Tantangan Menuju Target Produksi Beras 35 Juta Ton pada 2024: Apa yang Diperlukan dan Apa yang Menyulitkan

- Penulis

Selasa, 27 Februari 2024 - 20:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tantangan Menuju Target Produksi Beras 35 Juta Ton pada 2024: Apa yang Diperlukan dan Apa yang Menyulitkan

Tantangan Menuju Target Produksi Beras 35 Juta Ton pada 2024: Apa yang Diperlukan dan Apa yang Menyulitkan

Target ambisius produksi beras Indonesia sebesar 35 juta ton pada tahun depan menjadi pembicaraan hangat. Namun, banyak pihak skeptis apakah target tersebut dapat tercapai. Dalam pandangan Guru Besar IPB University sekaligus Ketua Umum Asosiasi Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santosa, peningkatan produksi beras tahunan hingga mencapai angka tersebut dianggap sebagai tugas yang sangat sulit.

Menurut Dwi Andreas Santosa, jika kita melihat data produksi beras selama 40 tahun terakhir, peningkatan produksi tahunan tidak pernah melebihi 10%. Bahkan, selama 5 tahun terakhir sejak 2018, produksi beras di Indonesia tampak stagnan, berada di kisaran 31 juta ton. Ini berarti, untuk mencapai target produksi sebesar 35 juta ton tahun depan, dibutuhkan peningkatan sebesar 12,9% dari produksi saat ini. Andreas mengungkapkan bahwa selama 40 tahun terakhir, peningkatan sebesar itu belum pernah terjadi.

Tantangan Menuju Target Produksi Beras 35 Juta Ton pada 2024: Apa yang Diperlukan dan Apa yang Menyulitkan
Tantangan Menuju Target Produksi Beras 35 Juta Ton pada 2024: Apa yang Diperlukan dan Apa yang Menyulitkan

Oleh karena itu, dia memperkirakan bahwa peningkatan produksi beras di tahun depan kemungkinan hanya sekitar 1,5 juta ton. Dengan demikian, target produksi 32,5 juta ton beras pada tahun 2024 masih dianggap sebagai pencapaian yang memungkinkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Andreas menjelaskan bahwa harapan akan peningkatan produksi beras tahun depan didasarkan pada antusiasme para petani dalam menanam padi. Hal ini dikarenakan harga gabah yang saat ini sedang tinggi, sehingga mendorong para petani untuk meningkatkan penanaman padi di berbagai daerah. Dia menambahkan, “Tahun depan tidak ada gangguan yang cukup berarti, dan saat ini petani menikmati harga yang baik sehingga mereka ini sekarang bergairah menanam.”

Lebih lanjut, Andreas mengatakan bahwa intensifikasi pertanian merupakan cara yang paling memungkinkan untuk mendukung peningkatan produksi beras, bukan ekstensifikasi melalui perluasan lahan. Menurutnya, program ekstensifikasi pertanian padi selama ini sering kali gagal dilaksanakan oleh pemerintah, termasuk program food estate yang selama 25 tahun tidak berhasil mencapai swasembada pangan.

Dalam konteks ini, Plt. Menteri Pertanian Arief Prasetyo Adi telah menyampaikan bahwa mencapai target produksi sebesar 35 juta ton akan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor beras. Untuk mencapai target tersebut, dia bersama dengan dinas pertanian di seluruh daerah akan memastikan kelancaran Musim Tanam (MT) I 2023/2024 pada periode November 2023 hingga Maret 2024. Ini akan melibatkan ketersediaan benih, pupuk, sistem irigasi yang baik, serta upaya pencegahan hama yang efektif. Selain itu, optimalisasi peran penyuluh pertanian juga dianggap penting dalam mencapai target tersebut. Arief menyatakan, “Cara untuk mewujudkan ini adalah dengan meningkatkan produktivitas padi, dari 5,2 ton per hektare menjadi 5,4 atau bahkan 5,7 juta ton per hektare.”

