Redaksiku.com – Isu soal pencemaran lingkungan lagi-lagi jadi sorotan di Binjai Barat, Sumatera Utara.
Kali ini, sejumlah warga Jalan Sawo, Kelurahan Bandar Senembah, menyuarakan keresahan mereka akibat bau tak sedap yang diduga berasal dari limbah pabrik tahu di sekitar kawasan tersebut.
Aksi protes ini bukan tanpa alasan. Warga sudah cukup lama menahan ketidaknyamanan akibat aroma menyengat yang muncul setiap hari. Parahnya lagi, dugaan adanya bekingan dari oknum tertentubahkan disebut-sebut melibatkan aparatbikin masalah ini terasa makin rumit.
Warga Mulai Resah, Siap Gelar Aksi
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya buka suara soal keresahan ini. Menurutnya, sudah berkali-kali masyarakat meminta solusi, tapi hingga kini belum ada langkah tegas dari pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kami bisa turun aksi kalau masalah limbah pabrik tahu ini nggak juga diselesaikan, ungkapnya saat dimintai keterangan, Sabtu (6/9/2025).
Pernyataan ini mencerminkan betapa masyarakat sekitar sudah sampai di titik jenuh. Mereka bukan sekadar terganggu bau busuk, tapi juga khawatir kesehatan serta kualitas hidup sehari-hari ikut terancam.
Pemko Binjai Sebenarnya Sudah Turun Tangan
Masalah ini sebenarnya sudah pernah ditangani. Bahkan, Wakil Wali Kota (Wawako) Binjai, Hasanul Jihadi, langsung turun sidak ke lokasi beberapa waktu lalu. Saat itu, Hasanul memberikan teguran sekaligus arahan agar para pengusaha tahu memperbaiki sistem pengolahan limbah.
Instruksinya jelas: jangan sampai limbah pabrik mencemari lingkungan sekitar, apalagi sungai yang jadi sumber air untuk banyak warga.
Namun sayangnya, janji perbaikan itu seperti hanya berhenti di ucapan. Warga menilai para pemilik usaha tahu masih terus membuang limbahnya sembarangan ke aliran sungai.

Dampak Nyata di Kehidupan Warga
Bau busuk yang menyengat bukan satu-satunya masalah. Air sumur warga di sekitar lokasi disebut sudah berubah warna menjadi hitam pekat. Bau dari air tersebut juga terasa tidak normal, sehingga membuat warga was-was untuk menggunakannya.
Bisa dibayangkan betapa sulitnya kondisi itu. Sumur yang biasanya jadi sumber air bersih untuk masak, mandi, atau mencuci, kini justru dianggap berbahaya. Kalau sudah begini, warga jadi terpaksa mencari alternatif air lain, yang tentu saja bikin pengeluaran rumah tangga bertambah.
Selain itu, kesehatan masyarakat juga jadi taruhannya. Air yang tercemar bisa memicu berbagai penyakit kulit, gangguan pencernaan, bahkan penyakit serius jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Isu Oknum Diduga Membekingi
Yang bikin situasi makin pelik, muncul kabar adanya oknum aparat yang diduga membekingi aktivitas pabrik tahu tersebut. Meski isu ini masih berupa dugaan, kabar itu sudah bikin warga makin kesal.
Buat masyarakat, hal ini terasa seperti jalan buntu. Bagaimana mungkin ada keadilan lingkungan kalau justru ada pihak yang harusnya melindungi rakyat, malah diduga melindungi pencemar lingkungan?
Belum ada keterangan resmi terkait dugaan ini, tapi sorotan publik makin besar. Netizen di media sosial pun ramai membicarakan isu tersebut, sehingga kasusnya jadi viral.
Masalah Lingkungan yang Tak Kunjung Usai
Kalau dilihat lebih luas, kasus pencemaran limbah pabrik tahu di Binjai Barat ini sebenarnya cerminan klasik dari persoalan lingkungan yang sering muncul di banyak daerah. Di satu sisi, ada kebutuhan ekonomi masyarakat lewat usaha kecil-menengah seperti produksi tahu. Tapi di sisi lain, kalau nggak dikelola dengan benar, limbah dari usaha ini bisa mencemari lingkungan dan merugikan orang banyak.
Sebenarnya, solusi teknis untuk masalah ini bukan hal yang mustahil. Pengusaha bisa mengolah limbah dengan sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sederhana. Teknologi ini sudah banyak digunakan di industri sejenis, bahkan dengan biaya yang tidak terlalu mahal.
Sayangnya, niat untuk memperbaiki sistem inilah yang masih dipertanyakan. Apakah pelaku usaha benar-benar mau berbenah, atau hanya sekadar menunggu masalah mereda dan kembali melakukan hal yang sama?
Harapan Warga ke Depan
Masyarakat Jalan Sawo jelas ingin kehidupan mereka kembali normal. Mereka tidak menolak keberadaan pabrik tahu, tapi yang mereka minta sederhana: jangan sampai usaha itu merusak lingkungan.
Warga berharap Pemko Binjai bertindak lebih tegas, bukan hanya sebatas sidak atau teguran. Kalau memang ada pelanggaran, harus ada sanksi nyata agar pelaku usaha jera.
Selain itu, isu soal dugaan bekingan oknum juga harus segera diluruskan. Transparansi dan penegakan hukum jadi kunci penting supaya kepercayaan masyarakat nggak makin luntur.
Penutup: Saatnya Serius Atasi Limbah
Kasus limbah pabrik tahu di Binjai Barat ini jadi alarm keras bahwa masalah lingkungan nggak bisa dianggap sepele. Warga sudah cukup lama menahan bau busuk, melihat air sumur tercemar, dan merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau dibiarkan, masalah ini bukan cuma bikin warga sengsara, tapi juga bisa mencoreng citra pemerintah daerah dalam menjaga kualitas lingkungan.
Harapan besarnya, Pemko Binjai bersama instansi terkait bisa segera memberi solusi nyata. Entah dengan memaksa pabrik tahu memperbaiki sistem limbahnya, memberi sanksi tegas, atau bahkan menutup usaha jika terbukti terus melanggar.
Karena pada akhirnya, hak masyarakat untuk hidup di lingkungan yang sehat harus diutamakan.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






