Bangunan yang mengalami retakan baru atau perubahan struktur tidak seharusnya langsung digunakan kembali sebelum dipastikan aman.
Jangan Panik, tetapi Jangan Mengabaikan Risiko
Tidak berpotensi tsunami bukan berarti gempa dapat diabaikan. Risiko lokal tetap dapat muncul dari benda jatuh, kaca pecah, dinding retak, kebakaran akibat korsleting, dan kepanikan saat evakuasi.
BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketenangan diperlukan agar keputusan yang diambil tetap rasional. Namun, tenang tidak berarti kembali masuk ke bangunan tanpa pemeriksaan atau mengabaikan potensi bahaya di sekitar.
Setelah gempa, masyarakat perlu memperhatikan kemungkinan kebocoran gas, arus pendek listrik, kerusakan pipa air, hingga benda yang bergeser dari tempatnya.
Tindakan Saat Gempa Terjadi di Dalam Bangunan
Apabila gempa kembali terjadi ketika berada di dalam bangunan, prioritas pertama adalah melindungi kepala dan tubuh dari material yang dapat jatuh.
BMKG menyarankan masyarakat mencari tempat aman, seperti berlindung di bawah meja yang kuat apabila memungkinkan. Hindari kaca, lemari tinggi, rak, lampu gantung, dan benda berat yang mudah roboh.
Jangan memaksakan diri berlari keluar apabila jalur evakuasi sedang dipenuhi orang atau terdapat benda yang berjatuhan. Setelah guncangan mereda, keluar secara tertib melalui tangga biasa.
Lift tidak disarankan digunakan karena aliran listrik dapat terputus dan menyebabkan orang terjebak.
Bagi penghuni rumah bertingkat, penting mengetahui letak tangga darurat, titik kumpul, serta jalur keluar yang tidak terhalang barang.
Apa yang Harus Dilakukan di Luar Ruangan?
Ketika gempa terjadi saat berada di area terbuka, menjauhlah dari gedung, tiang listrik, papan reklame, pohon besar, jembatan, dan objek lain yang berpotensi roboh.
Perhatikan pula kondisi permukaan tanah. Hindari area yang mengalami retakan, longsoran, atau perubahan bentuk setelah guncangan.
Jika sedang berada di kawasan perbukitan, menjauhlah dari lereng yang berpotensi longsor. Guncangan dapat membuat tanah dan batuan yang tidak stabil bergerak.
Untuk masyarakat di wilayah pesisir, jangan hanya menunggu informasi melalui pesan pribadi. Pantau kanal resmi BMKG dan ikuti instruksi petugas apabila ada arahan evakuasi.
BMKG juga menyarankan masyarakat di pantai menjauhi garis pantai ketika menghadapi gempa kuat sebagai langkah antisipasi terhadap potensi tsunami.
Periksa Rumah Setelah Guncangan Berhenti
Setelah gempa berakhir, keluar dari bangunan dengan tertib dan periksa apakah ada anggota keluarga yang terluka.
Lakukan pertolongan pertama apabila memungkinkan. Hubungi petugas apabila terdapat korban yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
BMKG menyarankan masyarakat memeriksa kemungkinan kebakaran, kebocoran gas, korsleting listrik, serta kerusakan saluran air. Bangunan yang sudah rusak tidak boleh dimasuki kembali karena berisiko runtuh ketika terjadi gempa susulan.
Dokumentasikan kerusakan dari jarak yang aman. Foto dapat digunakan untuk laporan kepada pemerintah daerah, pengelola bangunan, atau pihak asuransi.
Siapkan Tas Darurat Keluarga
Gempa bumi tidak dapat dicegah, tetapi risiko terhadap keselamatan dapat dikurangi melalui persiapan.
Setiap keluarga sebaiknya memiliki tas darurat yang mudah dibawa. Isinya dapat mencakup air minum, makanan tahan lama, obat pribadi, kotak P3K, senter, baterai, radio, masker, pakaian, dokumen penting, dan pengisi daya portabel.
BMKG menyarankan ketersediaan kotak P3K, senter atau lampu baterai, radio, makanan, dan air sebagai bagian dari perlengkapan dasar menghadapi gempa.
Benda berat di rumah sebaiknya ditempatkan pada bagian bawah lemari. Rak, kabinet, dan perabot tinggi perlu dikaitkan ke dinding agar tidak mudah jatuh ketika terjadi guncangan.
Anggota keluarga juga perlu menyepakati titik kumpul. Langkah sederhana ini membantu apabila komunikasi seluler terganggu dan anggota keluarga berada di lokasi berbeda.
Waspadai Informasi Palsu Pascagempa
Setelah gempa bumi, media sosial biasanya dipenuhi video lama, prediksi tanpa dasar, rekaman dari lokasi berbeda, dan pesan yang mengatasnamakan lembaga tertentu.
Informasi seperti waktu terjadinya gempa berikutnya, ancaman tsunami tanpa peringatan resmi, atau imbauan evakuasi dari akun tidak dikenal sebaiknya tidak langsung disebarkan.
BMKG meminta masyarakat hanya mengandalkan informasi dari kanal resmi yang telah terverifikasi, termasuk situs BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan layanan peringatan dini resmi.
Memeriksa sumber sebelum membagikan informasi merupakan bagian dari mitigasi. Informasi palsu dapat menimbulkan kepanikan, menghambat evakuasi, dan mengalihkan perhatian petugas dari situasi sebenarnya.
Kesimpulan
Gempa bumi tektonik mengguncang Selat Sunda pada 8 Juli 2026 pukul 02.44 WIB. Parameter awal mencatat magnitudo 5,5, kemudian diperbarui BMKG menjadi magnitudo 5,3 dengan kedalaman 43 kilometer.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






