Langkah tegas diambil DPP Partai Amanat Nasional (PAN) dengan menonaktifkan Eko Patrio dan Uya Kuya dari keanggotaan DPR RI sebagai bentuk respons atas situasi politik yang semakin panas.
Kedua figur publik yang dikenal luas di dunia hiburan itu kini terseret dalam pusaran kontroversi politik setelah video mereka di sidang tahunan DPR/MPR memicu gelombang reaksi keras dari masyarakat.
Situasi semakin memanas ketika rumah Eko Patrio dan Uya Kuya menjadi sasaran amarah massa hingga dijarah, memperlihatkan betapa besar dampak sosial dari persoalan politik yang mereka hadapi.
Keputusan PAN ini diumumkan di Jakarta dan mulai berlaku efektif pada awal September 2025, menandai titik balik perjalanan politik keduanya di parlemen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pernyataannya, PAN menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas, meredam gejolak, dan menunjukkan keberpihakan partai pada kepentingan rakyat.
Langkah ini diambil setelah situasi politik nasional memanas dengan gelombang unjuk rasa yang berujung ricuh di sejumlah wilayah.
Nama Eko Patrio dan Uya Kuya menjadi sorotan tajam publik setelah video mereka berjoget dalam sidang tahunan DPR/MPR pada 15 Agustus lalu viral di media sosial.
Selain menuai kritik keras, rumah keduanya juga ikut menjadi sasaran amarah massa hingga dijarah pada Sabtu (30/8) malam.
PAN Resmi Umumkan Keputusan Nonaktifkan Kader

Melalui siaran pers, PAN menegaskan bahwa keputusan menonaktifkan Eko Patrio dan Uya Kuya merupakan upaya untuk meredam ketegangan politik.
DPP PAN menilai dinamika yang terjadi sudah menimbulkan keresahan luas sehingga perlu langkah cepat agar situasi tidak semakin memburuk.
Dalam pernyataan resminya, PAN menyebut bahwa penonaktifan berlaku sejak 1 September 2025 dan langsung berdampak pada status keduanya di Fraksi PAN DPR RI.
Eko Patrio dan Uya Kuya disebut telah melakukan tindakan yang dianggap tidak sesuai dengan etika dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat.
PAN juga menegaskan komitmennya untuk selalu berpihak pada kepentingan bangsa meskipun harus mengambil keputusan berat terhadap kadernya sendiri.
Permintaan Maaf PAN dan Ajakan Tenang
Setelah mengumumkan keputusan tersebut, PAN juga menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada rakyat Indonesia.
Pernyataan itu menekankan bahwa partai akan terus memperjuangkan kepentingan bangsa di tengah situasi yang penuh tekanan.
Selain itu, PAN mengimbau agar masyarakat tetap tenang, sabar, dan tidak terpancing oleh provokasi yang bisa memperburuk keadaan.
Partai menegaskan bahwa penyelesaian persoalan harus dipercayakan kepada pemerintah yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Dengan demikian, diharapkan stabilitas politik bisa kembali pulih dan rakyat tidak lagi terbelah akibat peristiwa yang melibatkan Eko Patrio dan Uya Kuya.
Klarifikasi dan Permohonan Eko dan Uya Kuya
Menanggapi perkembangan ini, baik Eko Patrio maupun Uya Kuya turut menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat luas.
Melalui akun media sosialnya, Uya Kuya mengaku menyesal dan memahami bahwa tindakannya telah menimbulkan luka mendalam di hati rakyat Indonesia.
Ia meminta kesempatan untuk memperbaiki diri dan berjanji akan lebih maksimal dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat bila diberi peluang.
Sementara itu, Eko Patrio menyampaikan permintaan maaf dengan nada penuh penyesalan, mengakui bahwa tindakannya membuat keresahan di tengah masyarakat.
Pernyataan maaf dari Eko Patrio dan Uya Kuya menunjukkan kesadaran bahwa mereka harus bertanggung jawab atas konsekuensi dari perbuatannya.
Dampak Politik dan Sosial dari Keputusan PAN
Penonaktifan Eko Patrio dan Uya Kuya dipandang sebagai langkah tegas sekaligus sinyal bahwa partai politik tidak bisa main-main dengan etika publik.
Banyak pengamat menilai keputusan PAN cukup berani karena menyangkut figur publik yang memiliki basis massa di kalangan masyarakat.
Namun, keputusan ini juga menimbulkan perdebatan mengenai sejauh mana partai harus mengorbankan kader populer demi menjaga citra politiknya.
Selain itu, peristiwa penjarahan rumah keduanya menjadi bukti nyata bahwa sentimen publik bisa berkembang menjadi tindakan anarkis jika tidak dikelola dengan baik.
Situasi ini sekaligus menjadi pelajaran penting bagi politisi untuk selalu menjaga sikap, terutama ketika berada di ruang publik yang mewakili rakyat.
Sebagai penutup, keputusan PAN menonaktifkan Eko Patrio dan Uya Kuya menandai babak baru dalam perjalanan karier politik keduanya.
Meski keduanya sudah menyampaikan permintaan maaf, belum dapat dipastikan apakah mereka masih akan mendapat kepercayaan publik di masa depan.
PAN sendiri menegaskan akan terus menjaga kepercayaan rakyat dan tidak segan mengambil tindakan tegas terhadap kader yang menyalahi etika.
Bagi Eko Patrio dan Uya Kuya, keputusan ini menjadi ujian berat yang mungkin akan menentukan arah kiprah politik mereka berikutnya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






