lagi, ia malah memintaku duduk di kursi penumpang.

Ibu sehat, kok, masih bisa nyetir sendiri, jawabnya ketika aku meminta bertukar posisi.

Kami berbelanja ke supermarket yang terletak di jalan Riau. Aku, yang tidak paham harus belanja apa karena tidak tahu stok apa yang harus ditambah berapa, mengambil bahan makanan apa pun yang kupikir harus kusediakan di rumah. Aku harus bisa meyakinkan Bu Nawang bahwa selama jadi istri Reivan, aku cukup bisa diandalkan.

Banyak banget, Na. Memangnya siapa yang sering makan mi? tanya Bu Nawang ketika melihatku memasukkan masing-masing sepuluh bungkus mi rebus dan mi goreng instan ke dalam troli.

Buat cadangan aja, Bu.

Kalau buat cadangan jangan banyak-banyak, Na, sebab Reivan, kan, enggak suka mi. Bu Lia juga enggak, nanti paling kamu sama Dewi yang makan. Enggak sehat, lho, apalagi kalau kamu sama Reivan lagi program mau punya anak, enggak bagus buat kesuburan.

Aku tersenyum tawar sambil mengembalikan beberapa bungkus mi ke raknya.

Reivan itu enggak pernah Ibu izinkan makan mi, jelas Bu Nawang tanpa kuminta. Ibu sempat kesusahan bikin dia lupa sama enaknya rasa mi instan, soalnya dulu dia terbiasa dikasih makan mipagi, siang, malamsama ibunya. Syukurlah sejak tinggal sama Ibu lama-kelamaan dia bisa berhenti juga dari kebiasaan enggak sehat itu.

Memangnya Reivan ikut Ibu dari umur berapa? Aku mengambil kesempatan itu untuk menggali masa lalu suamiku.

Bu Nawang berjalan mendorong trolinya sambil menatapku penuh tanda tanya. Kedua matanya yang berhias eye liner hitam dan eye shadow cokelat seakan-akan menelanjangiku. Memangnya Reivan enggak pernah cerita?

Aku menggeleng.

Dasar anak itu. Padahal sama istri sendiri, tapi gengsinya masih aja tinggi, gumamnya sambil tertawa kecil. 

Saat itu aku terkagum-kagum melihat ibu mertuaku yang tampak awet muda. Antara ia pandai merawat diri atau mahir merias wajah, aku ingin terlihat sepertinya ketika kelak tiba di usia senja.

Kami lalu berhenti di rak minyak goreng. Reivan ikut Ibu dari umur sepuluh tahun. Waktu itu dia masih kelas empat SD. Masa kecilnya sulit. Kamu pasti belum tahu, ya?

Lagi-lagi aku menggeleng. Reivan memang tidak pernah bercerita apa-apa kepadaku. Lalu, mengalirlah kisah itu dari mulut Bu Nawang. Ia mengawalinya dengan menceritakan keluarga Reivan yang sebenarnya.

Dulu Ibu punya pembantu, Suci namanya. Dia itu ibu kandungnya Reivan. Kerjanya bagus, orangnya rajin, tenaganya kepakai banget sama Ibu. Dia tinggal di kampung belakang kompleks rumah Ibu, jadi dia bisa pulang pergidatang pagi, pulangnya siang atau sore. Kadang-kadang dia bawa anak-anaknya ke rumah, Reivan sama Resti, adiknya.

Aku terkesiap. Reivan punya adik?

Pernah punya, kata Bu Nawang sembari menyibak rambutnya yang dipotong pendek ala polwan.  Adiknya meninggal, ibunya juga. Gara-gara bapaknya.

Maksudnya?

Mereka meninggal karena dibakar sama bapaknya Reivan. Cuma Reivan yang selamat.

Untuk sebuah tragedi yang mengerikan, menurutku kalimat tadi benar-benar terlalu vulgar dan tak berperasaan. Jujur, aku syok mendengarnya. Jika ada cermin, kupastikan warna wajahku pucat seperti mayat.

Bapaknya Reivan, Rahmat namanya, dia itu sopir angkot. Sudahlah dia tukang mabuk, tukang judi, tukang KDRT pula. Lengkap pokoknya. Sudah berkali-kali suami Ibu marah karena Rahmat sering kasar sama Suci dan anak-anaknya. Bapak bahkan pernah sampai menjarain dia satu kali, buat syok terapi. Tapi memang dasar wataknya kasar, keluar dari penjara dia kayak gitu lagi. Enggak kapok.

