Redaksiku.com – Aktivitas warga di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, lumpuh akibat kepungan kabut asap tebal yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang terus meluas hingga awal September 2026. Bencana lingkungan ini memaksa pemerintah daerah meliburkan kegiatan belajar mengajar di berbagai sekolah demi melindungi kesehatan anak-anak dari paparan polusi udara yang pekat.
Kondisi darurat kabut asap tersebut telah dirasakan oleh masyarakat sejak pertengahan Agustus dan semakin memburuk akibat musim kemarau panjang yang melanda wilayah timur Indonesia. Sejumlah distrik di kabupaten kepulauan ini, termasuk Distrik Samofa, Yendidori, Biak Timur, dan Biak Barat, kini diselimuti kabut asap pekat setiap hari.
Ketua Dewan Adat Manfun Kawasa Byak, Mananwir Apolos Sroyer, mengungkapkan bahwa dampak kabut asap ini tidak hanya mengganggu aktivitas publik, tetapi juga mulai mengancam kesehatan fisik warga secara signifikan. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia menjadi korban utama yang mengalami gangguan pernapasan akut akibat menghirup udara beracun tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data pemantauan lingkungan, terdapat ribuan titik panas yang tersebar di seluruh wilayah Papua akibat kondisi kekeringan yang ekstrem.
Sejumlah warga yang mengalami sesak napas berat bahkan harus segera dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis darurat. Situasi ini memicu kekhawatiran mendalam di tengah masyarakat adat setempat yang menilai penanganan awal dari instansi terkait masih sangat lambat dan terbatas.
Upaya pemadaman api yang dilakukan oleh aparat gabungan sejauh ini dinilai belum optimal karena terkendala oleh keterbatasan peralatan dan sulitnya medan kebakaran. Apolos Sroyer mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera mengerahkan armada udara seperti helikopter atau pesawat berkapasitas besar guna memadamkan titik api di area yang sulit dijangkau.
Sebaran Titik Panas di Tanah Papua
Data resmi dari sistem pemantauan lingkungan Sipongi Kementerian Kehutanan mencatat lonjakan drastis jumlah titik panas di tanah Papua sepanjang periode 1 Agustus hingga 2 September 2026. Angka ini menunjukkan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan telah berada pada level yang sangat mengkhawatirkan bagi ekosistem regional.
Secara keseluruhan, sebaran titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di atas 80 persen di wilayah Papua telah mencapai ribuan titik yang tersebar di berbagai daerah otonom baru. Wilayah Papua Selatan mendatat jumlah titik panas tertinggi dibanding provinsi lainnya di pulau tersebut.
Berikut adalah rincian sebaran titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di berbagai wilayah Papua:
- Wilayah Papua Selatan mencatatkan 1.212 titik panas yang mendominasi kawasan hutan dan lahan gambut.
- Wilayah Papua Tengah menduduki urutan kedua dengan total 374 titik panas terpantau oleh satelit.
- Wilayah Papua Pegunungan melaporkan kemunculan sebanyak 300 titik panas di daerah dataran tinggi.
- Wilayah Papua Barat Daya mencatatkan sebaran sebanyak 38 titik panas di sejumlah kabupaten.
- Wilayah induk Provinsi Papua mencatat sebanyak 12 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Sementara itu, khusus di Kabupaten Biak Numfor, sistem pemantauan mendeteksi adanya empat titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi serta 383 titik api dengan tingkat kepercayaan sedang. Angka tersebut tergolong sangat tinggi dan tidak biasa jika dibandingkan dengan kabupaten lain di sekitarnya.
Kondisi cuaca kering tanpa hujan dalam beberapa pekan terakhir menjadi pemicu utama cepatnya pergerakan api di lahan milik warga dan hutan sekunder.
Dampak Sosial dan Hambatan Pemadaman
Dampak ekologis dari kebakaran lahan ini telah dirasakan langsung oleh masyarakat adat di Distrik Biak Utara, di mana kobaran api telah mendekati permukiman warga. Aleks Abrauw, salah satu warga setempat, melaporkan bahwa kebakaran telah berlangsung selama berminggu-minggu tanpa ada tindakan pencegahan yang masif dari pihak berwenang.
Sebagian besar upaya pemadaman yang dilakukan oleh tim darat saat ini hanya terpusat di pinggir-pinggir jalan raya yang mudah diakses oleh kendaraan pemadam kebakaran konvensional. Keterbatasan akses jalan setapak dan minimnya pasokan air bersih di lokasi titik api menjadi hambatan utama dalam mengisolasi penyebaran api.
“Asap mengepung dan menguasai kota, sekolah libur. Dari minggu lalu anak-anak diliburkan sampai saat ini.”
— Mananwir Apolos Sroyer
Masyarakat berharap ada intervensi cepat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menetapkan status darurat asap di wilayah Biak dan sekitarnya. Tanpa adanya hujan buatan atau operasi pemadaman udara, dikhawatirkan kabut asap akan terus memburuk dan memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait penyakit infeksi saluran pernapasan akut.
Pertanyaan Umum
Mengapa sekolah di Biak Numfor diliburkan?
Sekolah-sekolah di Biak Numfor diliburkan karena kepulan kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan membahayakan kesehatan para siswa, khususnya anak-anak dan lansia.
Berapa jumlah titik panas yang tercatat di Papua?
Sistem Sipongi Kementerian Kehutanan mencatat 2.169 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di seluruh wilayah Papua sejak 1 Agustus hingga 2 September 2026.
Apa kendala utama dalam pemadaman kebakaran di Biak?
Petugas pemadam kebakaran menghadapi kendala keterbatasan alat, akses medan yang sulit dijangkau mobil pemadam, serta kurangnya armada udara untuk menjangkau titik api yang luas.
Ringkasan
Karhutla Papua meluas dan asap tebal mengepung Biak Numfor hingga melumpuhkan aktivitas warga serta memaksa sekolah diliburkan akibat polusi udara.






