Pak Kardi minta maaf, beliau tidak mempelajari ilmu sesat itu. Sedang ilmu gaibnya masih jauh dari tingkat yang diperlukan. Beliau juga menyarankan untuk mencari bantuan orang yang mempunyai ilmu tandingan.
Kemudian, keluarga mengambil keputusan untuk mengeluarkan benda-benda asing itu dengan cara lain. Pihak medis menyetujui keputusan keluarga pasien. Seorang dokter memberi isyarat kepada Barman untuk mengikutinya. Berdua Rangga, mereka mengikuti dokter tersebut. Setelah masuk ruangan kosong, Barman memperkenalkan Rangga.
Maaf, Pak Barman. Menurut saya, pasien harus ditangani orang yang mempunyai ilmu setara. Saya menyarankan untuk minta pertolongan Eyang Mahmud dari Kemutug Lor. Dia cukup beken di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Barman dan Rangga langsung setuju. Mereka sangat berterima kasih atas info yang diberikan. Dokter tersebut sudah beberapa kali mendapat pasien yang menderita seperti Ratih.
Jangan terkejut, benda-benda tajam di lambungnya, akan dikeluarkan dengan muntah darah beberapa kali, jelas dokter tersebut.
Dini hari menjelang terbit fajar, Mpek An Cong dan Pakde sampai di rumah keluarga Sumbogo. Keduanya masuk dengan ilmu meringankan tubuh. Tak seorang pun yang mendengar. Sepertiga malam terakhir tadi kedua sopir dan Mbok Isah disuruh istirahat. Seperti disepakati sejak awal Pakde memberi kode bunyi burung Emprit Gantil tiga kali berturut-turut. Pak Kardi yang masih terjaga membukakan pintu.
Kangmas, Mpek, alhamdulillah kalian selamat. Jeng Ratih, dibawa ke rumah sakit tengah malam tadi. Serangan kedua mengakibatkan muntah darah.
Pakde terduduk lemas di sofa. Menutup wajah sambil kedua siku bertumpu di pahanya. Tidak makan waktu lama, air merembes di sela-sela jari jemari yang mulai keriput. Hatinya terasa teriris sembilu. Ratih, keponakannya menjadi tumpuan kemarahan gadis gila penuh ambisi.
Kita pulang sekarang. Ratih jangan diganggu dulu. Biarkan dia beristirahat. Mpek, kami pulang, rasanya lelah sekali, lelah oleh penderitaan Ratih, pamit Pakde sedikit menyindir.
Mpek An Cong tidak bisa berkata-kata, hanya mengangguk setuju. Dia berada di pihak keluarga Sumbogo. Dia mengetahui dengan persis apa yang dialami Ratih selama menikah dengan Toni. Hati rasanya seperti disayat-sayat sembilu.
Setelah mendapat alamat Eyang Mahmud, sehabis salat Subuh, Barman dan Rangga menjemputnya. Dengan bantuan Eyang Mahmud, Ratih mulai memuntahkan benda-benda gaib itu, disaksikan Mpek An Cong dan Pakde. Keadaannya sangat memilukan. Sementara keluarga Ratih dan Toni terus menguatkan hati dengan berdoa dan berzikir. Ratih memerlukan rawat inap sekitar tiga hari untuk pemulihan kesehatannya.
***
Setelah dirawat tiga hari, Ratih diperbolehkan pulang. Dia minta pulang ke rumahnya. Tidak ada seorangpun yang tidak menyetujui, termasuk Mpek An Cong. Dan tidak ada satupun yang meminta Toni untuk tinggal di keluarga Danusaputra. Keluarga Sumbogo mengantar kepulangan Ratih ke rumah orang tuanya.
Ratih mulai merasa sedikit lebih baik. Hidupnya lebih tenang berada di rumah sendiri, dikelilingi orang-orang yang mencintainya tanpa syarat. Guyuran cinta dan kasih sayang keluarga membuat kesehatannya pulih dengan cepat. Dalam hatinya mulai timbul perasaan muak dan lelah terhadap semua penderitaan yang dialaminya. Perasaan ini hari demi hari mulai menguat. Ketika akhirnya dia merasa mampu mengutarakan isi hati, Ratih menyampaikan keinginannya yang mengejutkan.
Ratih ingin cerai, kata Ratih dengan suara tegas, saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
Ayahnya menatap putrinya dengan rasa campur aduk. Bunda dan Yayo terkejut. Saat itu Bagas sudah pulang, dia tidak merasa terkejut, apalagi sudah mendengar kisah penderitaan adik bungsunya. Akhirnya, Rangga mampu menenangkan gejolak hatinya.
Ratih, kamu tahu kan konsekuensi dari perceraian?
Jadi janda kan, Ayah? Ratih nggak takut. Ratih tetep mau ke Jerman. Di sana nggak ada yang peduli. Di sana otak yang cemerlang yang akan dihargai.
Aku setuju! Daripada menderita hanya untuk menjadi bagian dari keluarga Sumbogo! ujar Bagas dengan nada sinis dan menekan di kalimat terakhir.
Bundanya terdiam dengan rasa sesal yang menghujam dalam, tanpa komentar. Saat Ratih mengatakan kata janda, hatinya seperti diremas hingga hancur. Dan kata-kata putra sulung menampar mukanya, seolah dia berambisi berbesanan dengan keluarga Sumbogo. Kilau bening merebak di netranya.
Ratih, Ayah dan Bunda tidak dapat memutuskan. Kamu sudah berada dalam ikatan suami istri. Ayah serahkan semua keputusan padamu. Bagaimana pendapat Bunda? tanya Rangga. Arum mengangguk pasrah.
Semua terserah Ratih. Bunda mendukungmu, Sayang kata Arum dengan suara bergetar. Bunda hanya berpesan, jangan membuat keputusan dalam keadaan marah. Ada Bunda dan Ayah di sampingmu! lanjutnya sambil mengembuskan napas mengusir rasa sesak di dada.
Ada Mas Yayo! Inget itu, samber Yayo serius.
Ada aku juga! Kata Bagas tegas.
Seminggu kemudian keluarga Danusaputra datang berkunjung ke kediaman Sumbogo. Mereka membicarakan keinginan Ratih, yang selama ini dia pendam. Rangga menyilakan putrinya untuk berbicara.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






