Pasien Baru
Suara riuh roda yang beradu dengan lantai terdengar dari lorong bangsal beberapa menit setelah Manda menerima telepon dari UGD. Suara riuh itu berhenti ketika sebuah bed transfer berhenti di depan pintu bangsal Cempaka. Beberapa saat kemudian terdengar suara keributan .
Ini mau dibawa ke mana? Kepalaku sudah mau pecah! teriak seorang laki-laki yang terbaring di bed transfer. Seorang perempuan dengan batik tunik mendekati bed, kemudian membungkukkan badannya hingga kepalanya dekat dengan telinga pasien. Sabar, Pak. Kita mau ke bangsal, bisiknya lembut. Terdengar dengkusan kesal dari pasien itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dua orang perawat berseragam warna hijau dengan tulisan UGD di punggung mendorong bed transfer masuk. Jaka salah satu perawat UGD yang berada di bagian belakang bed menuju nurse station menyerahkan berkas pasien. Kristin yang tengah berada di meja resepsionis menerima berkas itu. Jaka menerangkan secara singkat kondisi pasien saat tiba di UGD.
Pasien yang rambutnya sudah memutih itu, masih terus mengerang. Sesekali terlihat dadanya naik saat ia menarik napas. Seolah ada batu besar menimpa dadanya hingga membuatnya kesulitan bernapas.
Perempuan berbaju tunik itu berdiri di samping bed suaminya, menunggu proses pemindahan pasien. Perempuan cantik itu, mencuri perhatian Kania. Penampilannya sederhana, tetapi terlihat elegan. Rambutnya yang disanggul cepol pas dengan wajah bulatnya. Tunik dengan warna dasar cokelat terlihat sempurna pada kulit langsatnya.
Manda berdeham sambil menyenggol lengan Kania dengan sikutnya. Norak kamu tuh kalau lihat cowok ganteng. Matamu bisa klilipan, bisik Manda.
Kania terkesiap. Cowok ganteng? Mana? bisik Kania. Matanya menyapu orang-orang yang ada di sekitar bed pasien. Mulutnya menganga ketika matanya menangkap sosok gagah yang berdiri di ujung bed. Tangan kanannya menenteng tas besar. ˜Sejak kapan cowok itu masuk?™ batin Kania. Tadi mata Kania fokus pada perempuan berbaju tunik batik, sampai tidak menyadari kedatangan cowok itu.
Hah! Manda mengibaskan tangannya di depan mata Kania.
Aku tadi fokus ke tunik Ibu itu! ujar Kania sambil mengangkat dagunya untuk menunjuk orang yang ia maksud.
Astaga! Malah mikirin baju. Manda menepuk jidat. Heran, ya, kok bisa lihat batik bikin mabok, sampai nggak bisa lihat yang lain. Manda geleng-geleng kepala.
Kita ke ruang inap, Bu, ujar Jaka sambil menatap perempuan berbaju tunik, setelah menyerahkan berkas pasien.
Kamu yang antar mereka ke ruang inap, bisik Manda.
Bersama perawat UGD, Kania membawa pasien itu ke ruang inap. Cowok dan perempuan dengan baju tunik menyusul di belakang. Hanya ada satu kamar yang masih kosong di bangsal Cempaka. Ruang 227. Ruang ini terletak paling ujung. Ruang inap itu menghadap taman rumah sakit. Saat jendela samping dibuka, mata pasien akan dimanjakan dengan pemandangan hijau taman rumah sakit.
Pak, kami mau pindahkan Bapak ke tempat tidur pasien. Bapak bisa duduk? bisik perawat UGD tangannya pelan menepuk tangan pasien.
Pasien itu membuka mata. Lipatan di dahinya membuat ia terlihat semakin tua. Kepalaku sudah mau pecah! Malah disuruh duduk! omelnya.
Kalau tidak bisa nggak papa, Bapak tetap berbaring, kami yang akan memindahkan, Bapak. Jaka seolah tak merasakan sikap kasar pasien itu. Jadi perawat memang harus pandai mengontrol diri. Sikap kasar pasien tidak boleh membuatnya tersinggung. Pasien bersikap kasar, mungkin karena ia sedang tidak nyaman.
Pak ¦ Kania sengaja menggantung kalimatnya sambil menatap perempuan berbaju tunik mencari jawaban. Projo ujar perempuan itu cepat. Istri Projo duduk di sofa bersama cowok berambut tebal menunggu proses pemindahan pasien. Pandangan istri Projo fokus pada suaminya yang akan dipindahkan. Sementara cowok di sisinya lebih memilih memejamkan mata. Ia tampak letih dan wajahnya pucat.
Pak Projo, maaf saya bantu memiringkan badan, yah! Kania pelan-pelan memiringkan badan Suwiknyo. Pasien itu mendengkus.
Kania dengan cekatan menggelar kain setelah tubuh Projo miring ke kanan. Maaf, Pak, sekarang kami miringkan ke kiri, ujar Kania setelah kainnya tergelar. Kalian ini! Bikin parah sakitku! Hardik Projo. Perutku tambah mual!
Gantian dua orang perawat IGD menarik kain dari bawah tubuh Projo. Setelah kain terbentang sempurna di bawah tubuh Projo, para perawat menarik kain itu ke arah tempat tidur pasien.
Bu, tugas kami sudah selesai. Selanjutnya Bapak akan dirawat oleh perawat bangsal, terang Joko jari tangan kanannya menggenggam kecuali ibu jarinya. Tangan itu mengarah ke Kania.
Kania tersenyum dan menganggukkan kepala. Saya Kania yang akan merawat Bapak, ujar Kania ramah.
Bu! Dokter sudah datang belum! teriak Projo.
Dokter masih di poli, Pak. Sebentar lagi datang. Kania merapatkan badannya ke tempat tidur agar Pak Projo bisa mendengarkannya.
Hah! Keburu mati aku! ujar Projo gusar. Haus, keluh Projo.
Cowok berambut tebal yang sejak datang duduk di sofa segera bangkit dan mengambilkan minum untuk Projo. Kania melirik sesaat pada cowok itu sebelum pamit kembali ke nurse stasion.
Pasien baru kita, orang penting, Kania, ujar Manda setelah Kania duduk di sebelah Manda.
O, yah!
Projo Suwiknyo!
Hah! Kania menoleh menatap Manda dengan mulut ternganga. Pemilik Suwiknyo batik?
Siapa yang tidak kenal Batik Suwiknyo. Salah satu brand batik terkenal di Yogyakarta. Saking terkenalnya sampai ada slogan Belum ke Yogya kalau nggak bawa batik Suwiknyo.
Manda mengangguk. Matanya melirik dengan senyum jahil pada Kania.
Kenapa? Alis Kania berkerut.
Anaknya ganteng, kan? Masih single, lho! Senyum Manda melebar.
Kamu mau selingkuhin Panji?
Aduh, Neng! Ih! Nggak peka banget, deh! Manda kesal. Atau kamu pilih Mang Dadang?
Kania menghela napas. Jangan rusak semangat kerjaku, Manda! bibir Kania mengerucut.
Manda terbahak. Makanya buruan samperin tuh, cowok!
Dokter Iqbal muncul dengan wajah ceria. Meskipun dari pagi memeriksa pasien tak tampak kelelahan di wajahnya. Ada gosip apa ini? Ada yang mau nikah? Dokter Iqbal menebar senyum.
Ada yang mau, tapi belum ada jodoh, Dok. Manda menimpali. Kania menatap Manda dengan bibir kanan ditarik ke belakang.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






