Novel : Choose Happiness (Part 9)

- Penulis

Rabu, 2 Oktober 2024 - 12:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Choose Happiness (Part 9)

Bab. 9 Peraturan Nomor 8

Di siang harinya terlihat Amora dan Daren yang sudah mengemasi barang-barang mereka dan sudah siap untuk pergi dari hotel itu, “Ra, udah dibawa semua?” tanya Daren.

Amora menganggukkan kepalanya, “Udah. Udah gue kemas semua” jawab Amora yang lalu mengambil tas selempangnya yang sebelumnya dia taruh di atas meja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah itu Daren mengambil alih koper Amora dan kopernya, melihat itu Amora pun beranjak membukakan pintu kamar hotel itu. Setelah itu mereka berdua pun sarapan terlebih dahulu bersama dengan keluarga mereka yang terdiri dari Darpa, Claras, Kaysi, Nata, Yesa dan beberapa anggota keluarga mereka lainnya yang juga menginap di hotel itu.

Selesai melakukan sarapan bersama-sama, kedua keluarga besar itupun saling berpamitan dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Darpa, Claras dan Kaysi di kediaman Sapphire, Nata dan Yesa di kediaman Akraryan, serta lainnya ke rumah masing-masing. Sedangkan Amora dan Daren pergi ke rumah baru mereka berdua.

Di sepanjang perjalanan, Amora terus bermain handphone, sedangkan Daren fokus menyetir. Tidak ada perbincangan di antara keduanya hingga mereka sampai di sebuah rumah yang cukup mewah dan aesthetic berlantai 2.

Daren memarkir mobilnya di dekat sebuah mobil berwarna putih, itu adalah mobil Amora. Bukan hanya mobil Amora yang sudah ada di sana, tapi perlengkapan serta baju-baju mereka juga sudah ada di rumah itu semua.

Setelah selesai memarkirkan mobilnya di garasi, Daren dan Amora pun turun. Daren mengambil kopernya dan Amora di bagasi, setelah itu mereka pun masuk bersama ke dalam rumah itu.

Di siang harinya di sekitar pukul 10, terlihat Amora yang sudah kembali bersiap dengan pakaian yang rapi, “Kamu mau ke mana?” tanya Daren yang bingung saat melihat Amora tengah bersiap di meja rias.

“Gue mau kuliah dulu, nanti gue pulang jam 5 sore” jawab Amora seraya terus bersiap.

“Mau saya antar?” tanya Daren.

“Ngga usah, gue bawa mobil sendiri. Lo juga mau ke kantor kan?” tanya Amora sembari melihat ke arah Daren hingga laki-laki itu menjawab dengan anggukkan kepala.

“Ya udah, berangkat sendiri-sendiri aja. Oke, gue udah siap. Bye” ujar Amora yang lalu berjalan mengambil tasnya yang ada di atas kasur dan setelah itu berjalan keluar dari kamarnya dengan Daren.

Di perjalanan keluar dari rumahnya, Amora terus menghela nafas karena sungguh dia belum terbiasa satu ruangan dengan seorang laki-laki, apalagi dia tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki dan bahkan laki-laki itu belum terlalu dia kenal dengan baik.

Dengan terburu-buru Amora masuk ke dalam mobilnya dan langsung menancap gas untuk pergi dari halaman rumahnya dengan Daren itu untuk menuju kampusnya. Setelah mobil Amora pergi dari garasi, ganti mobil Daren yang pergi. Hingga garasi rumah itupun akhirnya kosong.

Di sekitar pukul 1 siang terlihat Amora yang berjalan keluar dari sebuah ruangan seraya berbicara dengan seseorang di telfon. Seseorang itu adalah Sherly.

“Hah?, lo kuliah?” tanya Sherly dengan nada terkejut dan penuh pertanyaan.

“Iya lah. Ngapain juga gue di rumah?, orang Daren juga ke kantor. Ya gue kuliah aja lah” jawab Amora dengan santainya.

“Lo ngga ada niatan honeymoon gitu sama suami lo?” tanya Sherly lagi.

Honeymoon?, ngapain?” tanya Amora balik, perempuan itu kini terus berjalan di lorong fakultasnya.

Terdengar helaan nafas di sebrang sana, “Ngga jelas banget lo. Ya udah gue sama lainnya OTW ke resto itu. Lo cepetan ke sana juga.”