Waktu itu Suci tumben-tumbenan enggak datang ke rumah Ibu, enggak ada kabar juga. Tiba-tiba, sekitar jam sebelas, Reivan ngetuk pintu sambil nangis-nangis. Ibu masih ingat dia cuma pakai kaus dalam sama celana pendek, enggak pakai sendal. Keningnya benjol sebesar bola golf. Pas Ibu tanya kenapa, dia cuma bilang, ˜tolongin Mama, tolongin Mama™.

Pas kejadian itu Ibu cuma sendiri di rumah, sebab Bapak lagi tugas ke luar pulau sama papamu. Ibu buru-buru datang ke rumah Reivan. Tapi, waktu Ibu sama Reivan sampai di sana, badan Suci sama Resti udah dikerubungin api. Resti meninggal di tempat, sementara Suci meninggal di rumah sakit dua hari kemudian.

Sesuatu yang tak kasatmata mengiris-iris hatiku dengan cara yang tak bisa kubayangkan. Aku mengembuskan napas berat lalu buru-buru menyejajari Bu Nawang yang sudah beberapa langkah di depanku.

Rahmat divonis penjara seumur hidup. Katanya dia marah cuma gara-gara Suci ambil uang setoran untuk beli obat buat Resti, padahal waktu itu Resti lagi sakit.

Astaga ¦ jadi bapaknya Reivan masih ada, Bu?

Ada. Di penjara. Jangan tanya kenapa Reivan enggak pernah jenguk, Ibu sudah bujuk tapi dia menolak berhubungan lagi dengan bapaknya itu.

Aku bisa paham. Tentu saja aku paham.

Sejak hari itulah Reivan tinggal sama Ibu. Kami mengadopsinya lewat prosedur yang resmi supaya Ibu bisa betul-betul menganggapnya anak sendiri, seperti ke anak Ibu yang meninggal pas umur tujuh tahun. Jadi, kami itu sebetulnya saling melengkapi, Na. Reivan kehilangan orang tua, Ibu kehilangan anak. Kami membentuk keluarga baru dengan berangkat dari rasa kehilangan yang sama.

Hana baru tahu semuanya, Bu.

Bu Nawang mengangguk. Enggak heran. Reivan memang enggak bisa cerita itu ke semua orang, mungkin itu semacam aib buat dia. Ibu cerita ini juga supaya kamu tahu, supaya kamu enggak bertanya-tanya kalau lihat sikapnya yang keras atau kaku. Itu semua karena terbentuk dari masa lalunya yang sulit. Belum lagi waktu dia harus kehilangan sosok bapak yang kedua kalinya. Ketika suami Ibu meninggal, dia baru kelas 1 SMA. Sejak saat itu dia jadi makin irit bicara. Jarang senyum. Kayak judes, tapi sebetulnya hatinya itu baik.

Pukul setengah dua belas siang, kami akhirnya selesai berkeliling supermarket. Saat itu  antrean di kasir mengular seakan-akan hari itu adalah hari gajian, bukannya pertengahan bulan. Lalu, kuajak Bu Nawang ke kasir nontunai karena antrean di sana jauh lebih pendek. Kukatakan kepadanya, semuanya belanjaannya hari itu aku yang bayar. Pakai uang dari Reivan, tentu saja.

Akan tetapi, kasir berulang kali gagal mendebet pembayaranku. Meski sudah dicoba dan diperiksa dengan telitiaku sempat khawatir PIN-nya keliru atau masa berlaku kartunya habistetap saja tidak ada transaksi yang terselesaikan. 

Kenapa? Bu Nawang, yang sempat keluar dari antrean di kasir, segera kembali ke barisan.

Ini ¦ kartunya enggak mau didebet.

Itu kartu punya siapa?

Reivan.

Dia kasih kamu kartu yang enggak ada uangnya? Kerutan dalam langsung muncul di kening Bu Nawang. 

Belum sempat aku menjawab, Bu Nawang langsung menyambung, Kembaliin itu kartunya, Mbak, biar saya yang bayar. Keterlaluan banget Reivan.

*** 

 

Tentu saja sudah kujelaskan kepada Bu Nawang bahwa mungkin itu cuma kesalahan, bahwa hal seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya, dan bahwa aku sebetulnya punya uang tabungan untuk membayar semuanya. Namun, Bu Nawang tidak terima.

Kamu sudah nikah sama Reivan, kebutuhan kamu itu harus dipenuhi sama dia. Uang dia itu uang kamu, uang kamu ya uang kamu. Kayak enggak pernah diajarin aja anak itu.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Diskusi Pembaca

Jadilah yang pertama berkomentar

Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Kirim Surat Lamaran Banyak, Tapi Selalu Ditolak

Keuangan

Kirim Surat Lamaran Banyak, Tapi Selalu Ditolak? 3 Penyebabnya

Selasa, 28 Jul 2026 - 14:41 WIB