Pria di Makassar menjadi sorotan publik setelah video aksinya mengamuk di sebuah warung viral di media sosial.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada 25 Mei 2025 dan mengejutkan banyak pihak karena pelaku melakukan kekerasan di depan anaknya sendiri.
Motif utama kemarahan diduga karena sang ibu tidak memberinya uang untuk membeli sebuah iPhone, yang memicu tindakan agresif.
Kronologi Lengkap Pria di Makassar Mengamuk di Warung Ibunya Sendiri

Peristiwa bermula ketika pria di Makassar tersebut mendatangi warung milik ibunya dengan maksud meminta uang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah permintaan itu ditolak, ia langsung meluapkan kemarahan secara brutal dengan menghancurkan isi warung.
Dalam video yang viral, tampak jelas pria itu membanting barang dagangan, menyapu etalase kaca hingga pecah, dan berteriak-teriak.
Tak hanya merusak, pria tersebut juga terlihat mengambil sebilah kayu panjang dan mendekati ibunya dengan gerakan mengancam.
Aksi itu sontak mengundang perhatian warga sekitar yang langsung datang untuk menenangkan situasi.
Seorang pria dewasa tampak berhasil merebut kayu dari tangan pelaku sebelum sempat melukai sang ibu.
Kondisi warung pasca kejadian terlihat berantakan, dengan barang-barang berserakan dan kerusakan parah di bagian depan warung.
Teriakan warga yang menyaksikan kejadian juga terekam jelas, meminta agar pelaku tidak menyakiti ibunya sendiri.
Mirisnya, insiden ini terjadi di hadapan seorang anak kecil yang berada di dekat lokasi kejadian dan diduga merupakan anak dari pelaku.
Kehadiran anak tersebut menambah kekhawatiran karena dikhawatirkan menyaksikan langsung kekerasan akan berdampak pada kondisi psikologisnya.
Reaksi Publik terhadap Aksi Pria di Makassar
Setelah video pria di Makassar ini menyebar luas, banyak warganet menyuarakan kemarahan dan keprihatinan atas kejadian tersebut.
Sebagian besar komentar menyoroti pentingnya pengendalian emosi, terutama saat berada di lingkungan keluarga.
Identitas lengkap pelaku belum diungkapkan oleh pihak berwenang, namun polisi disebut telah menerima laporan atas tindakan kekerasan ini.
Netizen pun mendesak agar pria di Makassar tersebut segera ditindak secara hukum karena telah mengancam keselamatan jiwa ibunya sendiri.
Tidak sedikit juga yang menyayangkan bahwa peristiwa kekerasan seperti ini masih sering terjadi di lingkungan rumah tangga.
Perlu pendekatan serius terhadap pelaku kekerasan dalam rumah tangga, termasuk dukungan mental bagi semua pihak yang terdampak.
Aksi pria di Makassar yang terekam mengamuk di warung milik ibunya bukan hanya menggambarkan konflik pribadi semata, melainkan mencerminkan potret nyata krisis emosional yang sedang menggerogoti sebagian masyarakat.
Insiden ini menjadi bukti bahwa ketegangan dalam hubungan keluarga, jika tidak ditangani dengan baik, dapat berubah menjadi ledakan kekerasan yang merugikan banyak pihak, termasuk mereka yang tidak bersalah.
Tidak sedikit yang menilai bahwa tindakan pria di Makassar ini merupakan hasil dari kegagalan dalam mengelola stres, ego, dan keinginan pribadi yang tak terpenuhi, yang akhirnya meledak dalam bentuk agresi terhadap orang terdekat.
Masyarakat seharusnya menjadikan peristiwa ini sebagai alarm bahaya bahwa konflik internal rumah tangga bukan persoalan sepele, terutama jika sudah melibatkan kekerasan fisik dan psikis.
Menyerang ibu kandung sendiri demi tuntutan materi seperti iPhone, yang sejatinya bukan kebutuhan mendesak, menunjukkan bagaimana konsumerisme dan tekanan sosial dapat memperkeruh emosi seseorang hingga kehilangan kendali.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah keberadaan seorang anak kecil di lokasi kejadian, yang harus menyaksikan langsung tindakan kekerasan dalam bentuk paling nyata.
Anak-anak yang melihat kekerasan semacam ini berpotensi mengalami trauma jangka panjang, gangguan perilaku, hingga kerusakan pada cara mereka memahami hubungan antar manusia ke depannya.
Itulah sebabnya para psikolog dan pemerhati keluarga menekankan pentingnya menciptakan ruang dialog di dalam rumah serta mengenalkan keterampilan pengelolaan emosi sejak dini.
Selain itu, lembaga seperti BNN dan organisasi sosial lainnya mengingatkan bahwa masyarakat perlu melek literasi emosional agar dapat membedakan antara kebutuhan emosional yang wajar dan dorongan impulsif yang merusak.
Kasus pria di Makassar ini kini menjadi sorotan bukan hanya karena viralitas videonya, tapi juga karena ia telah menjadi cermin yang memaksa masyarakat melihat sisi gelap yang sering diabaikan: lemahnya kemampuan sebagian individu dalam mengelola tekanan hidup.
Tindakan tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai insiden biasa, melainkan sebagai peringatan mendesak akan pentingnya pendekatan holistik untuk mencegah kekerasan domestik dan membangun budaya keluarga yang sehat secara mental dan emosional.
Oleh karena itu, aparat penegak hukum diharapkan tidak hanya memproses kasus ini secara hukum, tetapi juga bekerja sama dengan lembaga rehabilitasi psikologis agar pelaku bisa menjalani evaluasi mental menyeluruh.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






