Saat itu, posisi Ayyara memunggungi Abyan. Dia kembali membuka matanya karena tarikan selimut tersebut. Sejak tadi, jantungnya memang berdegup lebih cepat karena pertanyaan-pertanyaan praduga pada lelaki itu. Apalagi sekarang, sang suami bergerak kian mendekat.
Ternyata niat Abyan untuk segera memejamkan mata tidak bisa terealisasikan. Begitu mendekati istrinya, mencium aroma khas belahan jiwanya itu membuatnya lupa diri. Hasrat yang sejak tadi dia tahan tak mampu lagi dia redam. Akhirnya, Ayyara pun pura-pura menggeliat kerena kegelian akibat ulah sang suami.
“Hai,” sapa Ayyara dengan suara sedikit parau, menoleh ke belakang. “Mas baru pulang?” imbuhnya basa-basi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Maaf, ya … aku ganggu tidurmu,” bisiknya dengan suara sedikit berat. Dia pun memutar tubuh istrinya agar mereka saling berhadapan.
Kali ini, tak ada kata-kata pembuka, ungkapan cinta ataupun rayuan untuk mengawali seperti biasanya Abyan lakukan. Dia sudah tak sabar untuk menuntaskan hajatnya.
Sementara Ayyara, meskipun dia tidak melakukan penolakan, tapi dalam benaknya sangat berisik dengan banyak pertanyaan, ejekan, sindiran pada dirinya sendiri. Dia pun mempertanyakan sentuhan sang suami yang terasa berbeda, lebih menggebu-gebu dan mampu membuatnya terbang ke atas awan.
Kalau dia sudah melakukannya dengan wanita itu, kenapa masih begitu agresif? Bukankah yang sudah puas di luar takkan lagi menyentuh istrinya? batin Ayyara memberontak.
“Love you,” bisik Abyan seraya mengecup lembut kening Ayyara sesaat setelah menuntaskan hajatnya.
Keduanya kini berbaring sambil menatap langit-langit kamar sembari mengatur ritme napasnya agar lebih rileks. Mata Abyan begitu berbinar dengan bibir tersenyum. Berbeda dengan Ayyara yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Bisakah kamu nggak menduakan aku, Mas? batinnya.
Halaman : 1 2






