Redaksiku.com – Liburan yang seharusnya menjadi momen bahagia dan menenangkan justru berubah menjadi pengalaman penuh stres bagi ratusan Wisatawan Cianjur Terlantar.
Rombongan besar yang berangkat untuk healing ke Pantai Pangandaran, Jawa Barat, harus menghadapi kenyataan pahit: mereka terlantar tanpa kepastian tempat menginap selama berjam-jam akibat kelalaian pihak jasa travel yang mengatur perjalanan tersebut.
Insiden yang terjadi pada akhir pekan ini sontak viral di media sosial setelah sejumlah peserta wisata membagikan pengalaman tidak menyenangkan mereka. Tagar #WisataGagal #CianjurTerlantar #TravelAbalAbal ramai digunakan oleh warganet yang ikut mengomentari peristiwa itu.
Ratusan Wisatawan Gagal Healing, Malah Terlantar
Rombongan wisatawan tersebut diketahui berjumlah lebih dari 100 orang, terdiri atas keluarga, ibu-ibu, dan anak-anak yang berangkat dari Kabupaten Cianjur menuju kawasan wisata Pantai Pangandaran. Mereka menempuh perjalanan panjang selama delapan jam menggunakan tiga unit bus pariwisata yang disewa melalui jasa travel @traveldaun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, setibanya di lokasi wisata, suasana yang diharapkan menenangkan seketika berubah menjadi kekacauan. Para wisatawan mendapati bahwa pemesanan hotel dan penginapan yang dijanjikan pihak travel ternyata tidak ada. Tidak ada kamar yang disiapkan, bahkan nama rombongan pun tidak tercatat di sistem reservasi penginapan mana pun.
Salah seorang peserta wisata, melalui akun TikTok @intannurulhayati, membagikan momen frustrasi tersebut. Dalam unggahannya yang kini telah ditonton ratusan ribu kali, ia menulis:
Bagaimana ini @traveldaun, kita 3 bus terlantar di Pangandaran, tidak ada booking-an hotel. Luntang-lantung tengah hari!
Video itu memperlihatkan suasana rombongan yang kelelahan dan kebingungan di tepi jalan, sebagian duduk di trotoar, sebagian lagi mencoba mencari tempat berteduh di bawah terik matahari.
Kekecewaan Memuncak, Polisi Turun Tangan
Situasi di lapangan sempat memanas. Beberapa wisatawan terlihat mendesak pihak travel untuk memberikan kejelasan. Ketegangan itu akhirnya mendorong pihak kepolisian setempat turun tangan untuk menengahi permasalahan antara wisatawan dan pengelola jasa travel.
Pertemuan mediasi dilakukan di salah satu pos wisata di kawasan Pangandaran. Setelah berlangsung cukup alot, pihak travel akhirnya membuat surat pernyataan resmi, menyebutkan bahwa mereka akan bertanggung jawab atas kerugian yang dialami para peserta.
Dalam surat tersebut, pihak travel berkomitmen untuk mengembalikan uang kerugian sebesar Rp9 juta kepada rombongan wisatawan, dengan batas waktu paling lambat 10 November 2025. Uang itu disebut sebagai kompensasi atas biaya tambahan dan ketidaknyamanan yang dialami wisatawan.
Pihak travel juga menyatakan kesiapannya untuk menempuh jalur hukum jika tidak mampu memenuhi janji pengembalian dana tersebut. Dalam unggahan lanjutan, akun @intannurulhayati membagikan hasil kesepakatan tersebut:
Sudah berunding dengan pihak travel yang bertanggung jawab, dengan perjanjian tanggal 10 November akan dikembalikan kerugian yang dikeluarkan oleh anggota tour.
Wisatawan Memutuskan Pulang, Liburan Gagal Total
Meski telah ada perjanjian tertulis, rombongan wisatawan tetap memilih pulang ke Cianjur pada sore hari. Mereka menilai situasi di lapangan tidak memungkinkan untuk melanjutkan liburan karena tidak adanya kepastian akomodasi dan kondisi yang sudah sangat melelahkan.
Anak-anak sudah capek, tidak tahu harus tidur di mana, jadi kami sepakat pulang saja, kata salah satu peserta wisata yang enggan disebut namanya.
Bus-bus pariwisata yang sebelumnya membawa rombongan ke Pangandaran akhirnya kembali berangkat ke Cianjur pada sore hari, menutup perjalanan yang seharusnya menjadi momen istirahat justru berakhir dengan kekecewaan mendalam.
Travel Diduga Tak Profesional dan Tidak Siapkan Reservasi
Berdasarkan keterangan beberapa peserta, pihak travel sebelumnya telah menerima pembayaran penuh, termasuk biaya transportasi, penginapan, dan konsumsi selama liburan. Namun, tidak ada bukti reservasi hotel yang sah saat mereka tiba di lokasi.
Beberapa peserta menduga bahwa agen travel tersebut melakukan maladministrasi atau penipuan ringan, dengan menjanjikan fasilitas yang sebenarnya tidak pernah dipesan. Saat dimintai klarifikasi, perwakilan travel berdalih bahwa terjadi kesalahan komunikasi antara pihak biro dan pengelola hotel di Pangandaran.
Namun, alasan itu sulit diterima para wisatawan yang merasa dirugikan secara materi maupun emosional. Banyak di antara mereka mengaku telah menabung berbulan-bulan demi mengikuti paket wisata ini.
Uang bukan cuma Rp200 ribu atau Rp300 ribu, tapi totalnya besar untuk kami yang ikut sekeluarga. Rasanya kecewa sekali, bukan hanya karena uang tapi karena niat liburan bareng keluarga malah jadi kayak gini, ujar seorang peserta wanita dengan nada kesal.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






