Redaksiku.com – Kasus Bripda G aniaya pengendara mendadak bikin panas emosi publik setelah rekaman amatirnya viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan momen ketika seorang anggota Polda Sumatera Utara memukuli seorang pengendara motor tanpa ampun tepat di depan pintu belakang Polda Sumut, Jalan Sisingamangaraja, Medan.
Insiden yang terjadi pada Senin (18/11/2025) siang itu mulanya hanya kecelakaan kecil, tapi berubah jadi tindakan kekerasan yang terekam jelas dan memancing kemarahan publik. Dalam hitungan menit, video itu menyebar luas di Instagram, TikTok, hingga X.
Publik bukan cuma kaget karena melihat seorang polisi bertindak kasar, tetapi juga karena pelaku mengenakan seragam dinas lengkap. Semua itu membuat kasus Bripda G aniaya pengendara anjlok ke level viral nasional dalam waktu sangat singkat.
Kronologi Bermula dari Kecelakaan Kecil
Insiden Bripda G aniaya pengendara terjadi setelah motor yang dikendarai Bripda G ditabrak dari belakang oleh motor ALP. Saat itu, Bripda G sedang keluar dari pintu belakang Polda Sumut sambil membonceng seniornya, Aiptu D.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Benturan kecil itu membuat kedua motor terjatuh. Saksi yang melihat mengatakan kejadiannya cepat dan tidak terlalu keras, seperti kecelakaan bantingan biasa di jalanan kota. Namun respons yang muncul jauh dari ekspektasi.
Dalam kondisi emosi, Bripda G langsung bangkit dan menuju ke arah ALP tanpa memberi kesempatan korban menjelaskan apa pun. Perkara kecil langsung berubah jadi insiden besar.
Video Pemukulan Viral Teriakan dan Pukulan Bertubi-tubi
Dalam video Bripda G aniaya pengendara, terlihat jelas ia memukuli kepala ALP berkali-kali. Korban tidak melawan sama sekali dan tampak duduk lemas di aspal.
Aksi pemukulan itu disertai teriakan keras, penuh amarah, seperti Pecah telur kau! Berdiri kau! Habis kau sama aku nanti!
Cara Bripda G mengangkat tangan dan menghantam kepala korban berkali-kali membuat banyak netizen merinding. Durasi videonya tidak lama, tapi tiap detiknya bikin publik naik darah.
Beberapa warga yang melihat di lokasi tampak takut menengahi karena pelaku adalah polisi berseragam. Mereka hanya bisa menonton dari jauh sambil menahan napas.
Korban Dibantu Senior Pelaku, Bukan Pelakunya
Ironisnya, setelah Bripda G aniaya pengendara, ia langsung pergi begitu saja tanpa mengecek kondisi korban. Justru Aiptu D orang yang dibonceng yang membantu korban berdiri dan menenangkannya.
Korban kemudian dibawa ke Poliklinik Polda Sumut untuk diperiksa. Ia mengalami memar dan benturan ringan, namun tidak sampai luka berat. Di sisi lain, korban terlihat sangat ketakutan dan masih syok akibat perlakuan pelaku.
Beberapa saksi menyebutkan korban sampai gemetar saat bangun dari posisi terduduk. Warga setempat ikut berkomentar bahwa tindakan seperti itu tidak manusiawi, apalagi dilakukan aparat berseragam.
Polda Sumut Buka Suara dan Akui Kesalahan Anggota
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, langsung memberikan pernyataan resmi setelah kasus Bripda G aniaya pengendara viral. Ia membenarkan kejadian tersebut dan menyebut tindakan itu melanggar etika kepolisian.
Ferry memastikan kasus ini sudah masuk ke Propam dan Bripda G diperiksa intensif. Betul, anggota kami emosi dan melakukan pemukulan. Saat ini diperiksa Propam, dan akan ditindak sesuai aturan, ujarnya.
Polda Sumut juga meminta maaf kepada publik dan menegaskan bahwa tindakan kekerasan tidak dibenarkan dalam kondisi apa pun, bahkan jika pelaku mengalami kecelakaan lebih dulu.
Reaksi Publik Memanas, Ribuan Komentar Mengutuk
Video Bripda G aniaya pengendara memicu ledakan reaksi di dunia maya. Ribuan komentar mengecam tindakan itu dan menuntut sanksi tegas.
Ini bukan soal kecelakaan, ini soal arogan dan abuse of power, kata salah satu netizen di X. Pakai seragam tapi lupa fungsi seragamnya, tulis yang lain.
Video tersebut memancing diskusi luas tentang etika aparat, mentalitas petugas di lapangan, dan bagaimana publik kerap takut berhadapan dengan oknum berprilaku agresif.
Netizen juga mengingatkan bahwa kejadian seperti ini bukan yang pertama, sehingga penanganannya harus serius.
Bripda G Terancam Sanksi Berat
Setelah kasus Bripda G aniaya pengendara viral, Propam bergerak cepat mengumpulkan bukti mulai dari rekaman CCTV, video viral, hingga keterangan saksi.
Jika terbukti melanggar kode etik, Bripda G bisa menerima sanksi disiplin hingga penempatan khusus. Bahkan, jika pelanggaran dinilai berat dan mencoreng institusi, ia bisa menghadapi sidang etik dengan ancaman pemecatan.
Sementara korban ALP masih menunggu proses lanjutan. Polisi memastikan hak korban terlindungi dan ia bisa melanjutkan laporan bila mau.
Kasus Bripda G aniaya pengendara jadi salah satu contoh paling jelas bagaimana emosi sesaat bisa memicu kekerasan yang mempermalukan institusi dan merugikan masyarakat.
Insiden ini mencerminkan pentingnya kontrol diri seorang aparat, apalagi ketika berada dalam situasi sensitif di ruang publik. Warganet berharap kasusnya ditangani transparan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Ikuti berita terkini dari Redaksiku di Google News atau Whatsapp Channels






