Rencana Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Memajukan Jam Sekolah Jadi 06.00 Pagi Tuai Pro Kontra, Begini Tanggapan Dokter Anak

- Penulis

Selasa, 3 Juni 2025 - 20:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rencana Gubernur Jabar memajukan jam sekolah tuai kritik, dokter anak khawatir dampak kurang tidur pada anak. (Foto: Pexels)

Rencana Gubernur Jabar memajukan jam sekolah tuai kritik, dokter anak khawatir dampak kurang tidur pada anak. (Foto: Pexels)

Gubernur Jawa Barat (Gubernur Jabar) Dedi Mulyadi, baru-baru ini mengusulkan sebuah kebijakan yang cukup kontroversial di dunia pendidikan, yaitu memajukan jam masuk sekolah menjadi pukul 06.00 pagi.

Usulan ini bertujuan menanamkan kedisiplinan yang lebih baik serta mengoptimalkan waktu belajar siswa di seluruh wilayah Jawa Barat.

Namun, di balik niat mulia tersebut, muncul beragam reaksi, baik dari kalangan medis, orang tua, hingga praktisi pendidikan.

Rencana ini juga mengusulkan agar hari belajar di sekolah hanya berlangsung hingga hari Jumat, dengan Sabtu menjadi hari libur bagi siswa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal ini diharapkan dapat menciptakan waktu istirahat yang lebih panjang dan memungkinkan siswa untuk mengatur waktu dengan lebih baik di akhir pekan.

Gubernur Dedi Mulyadi bahkan berharap agar bupati dan wali kota di seluruh Jawa Barat mendukung serta menerapkan kebijakan seragam ini agar bisa berjalan efektif.

Penjelasan Mendalam tentang Rencana Gubernur Jabar Memajukan Jam Sekolah

Rencana Gubernur Jabar memajukan jam sekolah tuai kritik, dokter anak khawatir dampak kurang tidur pada anak. (Foto: Pexels)
Rencana Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Memajukan Jam Sekolah Jadi 06.00 Pagi Tuai Pro Kontra, Begini Tanggapan Dokter Anak

Kebijakan dari rencana gubernur Jabar ini berangkat dari keinginan untuk membentuk budaya disiplin sejak dini bagi para pelajar.

Memulai aktivitas belajar pada pukul 06.00 pagi dianggap dapat memanfaatkan waktu yang dianggap lebih produktif dan segar di pagi hari.

Selain itu, dengan waktu sekolah yang berakhir pada Jumat, diharapkan siswa memiliki waktu istirahat yang cukup pada akhir pekan.

Menurut Dedi Mulyadi, beberapa sekolah menengah atas (SMA) di Jawa Barat sudah menjalankan sistem belajar sampai Jumat, sedangkan sekolah menengah pertama (SMP) masih belajar sampai Sabtu.

Oleh karena itu, penyeragaman jadwal belajar sampai Jumat dianggap perlu agar memberikan kepastian dan kemudahan pengaturan waktu bagi semua pihak.

Ia juga mengajak para kepala daerah untuk mendukung dan menerapkan kebijakan ini agar perubahan dapat berlangsung secara serentak di seluruh Jawa Barat.

Meski bertujuan positif, kebijakan tersebut memunculkan perdebatan yang sengit dari berbagai kalangan, khususnya dari dunia medis dan para orang tua yang khawatir dengan dampak perubahan waktu tersebut.

Tanggapan Medis terhadap Rencana Gubernur Jabar

Salah satu kritik utama datang terkait rencana Gubernur Jabar tersebut datang dari dr. Ian Suryadi Setja, seorang dokter spesialis anak dari Tzu Chi Hospital.

Menurut dr. Ian, memajukan jam masuk sekolah menjadi pukul 06.00 pagi berpotensi menimbulkan masalah serius, terutama terkait kebutuhan tidur anak.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak harus bangun paling tidak pukul 05.00 pagi atau bahkan lebih awal untuk bisa bersiap sekolah tepat waktu.

Kondisi ini tentunya menambah beban bagi anak-anak serta orang tua yang harus mempersiapkan segala sesuatunya di waktu yang sangat pagi.

Selain itu, dr. Ian menegaskan pentingnya jam tidur yang cukup bagi anak, terutama untuk menunjang perkembangan otak dan kemampuan belajar.

