“Bagusan panjang gini.”
“Buang sial. Kata orang-orang kalo habis putus tuh potong rambut.”
“Dasar musyrik! Percaya tuh sama Tuhan, bukan sama omongan orang.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Beda konsep, dodol!” Ryu mengacak rambutku. Kami tertawa bersama. Seketika hatiku terasa lega.
Tidak mudah hidup sendiri setelah kedua orang tua berpulang. Jika ada yang bertanya di mana keluarga yang lain? Membantu sekali dua mungkin bisa, tapi ada pasangan atau anak yang siap-siap mengingatkan jika bantuan itu dirasa berlebihan. Semacam perasaan; ingat-kalau-masih-punya-keluarga-inti-dan-Akira-cuma-keponakan. Maka, bar yang berjarak sekitar satu jam dari kampus itu menjadi pilihan utama. Tinggal skripsi, memang, tapi justru pengeluaran sedang banyak-banyaknya.
Aku tidak menyalahkan orang tua Alan, pun tidak menyesalkan sikap Alan yang terkesan tidak membelaku. Balasan singkat kuberikan ketika Alan menjelaskan panjang lebar mengapa orang tuanya bersikap demikian dan mengapa dia memilih untuk menuruti kehendak mamanya. Takdir sudah mengajarkanku untuk menerima, tidak perlu melawan, karena terlalu melelahkan. Bangku dan meja kecil di bawah rimbunnya pohon Akasia di salah satu sudut kampus ini menjadi saksi terakhir kali aku bertekad menangis karena laki-laki.
“Ayo kuanterin,” ajak Ryu. Dia berdiri lalu mengulurkan tangan. Kusadari sorot mata Ryu agak berbeda. Banyak teman yang mengolok-olok kami seperti sepasang kekasih, tapi kuyakinkan berkali-kali pula bahwa kami sekadar sahabat. Aku ingin membuktikan bahwa persahabatan lawan jenis itu ada. Namun, sepertinya tekad itu mulai goyah.
“Ry ….”
“Apa?”
Ryu duduk kembali.
“Kamu beneran nggak punya pacar?”
“Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Kalo deketin cewek kan pasti aku cerita.”
“Tapi udah lama banget, sejak aku belum pacaran sama Alan, sampe aku putus, kamu nggak pernah keliatan deket sama cewek.”
“Udah kuliah tingkat akhir, Ki. Ngapain pacaran?”
“Yakin cuma karena itu?”
Dengan gerakan cepat Ryu mendekat ke arahku lalu berbisik di telinga, “Nungguin kamu buka hati buat aku.”
Tubuhku terasa membeku sesaat. Laki-laki yang berteman denganku sejak SMA itu segera beranjak sembari berteriak, “Buruan kalo mau dianterin! Tukang ojeknya cuma free sampe jam 4 sore!”
Tiba-tiba seperti ada kupu-kupu di perut. Aku tidak tahu apakah nanti malam akan menangisi lagi nasib percintaanku, yang jelas siang ini hatiku membaik, berkat Ryu.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2







Eakkkk ….
Sweet bangeeeettttt, cakeeepppp!!
Aaa terima kasih banyak, Kakak🤩
Bacaan ringan yg menyenangkan dan menghibur
Terima kasih banyak Kakak🤩🤩