Sebelumnya, Dadang sempat mendengar teriakan Santi dari kejauhan. Ia menduga sesuatu yang buruk telah terjadi di rumah itu. Kini, dugaan itu diperkuat dengan penampilan Santi yang kacau, juga kondisi kelambu yang robek di sana-sini seperti bekas sayatan benda tajam.
“Mana mobil?” selidik Santi, merujuk pada truk sawit yang biasa dikendarai Dadang. Ia bertanya dengan kaku dan penuh curiga. Suaranya bergetar oleh sisa-sisa ketakutan.
“Abang tinggalkan di rumah Pak Bos. Truk itu tetap harus bekerja walaupun Abang cuti.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pulang dengan siapa?” tanya Santi lagi, masih dengan nada yang sama.
“Diantar anak Pak Bos sampai persimpangan di depan, setelah itu Abang jalan kaki sampai kemari.” Dadang menjawab seraya melepaskan satu per satu tali kelambu di keempat sudutnya. Tak ada gunanya menggunakan kelambu yang telah rusak sebagai tameng dari nyamuk, begitu pikir Dadang.
“Kau memasang banyak lilin di kamar tetapi membiarkan ruangan lain dalam keadaan gelap,” ujar Dadang seraya mengambil beberapa lilin yang menyala. “Istirahatlah, San. Abang akan memindahkan lilin-lilin ini ke ruangan lain,” tambahnya lagi.
Santi menurut. Ketakutannya sedikit berkurang karena kini ada Dadang yang menemaninya. Ia meletakkan bayinya di atas tempat tidur, lalu ikut berbaring di sebelahnya. Tak lama kemudian, Dadang menyusul berbaring di sisi lainnya.
Hal yang tidak disadari Dadang dan Santi, dari balik celah antara dinding dan langit-langit rumah, ada sepasang mata sebesar telur ayam yang mengawasi mereka. []






