Redaksiku.com – Ratusan pengemudi ojek online (Ojol) memadati halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pasuruan, Selasa (4/11/2025).
Aksi ini merupakan bentuk protes massal terhadap dugaan kerusakan mesin motor yang mereka alami setelah mengisi bahan bakar minyak (BBM) di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah tersebut.
Dengan mengenakan jaket hijau khas dan membawa spanduk bertuliskan Tanggung Jawab Kerusakan Motor Kami! para pengemudi menuntut penjelasan dan pertanggungjawaban dari pihak terkait, terutama pengelola SPBU yang diduga menjadi sumber masalah.
Aksi Dimulai dengan Konvoi Damai
Demonstrasi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Ratusan Ojol berkumpul di GOR Untung Suropati, lalu melakukan konvoi menggunakan motor menuju gedung DPRD di Jalan Panglima Sudirman.
Selama perjalanan, massa tampak tertib dan dikawal aparat kepolisian serta Dinas Perhubungan agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di depan gedung DPRD, para pengemudi memarkirkan motor mereka secara berbaris rapi, sebagian di antaranya memajang poster bertuliskan,
Isi Pertalite, Motor Jadi Mogok! Siapa Bertanggung Jawab?
Mereka berharap aksi damai ini dapat menarik perhatian anggota dewan agar turun tangan mengusut dugaan BBM bermasalah yang merugikan ratusan pekerja transportasi daring.
Keluhan Massal: Mesin Mbrebet dan Mogok Setelah Isi BBM
Salah satu perwakilan pengemudi, Nurjanah (35), mengaku tidak bisa bekerja selama dua hari karena motornya rusak setelah mengisi BBM di SPBU di kawasan Jalan Soekarno-Hatta.
Motor saya langsung mbrebet dan mati total begitu keluar dari SPBU. Sudah dibawa ke bengkel, tapi katanya bahan bakarnya tercampur air atau kotoran, ujarnya dengan nada kesal.
Hal senada disampaikan Rohman, pengemudi lain yang sudah enam tahun berprofesi sebagai Ojol. Ia mengaku mengeluarkan biaya servis lebih dari Rp400 ribu hanya untuk memperbaiki injektor dan membersihkan tangki bahan bakar.
Padahal sehari-hari saya cuma dapat Rp150 ribu. Kalau kayak begini, kami yang paling rugi, keluhnya.
Banyak pengemudi lain yang menyampaikan pengalaman serupa. Setelah mengisi bensin di beberapa SPBU yang berbeda, motor mereka mengalami gejala serupa: brebet, tersendat, dan akhirnya mogok.

Desakan kepada DPRD: Bentuk Tim Investigasi
Dalam orasi di depan gedung DPRD, para pengemudi mendesak wakil rakyat segera memfasilitasi pertemuan antara perwakilan Ojol, pengelola SPBU, dan Pertamina.
Mereka juga meminta pemeriksaan kualitas bahan bakar secara menyeluruh agar kasus serupa tidak terulang.
Kami minta anggota dewan jangan diam. Kami ini rakyat kecil yang hidup dari roda dua. Kalau motor rusak karena BBM yang jelek, siapa yang ganti rugi? ujar Arif Hidayat, koordinator lapangan aksi.
Mereka menuntut DPRD mendorong investigasi independen terhadap pasokan dan penyimpanan BBM di wilayah Pasuruan, termasuk kemungkinan adanya kontaminasi air, kesalahan distribusi, atau pencampuran ilegal.
DPRD Janji Tindak Lanjut
Setelah bernegosiasi dengan perwakilan massa, Wakil Ketua DPRD Kota Pasuruan, Bambang Priyono, akhirnya menemui para demonstran.
Dalam pernyataannya, Bambang menegaskan bahwa pihaknya akan memanggil pihak SPBU dan Dinas Perdagangan untuk melakukan penelusuran terhadap laporan tersebut.
Kami sudah menerima aspirasi teman-teman Ojol. Kami akan tindak lanjuti dengan memanggil pihak terkait untuk klarifikasi. Kalau memang ada indikasi pelanggaran standar BBM, kami akan rekomendasikan langkah hukum, ujarnya di hadapan massa.
Bambang juga meminta para pengemudi untuk menyerahkan bukti pendukung seperti nota pembelian BBM, video kejadian, atau hasil pemeriksaan bengkel.
Ia berjanji DPRD akan membentuk tim gabungan yang melibatkan Pertamina dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk menguji sampel bahan bakar dari SPBU yang dilaporkan.
Pertamina Siap Cek Kualitas BBM
Menanggapi isu ini, Perwakilan Pertamina Regional Jawa Timur melalui siaran tertulis menyatakan siap melakukan pengecekan laboratorium terhadap BBM di SPBU yang dilaporkan bermasalah.
Jika terbukti ada kesalahan teknis atau kontaminasi yang menyebabkan kerusakan kendaraan, kami akan bertanggung jawab penuh, tulis keterangan resmi perusahaan tersebut.
Pertamina menjelaskan, setiap SPBU memiliki standar operasional ketat dalam penyimpanan dan distribusi BBM.
Namun, kontaminasi bisa saja terjadi akibat kondisi tangki penyimpanan yang bocor, penyaluran tidak sempurna, atau pencampuran air akibat hujan deras.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk segera melapor melalui call center 135 bila menemukan dugaan BBM tidak sesuai spesifikasi.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






