Sebaliknya, suatu wilayah dapat masuk kategori atas normal meskipun jumlah hujannya tidak terlalu besar. Hal itu dapat terjadi ketika daerah tersebut secara klimatologis memang biasanya sangat kering pada periode yang sama.
Perbedaan antara curah hujan dan sifat hujan penting dipahami agar masyarakat tidak keliru membaca peta BMKG.
Perbedaan Curah Hujan dan Sifat Hujan
Curah hujan menunjukkan jumlah air hujan yang turun dalam periode tertentu. Pada informasi dasarian, satuannya menggunakan milimeter per dasarian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sifat hujan membandingkan curah hujan aktual atau prediksi dengan nilai normal pada wilayah dan periode yang sama.
Sebagai contoh, dua wilayah sama-sama menerima hujan 40 milimeter dalam sepuluh hari. Namun, sifat hujannya dapat berbeda apabila kondisi normal kedua wilayah tidak sama.
Di daerah yang biasanya menerima 100 milimeter, angka 40 milimeter dapat masuk kategori bawah normal. Di wilayah yang rata-ratanya hanya 25 milimeter, jumlah yang sama dapat dikategorikan atas normal.
Karena itu, peta curah hujan digunakan untuk melihat besarnya akumulasi, sedangkan peta sifat hujan menunjukkan apakah jumlah tersebut lebih basah atau lebih kering dibandingkan kebiasaan jangka panjang.
Musim Kemarau Meluas pada Dasarian I Juli
Hasil analisis Dasarian I Juli 2026 memperlihatkan bahwa musim kemarau telah terjadi di sekitar 60,5 persen Zona Musim Indonesia.
Wilayah yang telah memasuki musim kemarau mencakup DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, hampir seluruh Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, serta berbagai bagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Pada periode 1–10 Juli tersebut, sekitar 72,38 persen wilayah Indonesia tercatat mengalami curah hujan rendah. Sebanyak 70,08 persen juga memiliki sifat hujan bawah normal.
Data itu memperlihatkan perubahan yang cukup cepat menuju kondisi lebih kering. BMKG menyebut proporsi wilayah yang memasuki musim kemarau meningkat 11,6 persen dibandingkan dasarian sebelumnya.
Peringatan Kekeringan Mulai Diterbitkan
Menguatnya musim kemarau mendorong BMKG menerbitkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian II Juli 2026.
Status waspada berlaku di sejumlah kabupaten atau kota di Bali, DI Yogyakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, NTB, NTT, Papua Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
Status siaga diterbitkan untuk sejumlah wilayah di Bali, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku, NTB, dan NTT. BMKG tidak menetapkan kategori awas dalam laporan tersebut.
Peringatan kekeringan meteorologis berkaitan dengan kondisi curah hujan dan panjangnya periode tanpa hujan. Status tersebut belum selalu berarti sumber air di seluruh wilayah sudah habis.
Namun, informasi itu dapat digunakan pemerintah daerah untuk mengantisipasi berkurangnya air baku, gangguan pertanian, meningkatnya risiko kebakaran lahan, dan kebutuhan distribusi air bersih.
Kemarau Tidak Menghilangkan Risiko Hujan Lebat
Meskipun sebagian besar wilayah sedang mengalami kondisi kering, hujan sedang hingga lebat masih dapat muncul secara lokal.
BMKG memperkirakan Papua berstatus siaga terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada periode 14–17 Juli 2026. Hujan sedang juga berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Sumatra, Jawa Barat, NTB, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Pegunungan.
Kondisi tersebut terjadi karena iklim musiman bukan satu-satunya faktor pembentuk hujan. Gelombang atmosfer, pertemuan angin, suhu muka laut, dan sirkulasi lokal masih dapat mendukung pertumbuhan awan hujan.
Artinya, musim kemarau tidak selalu identik dengan cuaca cerah setiap hari. Suatu wilayah dapat mengalami hujan lebat sesaat meskipun akumulasi selama sepuluh hari tetap berada pada kategori rendah.
Dasarian Membantu Menentukan Awal Musim
BMKG menggunakan akumulasi curah hujan dasarian dalam pemantauan awal musim hujan dan musim kemarau.
Pemantauan dilakukan dengan melihat jumlah hujan serta keberlanjutan kondisi tersebut selama beberapa dasarian. Pendekatan ini mencegah satu kejadian hujan besar dianggap sebagai awal musim hujan apabila periode setelahnya kembali kering.
Penggunaan interval sepuluh hari juga memungkinkan BMKG membandingkan awal musim dengan kondisi normal. Dari analisis itu dapat diketahui apakah musim datang lebih awal, sama, atau lebih lambat daripada biasanya.
Dalam pemutakhiran Juni 2026, BMKG memprediksi sebagian besar puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Sebagian besar musim kemarau juga diperkirakan berlangsung selama 10–21 dasarian di 388 Zona Musim.
Manfaat Informasi Dasarian untuk Pertanian
Bagi sektor pertanian, informasi dasarian dapat digunakan untuk menentukan waktu tanam, mengelola irigasi, dan memperkirakan kebutuhan air.
Petani tidak hanya membutuhkan informasi apakah besok akan hujan. Mereka juga perlu mengetahui apakah hujan diperkirakan cukup konsisten selama beberapa pekan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Ketika beberapa dasarian diprediksi kering, jadwal penanaman dapat disesuaikan dengan ketersediaan air. Pemerintah daerah juga dapat menentukan prioritas distribusi air untuk wilayah pertanian yang paling rentan.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