Langkah-langkah lain yang sedang ditempuh untuk meningkatkan produksi beras di MT 1 antara lain mencakup promosi penggunaan asuransi pertanian, optimalisasi alat mesin pertanian, perluasan distribusi pupuk melalui 26.000 outlet yang dimiliki oleh Perum Bulog (PIHC) di seluruh Indonesia, memastikan kesiapan pemerintah daerah untuk menangani masalah di lapangan, dan memberikan penghargaan bagi dinas pertanian provinsi/kabupaten yang berhasil meningkatkan produksi beras.

Meningkatnya Produksi Beras: Tantangan dan Peluang

Meningkatkan produksi beras hingga mencapai target 35 juta ton pada tahun 2024 adalah tujuan yang penting dan ambisius untuk Indonesia. Produksi beras yang mencukupi akan mendukung ketersediaan pangan nasional, mengurangi ketergantungan pada impor beras, serta memberikan manfaat ekonomi yang signifikan kepada para petani.

Namun, tantangan yang dihadapi dalam mencapai target ini tidak bisa dianggap enteng. Data historis menunjukkan bahwa peningkatan produksi beras secara signifikan dalam waktu singkat bukanlah hal yang mudah. Selama 40 tahun terakhir, peningkatan produksi beras tahunan rata-rata tidak pernah melebihi 10%. Dalam 5 tahun terakhir, produksi beras Indonesia bahkan cenderung stagnan di kisaran 31 juta ton. Oleh karena itu, peningkatan sebesar 12,9% dari produksi saat ini menjadi suatu tantangan yang nyata.

Menurut Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Santosa, meskipun ada optimisme terkait peningkatan produksi di tahun depan, peningkatan sebesar 1,5 juta ton mungkin lebih realistis daripada mencapai target 35 juta ton. Namun, faktor yang mendukung harapan ini adalah tingginya minat para petani untuk menanam padi sebagai respons terhadap harga gabah yang sedang tinggi. Harga yang menguntungkan bagi petani telah mendorong mereka untuk giat menanam padi di berbagai daerah.

Selain itu, perlu dicatat bahwa intensifikasi pertanian dianggap sebagai pendekatan yang lebih memungkinkan daripada ekstensifikasi. Ekstensifikasi, atau perluasan lahan pertanian, selama ini seringkali menghadapi berbagai kendala dan hasilnya sering tidak memenuhi harapan. Bahkan program food estate yang berlangsung selama 25 tahun juga belum mampu mencapai swasembada pangan. Oleh karena itu, fokus pada peningkatan produktivitas padi melalui intensifikasi pertanian adalah langkah yang dianggap lebih realistis.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

IHSG Terkoreksi di Awal Sesi, Sentimen Global dan Tekanan Sektoral Membebani Pasar
8 Rekomendasi Menu Bento Box yang Laris di GoFood
Rahasia Warung Madura dan Toko Kelontong yang Tak Bisa Ditumbangkan Minimarket Modern
Pentingnya Pelatihan Ahli K3 Umum Untuk Karier
Anatomi Mulut dan Pengaruhnya Terhadap Artikulasi Saat Berbicara di Depan Umum
Jenis-Jenis Combine Harvester yang Digunakan di Indonesia dan Perbedaan Fungsinya untuk Berbagai Lahan
GP+ Medical & Paincare: Klinik Nyeri di Jakarta
7 Alasan Kuat Framework Laravel Jadi Pilihan Banyak Startup

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:06 WIB

IHSG Terkoreksi di Awal Sesi, Sentimen Global dan Tekanan Sektoral Membebani Pasar

Selasa, 7 Juli 2026 - 14:53 WIB

8 Rekomendasi Menu Bento Box yang Laris di GoFood

Jumat, 3 Juli 2026 - 09:19 WIB

Rahasia Warung Madura dan Toko Kelontong yang Tak Bisa Ditumbangkan Minimarket Modern

Senin, 29 Juni 2026 - 14:38 WIB

Pentingnya Pelatihan Ahli K3 Umum Untuk Karier

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:01 WIB

Anatomi Mulut dan Pengaruhnya Terhadap Artikulasi Saat Berbicara di Depan Umum

Berita Terbaru

Cara Membangun Empati Anak

Ibu dan Anak

4 Cara Membangun Empati Anak

Rabu, 8 Jul 2026 - 13:24 WIB