Ibu berjilbab pink menjadi sorotan besar dalam demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR pada akhir Agustus 2025 lalu.
Sosok ini mendadak viral setelah rekaman videonya beredar luas dengan ucapan yang dianggap kasar dan menyinggung banyak pihak.
Ibu ini bahkan dijadikan simbol perlawanan yang disebut Brave Pink, meski kemudian muncul perdebatan panjang mengenai sosoknya.
Dalam sejumlah potongan video, terlihat ibu berjilbab pink melontarkan kata-kata keras terhadap aparat, Presiden, hingga membawa isu sensitif etnis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Publik pun terbelah antara yang menganggapnya simbol keberanian dan yang menilai dirinya justru mempermalukan gerakan rakyat.
Ibu Berjilbab Pink Viral karena Ucapan Kontroversial di Tengah Aksi Massa

Viralnya ibu berjilbab pink tidak lepas dari potongan video yang memperlihatkan dirinya berteriak lantang di barisan massa.
Ia menyebut nama Presiden Prabowo dengan kata-kata kasar, bahkan menyerukan turunkan Prabowo dan ganti dengan Anies.
Selain itu, ibu berjilbab pink juga mengeluarkan ujaran yang menyinggung etnis tertentu, sehingga menambah kontroversi dari pernyataannya.
Kerasnya ucapan yang terekam membuat publik bertanya-tanya apakah ia memang aktivis berpengalaman atau hanya bagian spontan dari kerumunan.
Meski demikian, videonya langsung dipakai sebagian kelompok untuk mengangkat simbol Brave Pink yang identik dengan jilbab berwarna pink.
Klaim Keluarga soal Ibu Berjilbab Pink yang Mengejutkan
Ketika perdebatan semakin panas, keponakan dari ibu berjilbab pink akhirnya angkat bicara melalui unggahan media sosial.
Ia menjelaskan bahwa sang bibi yang viral tersebut bernama Ana dan disebut sebagai sosok yang berkebutuhan khusus.
Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak tersinggung atau terlalu serius menanggapi ucapan sang bibi karena memang kondisinya berbeda.
Keponakannya juga meminta publik berhenti menghubungkan ibu berjilbab pink dengan identitas lain yang sempat disebutkan oleh warganet.
“Ini bude saya sekali lagi maapin bude saya yaaak jadi buat kawan-kawan satu profesi jangan dimasukin ati ye wkwkwk. Dan untuk teman-teman yang demo di manapun nanti ketemu bude saya tolong jangan ikut terprovokasi yee. Kalo emang ketemu suruh pulang sampein aje der dicariin sama ponakannya “si anas” gitu wkwkwk. Intinye bude saya ini memang butuh perhatian khusus,” jelasnya.
Pernyataan ini pun memunculkan tafsir baru, ada yang percaya sebagai bentuk klarifikasi tulus, ada pula yang menilai sebagai upaya agar ia lolos dari jeratan hukum.
Tanggapan Netizen di Media Sosial
Meski ada penjelasan dari pihak keluarga, banyak netizen tetap mempertanyakan alasan ibu berjilbab pink bisa mengucapkan nama tokoh politik dengan jelas.
Menurut sejumlah komentar, jika benar berkebutuhan khusus, mengapa ia bisa menuntut pergantian presiden dengan menyebut nama kandidat tertentu.
Bahkan muncul sindiran bahwa klaim berkebutuhan khusus hanya strategi klasik agar sosok viral ini tidak bisa dijerat hukum.
Sebagian lain menyebut ibu berjilbab pink terlalu dilebih-lebihkan sebagai simbol perjuangan, padahal ucapan kasarnya justru memperburuk citra demo 17+8.
Netizen juga menyoroti bagaimana isu pribadi ibu berjilbab pink akhirnya menutupi substansi utama tuntutan rakyat yang berjumlah 17+8 poin.
Polemik Video AI dan Simbol Brave Pink
Di sisi lain, muncul narasi bahwa video ibu berjilbab pink adalah hasil manipulasi berbasis AI, klaim yang dilontarkan oleh sejumlah influencer.
Mereka menyebut rekaman itu bisa saja dipalsukan untuk merusak citra demonstrasi yang seharusnya fokus pada tuntutan rakyat.
Namun, bantahan segera muncul karena ada video lain yang menunjukkan ibu berjilbab pink di berbagai sudut tanpa indikasi rekayasa.
Simbol Brave Pink yang lahir dari sosok ini pun semakin dipertanyakan, apakah benar representasi keberanian atau justru kesalahpahaman massal.
Seiring waktu, isu warna pink sebagai simbol perlawanan akhirnya bergeser menjadi bahan perdebatan identitas dan bukan lagi fokus pada substansi tuntutan rakyat.
Simbol Ibu Berjilbab Pink Dinilai Menutupi Tuntutan 17+8
Banyak pengamat menilai hebohnya ibu ini justru membuat inti dari gerakan 17+8 tidak lagi menjadi perhatian publik.
Narasi perlawanan yang awalnya menuntut transparansi dan akuntabilitas DPR serta pemerintah berubah fokus ke persoalan simbol dan figur.
Publik yang awalnya bersemangat mengawal tuntutan mulai terpecah dalam perdebatan tentang sosok ibu berjilbab pink.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial mampu menggeser isu penting menjadi sekadar drama viral yang bersifat personal.
Akibatnya, tuntutan 17+8 yang digadang-gadang sebagai aspirasi rakyat luas jadi kehilangan momentum politiknya.
Berbagai komentar di media sosial memperlihatkan betapa kuatnya respons warganet terhadap viralnya ibu berjilbab pink.
Ada yang menertawakan bagaimana sosok ini tiba-tiba dijadikan simbol perjuangan padahal ucapannya cenderung memprovokasi.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






