Redaksiku.com – Media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya sebuah video yang memperlihatkan seorang wali murid memprotes kurikulum sekolah dasar.
Video tersebut viral pada Senin, 22 September 2025, setelah diunggah ke berbagai platform.
Dalam rekaman itu, terlihat seorang ibu yang memperlihatkan lembar soal ujian anaknya. Ia merasa heran sekaligus geram karena soal yang diberikan kepada murid kelas 1 SD justru menyerupai soal ujian Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Kondisi ini dianggap tidak sesuai dengan kemampuan dasar siswa sekolah dasar.
Kritik terhadap Kurikulum
Sang ibu kemudian melontarkan protes keras kepada pihak sekolah terkait materi ujian tersebut. Ia menilai kurikulum yang diterapkan tidak relevan dengan jenjang pendidikan anak-anak. Protes ini pun langsung menarik perhatian publik karena menyangkut isu mendasar tentang kualitas dan kesesuaian kurikulum di sekolah dasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ungkapan kekecewaan tersebut disertai dengan kalimat bernada sindiran dalam keterangan video: Emak-emak protes kurikulum, kelas 1 SD dikasih soal tes CPNS.
Respons Netizen di Media Sosial
Tak butuh waktu lama, video tersebut menuai beragam komentar dari warganet. Banyak yang merasa prihatin sekaligus mengkritik keras penyusunan soal ujian yang dinilai tidak sesuai perkembangan anak.
Beberapa komentar yang muncul di antaranya:
– Salah kurikulum, tulis seorang netizen.
– Lemahnya pengawasan, tambah yang lain.
Komentar-komentar tersebut memperlihatkan bahwa publik menilai ada yang salah dalam sistem pendidikan, terutama terkait mekanisme penyusunan soal dan pengawasan terhadap kurikulum.

Polemik Pendidikan Dasar
Kasus ini membuka kembali perdebatan tentang kualitas pendidikan dasar di Indonesia. Banyak pihak menilai bahwa beban kurikulum sering kali terlalu berat bagi siswa sekolah dasar. Materi yang seharusnya difokuskan pada pembentukan karakter dan penguasaan dasar justru dibebani soal-soal yang terlalu tinggi tingkatannya.
Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai siapa yang bertanggung jawab dalam menyusun soal ujian tersebutapakah guru, sekolah, atau ada instruksi dari tingkat yang lebih tinggi.
Tuntutan Transparansi dan Evaluasi
Publik berharap kasus ini tidak hanya berhenti sebagai viral semata, tetapi juga menjadi momentum evaluasi. Transparansi dalam penyusunan kurikulum dan soal ujian dianggap penting agar tidak lagi terjadi kesalahan serupa.
Pemerhati pendidikan menilai bahwa pengawasan terhadap kualitas soal ujian harus diperketat. Soal yang tidak sesuai jenjang dapat menimbulkan tekanan psikologis pada siswa dan berpengaruh pada minat belajar mereka.
Dampak bagi Murid dan Orang Tua
Kasus soal CPNS di tingkat SD ini tidak hanya menimbulkan kegaduhan di ruang publik, tetapi juga berdampak pada anak-anak. Murid kelas 1 SD yang seharusnya masih dalam tahap pengenalan dasar membaca, menulis, dan berhitung justru dihadapkan pada soal yang kompleks.
Orang tua pun merasa khawatir bahwa sistem pendidikan terlalu memaksakan target tanpa mempertimbangkan kebutuhan perkembangan anak. Akibatnya, bukan hanya siswa yang tertekan, tetapi orang tua juga dirugikan karena harus menghadapi kesulitan mendampingi anak belajar.
Isu Pengawasan Kurikulum
Banyak netizen menilai lemahnya pengawasan menjadi akar masalah. Jika mekanisme kontrol berjalan baik, soal-soal yang tidak sesuai seharusnya bisa terdeteksi sejak awal. Kondisi ini menunjukkan adanya celah dalam sistem pendidikan yang perlu segera dibenahi.
Netizen juga mendesak agar pemerintah lebih serius melakukan audit terhadap pelaksanaan kurikulum di sekolah-sekolah, khususnya di tingkat dasar.
Kesimpulan
Video viral orang tua murid SD yang memprotes kurikulum karena adanya soal ujian mirip tes CPNS kembali memicu diskusi publik soal kualitas pendidikan di Indonesia. Kritik keras muncul karena soal tersebut dinilai tidak relevan dengan tingkat kemampuan anak sekolah dasar.
Netizen pun ramai-ramai menyoroti lemahnya pengawasan serta menuntut adanya transparansi dalam penyusunan kurikulum. Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa pendidikan dasar harus fokus pada kebutuhan perkembangan anak, bukan justru membebani dengan soal di luar jangkauan mereka.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber






