Resolusi DK PBB Desak Iran Hentikan Serangan, Rusia dan China Protes Isi Dokumen Dinilai Tak Seimbang

- Penulis

Jumat, 13 Maret 2026 - 09:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Resolusi DK PBB Desak Iran Hentikan Serangan, Rusia dan China Protes Isi Dokumen Dinilai Tak Seimbang

Resolusi DK PBB Desak Iran Hentikan Serangan, Rusia dan China Protes Isi Dokumen Dinilai Tak Seimbang

Redaksiku.com – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa resmi mengesahkan sebuah resolusi yang mendesak Iran untuk segera menghentikan seluruh aksi militer terhadap negara-negara di kawasan Teluk.

Keputusan tersebut diambil dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 11 Maret 2026.

Meski resolusi tersebut berhasil disahkan dengan dukungan mayoritas anggota, keputusan itu langsung memicu perdebatan di tingkat internasional. Dua anggota tetap Dewan Keamanan, yaitu Rusia dan China, memilih untuk tidak memberikan suara dukungan penuh dengan mengambil posisi abstain.

Kedua negara tersebut menilai isi resolusi tidak menggambarkan keseluruhan konteks konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Resolusi Disetujui Mayoritas Anggota DK PBB

Dalam pemungutan suara yang berlangsung di markas besar PBB di New York, sebanyak 13 negara anggota Dewan Keamanan menyatakan dukungan terhadap resolusi tersebut.

Dokumen tersebut berisi desakan kepada Iran agar segera menghentikan berbagai operasi militer yang dinilai mengancam stabilitas keamanan kawasan Teluk.

Resolusi juga menyebut sejumlah negara yang terdampak oleh eskalasi konflik, antara lain:

  • Bahrain

  • Kuwait

  • Oman

  • Qatar

  • Arab Saudi

  • Uni Emirat Arab

  • Yordania

Melalui resolusi tersebut, Dewan Keamanan juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas geopolitik di kawasan Teluk yang dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.

Kekhawatiran atas Gangguan di Selat Hormuz

Salah satu poin utama dalam resolusi tersebut adalah kecaman terhadap tindakan Iran yang dinilai berpotensi mengganggu jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Dalam dokumen resolusi, Dewan Keamanan mengecam segala bentuk ancaman yang dapat menghambat navigasi internasional di wilayah tersebut.

Isi dokumen tersebut menyatakan bahwa setiap upaya untuk menutup, menghalangi, atau mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi global.

Karena itu, DK PBB menilai tindakan Iran di kawasan tersebut sebagai ancaman serius bagi keamanan energi dunia.

Resolusi DK PBB Desak Iran Hentikan Serangan, Rusia dan China Protes Isi Dokumen Dinilai Tak Seimbang
Resolusi DK PBB Desak Iran Hentikan Serangan, Rusia dan China Protes Isi Dokumen Dinilai Tak Seimbang

Rusia dan China Protes Isi Resolusi

Meski sebagian besar anggota Dewan Keamanan memberikan dukungan, Rusia dan China memutuskan untuk tidak menyetujui resolusi tersebut.

Kedua negara menilai dokumen tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kronologi konflik yang terjadi di kawasan.

Menurut pandangan mereka, resolusi tersebut tidak menyebutkan secara jelas adanya serangan awal yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran.

Serangan tersebut dilaporkan terjadi pada 28 Februari 2026 dan disebut menjadi pemicu meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Bagi Rusia dan China, pengabaian fakta tersebut membuat resolusi terlihat tidak seimbang dan cenderung menyudutkan Iran tanpa mempertimbangkan latar belakang konflik secara menyeluruh.

Serangan Awal yang Menjadi Sorotan

Salah satu alasan utama kritik terhadap resolusi DK PBB adalah tidak adanya penyebutan mengenai operasi militer yang dilaporkan menargetkan Iran pada akhir Februari 2026.

Serangan tersebut disebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat penting pemerintahan.

Kematian tokoh yang selama ini memegang posisi strategis dalam struktur politik Iran tersebut memicu eskalasi ketegangan yang signifikan di kawasan.

Banyak pihak menilai peristiwa tersebut menjadi titik awal dari rangkaian aksi militer yang kemudian terjadi di wilayah Teluk.

Namun, fakta tersebut tidak tercantum secara eksplisit dalam resolusi yang disahkan oleh Dewan Keamanan.

Iran Kritik Keras Keputusan DK PBB

Perwakilan Iran di PBB, Amir Saeid Iravani, menyampaikan kritik keras terhadap keputusan Dewan Keamanan.

Menurut Iravani, resolusi tersebut tidak mencerminkan keadilan karena hanya menyoroti tindakan Iran tanpa menyinggung serangan yang lebih dahulu dilakukan terhadap negaranya.

Ia menyatakan bahwa Iran justru berada dalam posisi defensif setelah menjadi korban agresi militer.

Serangan terhadap kami dimulai dengan pembunuhan pemimpin tertinggi serta pejabat penting negara kami, ujarnya dalam pernyataan resmi di sidang PBB.

Iran Paparkan Dampak Serangan Militer

Dalam kesempatan tersebut, Iravani juga menyampaikan data yang diklaim sebagai dampak dari operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026.

Menurut data yang disampaikan Iran:

  • 1.348 warga sipil dilaporkan tewas

  • sekitar 17.000 orang mengalami luka-luka

  • hampir 19.000 lokasi sipil mengalami kerusakan

Pemerintah Iran menilai serangan tersebut telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang serius.

Karena itu, mereka menganggap langkah militer yang dilakukan di kawasan Teluk sebagai bentuk respons defensif terhadap agresi yang dialami.

Penulis : Redaksiku

Editor : Redaksiku

Sumber Berita: Berbagai sumber

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pesawat Boeing 737 Hilang Kontak di Lepas Pantai Karachi, Operasi Pencarian Diperluas
Breaking News! Rusia Perkuat Iran dengan Pesawat Tempur, Ancaman Baru Dimulai?
Jelang Operasi Pekat Lipu, Polres Barru Pastikan Personel Siap Tempur
Belarus, Wajib Tahu 7 Fakta Negara Eropa Timur yang Jadi Sorotan
Syukuran Hari Bhayangkara, Polres Barru Perkuat Pengabdian
Upacara Hari Bhayangkara, Polres Barru Perkuat Kepercayaan Publik
Tak Ingin Warga Terlunta, Kapolsek Pujananting Perjuangkan Bantuan BAZNAS
Kapolres Barru: Naik Pangkat, Siap Emban Tanggung Jawab Lebih Besar

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:03 WIB

Pesawat Boeing 737 Hilang Kontak di Lepas Pantai Karachi, Operasi Pencarian Diperluas

Minggu, 5 Juli 2026 - 21:27 WIB

Breaking News! Rusia Perkuat Iran dengan Pesawat Tempur, Ancaman Baru Dimulai?

Jumat, 3 Juli 2026 - 10:07 WIB

Jelang Operasi Pekat Lipu, Polres Barru Pastikan Personel Siap Tempur

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:10 WIB

Belarus, Wajib Tahu 7 Fakta Negara Eropa Timur yang Jadi Sorotan

Kamis, 2 Juli 2026 - 06:10 WIB

Syukuran Hari Bhayangkara, Polres Barru Perkuat Pengabdian

Berita Terbaru

Cara Membangun Empati Anak

Ibu dan Anak

4 Cara Membangun Empati Anak

Rabu, 8 Jul 2026 - 13:24 WIB