“Iyaa, gue juga mau ke sana ini, kelas gue udah kelar” jawab Amora.

Setelah itu percakapan mereka pun selesai, dan Amora kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar dari gedung fakultas itu menuju parkiran, tempat di mana mobilnya berada.

Di sebuah restoran terlihat 4 orang perempuan yang tengah mengobrol seputar kehidupan sehari-hari, “Gue ngga ekspek kalau lo bakal kuliah setelah sehari nikah, Mor. Istirahat dulu ngapa, kuliah mulu lo” ucap Indira.

Amora memutar bola matanya, “Lo ngga tau secanggung apa gue sama Daren. Lo bayangin aja nih, orang yang ngga pernah pacaran kayak gue tiba-tiba dijodohin sama laki-laki dingin kayak kulkas dan 4 tahun lebih tua dari gue.”

“Mana dia kalau ngomong pake saya sama kamu lagi. Formal banget, sedangkan gue?” jawab Amora dengan sedikit mengebu-gebu.

Mendengar jawab Amora barusan membuat Sherly dan lainnya terkejut, “Yang bener lo?, terus kalau dia ngomong pake saya kamu, lo jawabnya juga pake saya kamu?” tanya Sherly.

“Ya engga lah, pake gue lo” jawab Amora.

“Hah?, gilaa, ngga nyambung banget ege. Masa dia ngga pernah ngomong pake bahasa yang sedikit informal?” kini Indira yang terkejut dan bertanya.

Amora menggelengkan kepalanya, “Selama ini sih belum pernah kayaknya, tapi ngga tau lagi ya besok.”

“Terus lo udah ada benih-benih cinta yang muncul belum?. Gue lihat-lihat perhatian banget Daren sama lo waktu pernikahan lo kemarin” sekarang Fara yang giliran bertanya.

“Benih-benih cinta apaan?, gue aja tiap hari ngelihat dia bawannya kesel mulu, hidupnya itu kayak selalu serius gitu loh, ngga ada santai-santainya” jawab Amora.

“Tapi kalau yang perhatian itu kayaknya iya. Soalnya di malam setelah pernikahan gue sama dia kemarin, gue kan ngerjain tugas kuliah, soalnya deadlinenya tadi jam 8. Eh gue ketiduran dan tugas gue belum selesai. Tadi pagi waktu gue lihat ternyata tugas gue udah selesai. Gue bingung tuh, tapi ternyata yang nyelesaiin itu dia” lanjut Amora menceritakan kejadian tadi pagi.

“Cie ciee. Kayaknya dia suka sama lo deh, Ra. Laki-laki kalau udah perhatian kayak gitu pasti ada rasa suka walaupun sedikit. Lagi pula dia juga terima perjodohan itu kan?” ucap Indira.

Mendengar itu Amora terdiam sejenak, “Ngga mungkinlah, orang dia pernah bilang kalau dia setuju perjodohan itu karena Omanya yang minta” jawab Amora.

“Ya kan siapa tau.”

Di sore menjelang malam, mobil Amora kembali terparkir di garasi rumahnya dan di sana juga sudah terdapat mobil Daren. Setelah mengambil barang-barangnya yang ada di mobil, Amora pun turun dari mobilnya itu dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.

Amora memasukkan pin rumahnya sebelum masuk, dan setelah masuk dia langsung berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Tapi di perjalanan menuju kamarnya Amora menghentikan langkahnya di depan ruang kerja Daren yang berjarak 4 langkah sebelum kamarnya.

“Dia di dalam?, lihat ngga ya?” batin Amora saat melihat pintu ruangan itu sedikit terbuka.

“Ngga deh kayaknya, tapi gue penasaran” lanjut Amora yang masih berdiri di depan ruang kerja Daren. Dia bingung, apakah dia harus masuk, atau tidak.

Tapi karena rasa penasarannya, Amora pun akhirnya memutuskan untuk membuka pintu ruangan itu. Setelah pintu itu hampir terbuka sempurna, Amora kembali menutupnya dan kembali berjalan menuju kamarnya dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah.

Sesampainya di kamar Amora langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah menaruh semua barang-barangnya di meja yang ada di kamar itu. Di depan wastafel Amora menatap dirinya sendiri dengan tatapan terkejut sekaligus penuh pertanyaan.