Anak usia sekolah dasar idealnya memerlukan tidur selama 10 hingga 12 jam setiap hari.

Jika harus bangun pukul 05.00 pagi, maka anak seharusnya tidur sejak pukul 17.00 sore, sebuah hal yang sulit direalisasikan dalam rutinitas keluarga modern.

Menurut dr. Ian, kurang tidur bisa menyebabkan berbagai masalah seperti gangguan konsentrasi, perilaku agresif, hingga kesulitan dalam berinteraksi sosial.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar jam belajar anak tetap dimulai sekitar pukul 07.00 pagi, dengan jeda istirahat rutin agar stamina dan fokus tetap terjaga.

Tidak hanya dunia medis, rencana gubernur Jabar ini juga memicu beragam respons dari masyarakat dan orang tua siswa.

Beberapa orang tua merasa bahwa kebijakan tersebut terlalu berat dan tidak sesuai dengan kondisi keluarga mereka. Terutama bagi keluarga yang rumahnya jauh dari sekolah, bangun terlalu pagi tentu menjadi tantangan tersendiri.

Namun, ada juga yang menyambut positif perubahan ini. Mereka melihatnya sebagai upaya yang baik untuk menanamkan kedisiplinan dan meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengaturan waktu belajar yang lebih efektif.

Pihak sekolah juga harus melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari perubahan jadwal guru dan staf, hingga pengaturan fasilitas dan transportasi siswa agar perubahan ini dapat berjalan lancar.

Walaupun rencana gubernur Jabar ini bertujuan untuk memperbaiki kedisiplinan dan memaksimalkan waktu belajar siswa, perhatian terhadap kesehatan dan kebutuhan fisik anak harus tetap menjadi prioritas utama.

Diskusi yang terbuka dan melibatkan semua pihak terkait sangat penting untuk menghasilkan kebijakan yang seimbang.

Mengatur jadwal sekolah memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan kebutuhan tidur dan tumbuh kembang anak.

Sebab, keduanya saling berkaitan dan sama-sama memengaruhi prestasi serta kesejahteraan siswa.

Dengan komunikasi yang baik antara pemerintah daerah, tenaga medis, guru, dan orang tua, diharapkan kebijakan ini dapat disempurnakan agar memberikan manfaat maksimal bagi perkembangan generasi muda Jawa Barat.***

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wah, Ternyata! Penimbunan Solar Subsidi di Barru Berujung Penjara
Contoh Laporan MPLS Terbaru 2026 yang Lengkap dan Praktis, Bisa Dijadikan Referensi
Rekor Baru! Daftar Pemain dengan Kontribusi Gol Terbanyak Piala Dunia 2026 Sepanjang Kompetisi
Daftar Penerima Penghargaan Piala Dunia 2026 Lengkap, Mbappe Sabet Golden Boot dan Rodri Raih Golden Ball
Temuan Material BPK di Kementerian ESDM Jadi Sorotan, DPR Desak Evaluasi dan Perbaikan
“Wih! Dugaan Tambang Batu Bara di Barru, Siapa Dalang di Baliknya?”
Pria Pembawa Honda HR-V Diduga Curian Diciduk Polisi Barru
Banyuwangi Ethno Carnival 2026 Angkat Tema Perang Bayu, Catat Jadwal dan Lokasinya

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 17:40 WIB

Wah, Ternyata! Penimbunan Solar Subsidi di Barru Berujung Penjara

Senin, 20 Juli 2026 - 14:16 WIB

Contoh Laporan MPLS Terbaru 2026 yang Lengkap dan Praktis, Bisa Dijadikan Referensi

Senin, 20 Juli 2026 - 14:01 WIB

Rekor Baru! Daftar Pemain dengan Kontribusi Gol Terbanyak Piala Dunia 2026 Sepanjang Kompetisi

Senin, 20 Juli 2026 - 13:45 WIB

Daftar Penerima Penghargaan Piala Dunia 2026 Lengkap, Mbappe Sabet Golden Boot dan Rodri Raih Golden Ball

Sabtu, 18 Juli 2026 - 10:32 WIB

Temuan Material BPK di Kementerian ESDM Jadi Sorotan, DPR Desak Evaluasi dan Perbaikan

Berita Terbaru