Segini nilai Eskpor Impor Israel dan Palestina dengan Indonesia

- Penulis

Kamis, 14 Maret 2024 - 12:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Segini nilai Eskpor Impor Israel dan Palestina dengan Indonesia

Segini nilai Eskpor Impor Israel dan Palestina dengan Indonesia

Indonesia, seperti terungkap dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), masih melakukan impor produk dari Israel meskipun tanpa hubungan diplomatik formal antara kedua negara. Nilai impornya mencapai USD16,97 juta atau sekitar Rp266,41 miliar hingga Oktober 2023. Meski angka ini merupakan peningkatan dari bulan September sebesar USD14,4 juta, Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menyatakan bahwa “Share impor non migas dari Israel ke Indonesia dari Januari sampai Oktober 2023 adalah sebesar 0,011 persen terhadap total impor nasional.”

Komoditas yang paling banyak diimpor dari Israel termasuk mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya senilai USD5,03 juta, perkakas dan peralatan dari logam senilai USD3,86 juta, dan mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya senilai USD3,04 juta. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan dengan tahun 2022 yang mencapai USD47,82 juta, keputusan untuk tetap melakukan impor dari Israel dapat memunculkan pertanyaan terkait etika dan politik luar negeri.

Segini nilai Eskpor Impor Israel dan Palestina dengan Indonesia
Segini nilai Eskpor Impor Israel dan Palestina dengan Indonesia

Di sisi lain, impor Indonesia dari Palestina, meskipun masih kecil, mencapai USD1,57 juta hingga Oktober 2023. Produk yang banyak diimpor dari Palestina meliputi buah-buahan senilai USD1,43 juta, lemak dan minyak hewan atau nabati senilai USD100 ribu, serta karya seni, barang kolektor, dan barang antik senilai USD20 ribu. Peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai USD1,25 juta menunjukkan potensi perkembangan perdagangan dengan Palestina.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, dalam konteks ekspor, Indonesia terus mengekspor berbagai komoditas ke Israel, meskipun kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik. Dari Januari hingga Oktober 2023, nilai ekspor Indonesia ke Israel mencapai USD140,57 juta atau sekitar Rp2,21 triliun. Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menyatakan bahwa “Share ekspor Israel dari Januari sampai Oktober 2023 adalah sebesar 0,07 persen terhadap total ekspor Indonesia ke Israel.”

Lihat pula secara historis, nilai ekspor ke Israel masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai USD185,18 juta. Komoditas utama yang diekspor ke Israel pada tahun ini adalah lemak dan minyak hewan atau nabati senilai USD39,18 juta, diikuti oleh alas kaki senilai USD12,91 juta, dan mesin atau perlengkapan elektrik dan bagiannya senilai USD10,85 juta.

Namun, berbeda dengan Israel, nilai ekspor Indonesia ke Palestina hanya mencapai USD2,37 juta. Meskipun nilai ini kecil dan menyumbang 0,0011 persen terhadap total ekspor Indonesia, terjadi peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai USD820 ribu. Komoditas yang paling banyak diekspor ke Palestina adalah berbagai makanan olahan senilai USD1,85 juta, diikuti oleh olahan dari sayuran, buah, dan kacang senilai USD230 ribu, serta olahan dari tepung senilai USD130 ribu.

Perlu dicatat bahwa meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, keduanya masih dapat melakukan aktivitas perdagangan. Hubungan dagang ini tidak bersifat kerja sama antar pemerintah, melainkan antara pelaku usaha dengan pelaku usaha. “Kalau kita tidak memiliki hubungan diplomatik tidak berarti secara ekonomi kita tidak boleh melakukan hubungan dagang,” ujar Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, kebijakan perdagangan Indonesia dengan Israel dan Palestina memunculkan pertanyaan etika dan politik. Dalam konteks diplomasi ekonomi, bagaimana Indonesia dapat menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan ekonomi dan menjalankan kebijakan luar negeri yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan politik yang dianut? Ini menjadi sebuah tantangan yang kompleks, memerlukan pertimbangan matang untuk menghadapi dampak ekonomi dan diplomasi yang mungkin muncul.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

IHSG Terkoreksi di Awal Sesi, Sentimen Global dan Tekanan Sektoral Membebani Pasar
8 Rekomendasi Menu Bento Box yang Laris di GoFood
Rahasia Warung Madura dan Toko Kelontong yang Tak Bisa Ditumbangkan Minimarket Modern
Pentingnya Pelatihan Ahli K3 Umum Untuk Karier
Anatomi Mulut dan Pengaruhnya Terhadap Artikulasi Saat Berbicara di Depan Umum
Jenis-Jenis Combine Harvester yang Digunakan di Indonesia dan Perbedaan Fungsinya untuk Berbagai Lahan
GP+ Medical & Paincare: Klinik Nyeri di Jakarta
7 Alasan Kuat Framework Laravel Jadi Pilihan Banyak Startup

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:06 WIB

IHSG Terkoreksi di Awal Sesi, Sentimen Global dan Tekanan Sektoral Membebani Pasar

Selasa, 7 Juli 2026 - 14:53 WIB

8 Rekomendasi Menu Bento Box yang Laris di GoFood

Jumat, 3 Juli 2026 - 09:19 WIB

Rahasia Warung Madura dan Toko Kelontong yang Tak Bisa Ditumbangkan Minimarket Modern

Senin, 29 Juni 2026 - 14:38 WIB

Pentingnya Pelatihan Ahli K3 Umum Untuk Karier

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:01 WIB

Anatomi Mulut dan Pengaruhnya Terhadap Artikulasi Saat Berbicara di Depan Umum

Berita Terbaru

Cara Membangun Empati Anak

Ibu dan Anak

4 Cara Membangun Empati Anak

Rabu, 8 Jul 2026 - 13:24 WIB