SMKN 1 Tejakula jadi pusat sorotan publik setelah pesta kelulusan yang mereka adakan viral di media sosial.
Acara tersebut menuai kritik keras dari berbagai pihak karena dinilai tak sensitif terhadap situasi ekonomi masyarakat.
Terlebih lagi, keberadaan DJ dan pesta besar membuat publik mempertanyakan nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan di sekolah tersebut.
Detail Acara Kelulusan Siswa SMKN 1 Tejakula yang Viral

SMKN 1 Tejakula diketahui menggelar pesta kelulusan dengan cukup meriah hingga menyewa DJ profesional sebagai hiburan utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pesta yang terekam dalam berbagai unggahan video memperlihatkan siswa-siswi berseragam putih abu-abu berjoget diiringi dentuman musik keras.
Momen tersebut langsung menuai berbagai komentar di media sosial, terutama di kolom unggahan anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna.
Ia mengkritik keras kegiatan itu dengan menyebutnya tidak peka terhadap kondisi Bali yang masih berjuang memulihkan ekonomi.
Kritik Arya Wedakarna juga mengarah pada pihak sekolah yang dianggap lalai mengawasi kegiatan siswa pada momentum penting tersebut.
Menurutnya, perayaan kelulusan seperti yang dilakukan oleh SMKN 1 Tejakula tidak mencerminkan nilai kesederhanaan dan tanggung jawab sosial.
Netizen pun turut menyerbu unggahan tersebut, dengan beragam komentar dari yang satir hingga pedas menyindir penampilan para siswa.
Sebagian mempertanyakan bagaimana sekolah bisa mengizinkan pesta sebesar itu di tengah tekanan ekonomi banyak keluarga.
SMKN 1 Tejakula Disorot: Antara Ekspresi Siswa dan Etika Pendidikan
Pihak sekolah SMKN 1 Tejakula hingga saat ini belum memberikan klarifikasi resmi mengenai penyelenggaraan acara kelulusan tersebut.
Namun sejumlah pihak menduga bahwa kegiatan tersebut merupakan inisiatif siswa yang difasilitasi secara tidak langsung oleh panitia internal.
Fenomena perayaan kelulusan dengan DJ atau pesta semacam ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia, tetapi tetap memicu kontroversi.
Yang berbeda dalam kasus SMKN 1 Tejakula adalah skala acaranya dan respon besar dari publik serta pejabat daerah.
Sebagian masyarakat menyayangkan bahwa energi dan kreativitas siswa justru diarahkan pada kegiatan hura-hura, bukan bentuk syukur yang bermanfaat.
Sebaliknya, ada pula yang menilai bahwa siswa berhak merayakan kelulusan mereka setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun.
Namun, titik perdebatan tetap berada pada sejauh mana bentuk perayaan itu sesuai dengan nilai sosial dan pendidikan.
Apalagi banyak netizen yang menyoroti penampilan siswa yang dianggap tidak mencerminkan citra pelajar, dari cara berpakaian hingga ekspresi dalam video.
Seruan Refleksi untuk Dunia Pendidikan
Reaksi netizen terhadap video SMKN 1 Tejakula sangat beragam, mulai dari ejekan, kritik tajam, hingga seruan agar perayaan seperti itu dilarang.
Beberapa komentar menyebut para siswa terlihat jauh lebih dewasa dari usia mereka, bahkan dibandingkan dengan ibu rumah tangga.
Ada pula komentar bernada sinis yang menyebut para lulusan lebih sibuk joget ketimbang mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja atau kuliah.
Salah satu komentar yang viral menyindir, “Kalian yang pada joget-joget begini setelah kelulusan, memangnya sudah tahu akan kerja di mana?”
Komentar seperti itu menggambarkan keresahan masyarakat akan arah pendidikan yang dinilai mulai bergeser dari esensi utamanya.
Beberapa warganet bahkan menyerukan agar sistem seperti KDM (Karakter, Disiplin, Mental) yang diterapkan di Jawa Barat juga diberlakukan di Bali.
Sebab, menurut mereka, sistem tersebut mampu membentuk karakter siswa agar lebih siap menghadapi tantangan dunia nyata daripada hanya bersenang-senang.
Dari polemik ini, muncul pula wacana untuk meninjau kembali kebijakan sekolah dalam mengatur perayaan kelulusan agar lebih mendidik.
SMKN 1 Tejakula menjadi contoh nyata bahwa dalam era digital, setiap tindakan yang bersifat publik bisa langsung mendapat penilaian masyarakat luas.
Perayaan yang awalnya dimaksudkan sebagai bentuk kebahagiaan bisa berubah menjadi bumerang jika tidak dilandasi dengan nilai etika dan empati sosial.
Kasus ini dapat menjadi pembelajaran bagi sekolah-sekolah lain agar lebih berhati-hati dalam mengizinkan bentuk kegiatan siswa.
Perlu evaluasi menyeluruh dari pihak sekolah, orang tua, dan dinas pendidikan untuk memastikan kegiatan siswa tetap mencerminkan nilai pendidikan.
Masyarakat kini lebih peka terhadap simbol dan tindakan yang dianggap menyimpang dari norma, terutama ketika dilakukan oleh institusi pendidikan.
Dunia pendidikan seharusnya menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter anak bangsa, bukan sekadar tempat seremonial tanpa makna substansial.
Secara keseluruhan, perayaan kelulusan yang dilakukan oleh SMKN 1 Tejakula memang menuai sorotan luas karena dinilai tidak mencerminkan kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat Bali yang sedang berjuang memulihkan diri dari tekanan ekonomi pascapandemi.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






