Bangsat! Sini, lu! Belagu amat baru punya duit segitu doang! Hana itu cintanya sama gue bukan sama elu, tai!
Ayo!
Reivan bergegas menarik lenganku. Sambil berlari-lari kecil dan terisak-isak aku mengikuti langkahnya yang secepat kilat. Ia menyuruhku masuk ke mobil. Sebelum menutup pintu, aku masih bisa mendengar Alston memaki, Hei, Anjing! Tai lu! Gue doain mati, lu!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Reivan membuka kaca jendela lalu meludah ke luar. Aku susah payah memintanya agar berhenti memprovokasi Alston.
Bisa-bisanya kamu jatuh cinta sama laki-laki semacam dia, kata Reivan sambil memundurkan mobilnya.
Dengan wajah yang dibanjiri air mata, perlahan-lahan kulihat bayangan Alston mengecil lalu menghilang dari pandanganku. Tak kusangka hubungan kami yang begitu indah pada awalnya akan berakhir dengan amat menyedihkan. Tak pernah kuduga bahwa lelaki yang kuharapkan menjadi suamiku kelak malah menjadi orang yang paling pertama menghancurkan mimpi-mimpiku. Pada akhirnya, aku tetap sendirianaku akan selalu sendirian dengan hidupku yang berantakan.
Angkat teleponnya!
Saat itu baru kusadari kalau ponselku berdering berkali-kali, seakan-akan ada hal penting yang harus segera kutangani. Tanpa menunda-nunda lagi, langsung kuangkat panggilan itu. Dari Mama. Ia menanyakan posisiku.
Pulang, Hana. Sekarang!
Nada Mama yang tegas membuat perasaanku tidak enak, belum lagi ketika masuk panggilan lain dari Bang Hadi. Sesuatu dalam diriku langsung meyakini, ada hal buruk yang telah terjadi sejak aku meninggalkan rumah Reivan kemarin. Perasaan itu begitu kuat sampai-sampai aku tidak sanggup mendengar kelanjutan ucapan Mama. Aku juga tidak berani menerima telepon Bang Hadi.
Kenapa, Mah?
Papa masuk rumah sakit lagi. Makanya kamu cepat pulang ¦..
Durasi tangisanku makin panjang. Setelah menangisi Alston, berikutnya aku lanjut menangisi Papa. Papa kenapa, Mah?
Nanti Mama jelasin, sekarang kamu pulang dulu.
Belum juga selesai pembicaraanku dengan Mama, ponsel Reivan menjerit. Ia segera menepikan mobil sebelum mengangkat telepon.
Bang Hadi, gumamnya. Iya, Bang?
Kamu sama Hana? tanya Bang Hadi lewat pelantang suara dari ponsel Reivan. Suruh dia pulang ke rumah orang tua saya sekarang! Bikin malu keluarga aja!
Aku tahu, saat itu juga, meski ragaku masih bernyawa, tetapi hakikatnya hidupku telah berakhir. Aku telah mati dan aku sedang merayakannya. []
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