“Perempuan itu siapa?”

“Kenapa dia nempel banget sama Daren?”

“Daren selingkuh?, atau…..”

Tok!

Tok!

Tok!

“Ra.”

Mendengar suara ketukan pintu serta suara Daren yang memanggilnya membuat Amora seketika melihat ke arah pintu kamar mandi itu berada. Amora berjalan mendekat, tapi tidak membuka pintu itu, “Gue mandi!”

“Oke, saya mau jelasin sesuatu, saya tunggu di luar” ucap Daren yang tidak dijawab apa-apa oleh Amora. Perempuan itu terdiam sejenak sebelum melangkah ke dalam kamar mandi yang terdapat shower di dalamnya.

Beberapa menit kemudian, Amora keluar dari walk in closet yang ada di kamarnya, saat keluar dari sana Amora mengedarkan pandangannya dan mencari keberadaan Daren, tapi ternyata laki-laki itu tidak ada di sana.

“Ngga jelas, katanya mau ngejelasin sesuatu, tapi sekarang ngga ada. Mau dia apa sih?!” ucap Amora dengan sedikit meninggikan nada bicaranya di kalimat yang terakhir.

Dengan kesal Amora berjalan menuju meja riasnya dan mulai menata rambut hitam mengkilau yang panjangnya sepunggung itu serta memakai beberapa skincare andalannya.

Setelah selesai melakukan itu semua, Amora pun beranjak dari tempat duduk itu dan berjalan ke arah handphone-Nya berada, di pertengahan langkahnya itu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan masuklah Daren.

“Kamu melihat perempuan tadi?” tanya Daren yang membuat Amora langsung menghentikan langkahnya di depan meja tempat handphone-Nya berada.

Karena pertanyaan itu, terlintas sejenak kejadian beberapa menit yang lalu. Tepatnya ketika Amora membuka pintu ruang kerja Daren, di sana Amora melihat seorang perempuan dengan rambut berwarna coklat dan panjangnya di bawah bahu tengah memeluk lengan Daren.

Saat itu Daren tengah memilih-milih buku di rak buku, dan perempuan itu dengan nyaman memeluk lengannya yang besar. Melihat itu Amora kembali menutup pintu ruangan itu dan berjalan pergi.

“Dia siapa?” Amora baru membuka suaranya setelah beberapa menit terdiam, dia bertanya seperti itu tanpa menoleh ke arah Daren yang berdiri di samping kirinya.

“Nasyla, pacar saya” jawab Daren sembari terus melihat ke arah Amora.

Mendengar itu seketika Amora langsung tersenyum miring, “Pacar?, jadi maksud lo, lo nikahi gue tapi lo punya pacar gitu?. Maksud lo apa sih?!”

“Dari awal saya memang sudah mempunyai pacar, bukannya saya sudah pernah bilang sewaktu kita membuat kontrak?” jawab Daren dengan mudahnya.

“Terus pacar lo ngga marah karena yang lo nikahi itu gue bukan dia?” tanya Amora lagi, tapi kini dia sudah berani untuk menghadap ke arah Daren dan menatap laki-laki itu.

“Dia tidak keberatan, selagi saya dan dia masih bisa berpacaran seperti biasanya” jawab Daren seraya sedikit menggelengkan kepalanya di awal.

Untuk kedua kalinya Amora tersenyum miring, “Emang di kontrak nikah itu lo nulisin kalau kita boleh pacaran?”

Daren terdiam sejenak, “Saya menulisnya, di peraturan nomor 8.”

Kini Amora terdiam karena jawaban dari Daren, “Tap-.”

Ucapan Amora terpotong di kala handphone Daren tiba-tiba berbunyi. Dengan cepat Daren mengambil handphone-Nya dari balik jas yang dia pakai.

“Halo, Oma” sapa Daren kepada orang yang menelfonnya, mendengar sapaan Daren untuk orang di telfon itu membuat Amora melihat Daren dengan penuh pertanyaan.

“Hah?, Oma ada di depan?”

Mendengar itu Amora langsung membulatkan matanya karena terkejut.

 

 

Bersambung…….

 

 

https://www.redaksiku.com/novel-choose-happiness-part-8/

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru