Ondel ondel merupakan salah satu ikon budaya Betawi yang memiliki nilai sejarah dan seni sangat tinggi. Namun, penggunaan ondel ondel sebagai sarana mengamen di jalanan kini menuai kritik keras dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Rencana pelarangan ondel ondel untuk mengamen ini diharapkan bisa menjaga martabat budaya Betawi agar tetap dihormati dan tidak disalahgunakan.
Keputusan ini juga menjadi bagian dari penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Perda) tentang Lembaga Adat Betawi yang sedang digodok oleh Pemprov DKI.
Kebijakan ini menjadi langkah penting untuk menata ulang fungsi ondel ondel sebagai warisan budaya asli Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Larangan Penggunaan Ondel Ondel untuk Mengamen dan Alasan Penting di Baliknya

Larangan penggunaan ondel ondel sebagai sarana mengamen ini dicanangkan agar kesenian tradisional Betawi tidak direduksi menjadi hiburan jalanan yang kurang terhormat. Ondel-ondel, DKI Jakarta, Rano Karno, Pemprov, pengamen
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyampaikan bahwa ondel ondel merupakan warisan budaya yang memiliki nilai historis tinggi.
Oleh karena itu, penggunaan ondel ondel untuk mengamen dianggap mengurangi nilai budaya tersebut.
Pemprov DKI tengah menyusun Perda tentang Lembaga Adat Betawi yang memasukkan ketentuan ini agar ondel ondel hanya tampil di tempat yang pantas dan sesuai dengan nilai budaya asli Betawi.
Hal ini dimaksudkan agar kesenian ondel ondel tidak hanya menjadi atraksi jalanan yang sekadar hiburan tetapi juga dihormati sebagai bagian penting dari identitas budaya ibu kota.
Keprihatinan ini tidak hanya datang dari Rano Karno, tapi juga Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menyatakan bahwa ondel ondel seharusnya dirawat dan ditampilkan dengan cara yang terhormat.
Menurut Pramono, fenomena ondel ondel yang digunakan untuk mengamen mencerminkan kurangnya fasilitas dan ruang yang memadai bagi seniman tradisional mengekspresikan seni mereka.
Oleh sebab itu, larangan ini bukan hanya soal penindakan terhadap pengamen, tetapi juga upaya menciptakan ruang yang layak bagi pelestarian budaya.
Dengan adanya Perda dan dukungan pemerintah, diharapkan ondel ondel bisa kembali ke fungsi aslinya sebagai simbol kebudayaan yang dilindungi dan dihormati.
Tanggapan Pemerintah dan Solusi untuk Pengamen Ondel Ondel
Selain pelarangan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengantisipasi dampak sosial dari kebijakan ini dengan memberikan solusi bagi para pengamen ondel ondel.
Dinas Kebudayaan DKI Jakarta sedang merancang konsep khusus yang memungkinkan para pengamen tetap mengekspresikan seni ondel ondel mereka di tempat yang tepat dan layak.
Hal ini bertujuan agar seni tradisional Betawi tetap hidup dan berkembang tanpa harus kehilangan martabatnya.
Dengan adanya ruang khusus, para pengamen tidak lagi harus membawa ondel ondel ke jalanan untuk mengais rejeki, yang seringkali berujung pada ketidaknyamanan masyarakat dan pengurangan nilai budaya.
Wakil Gubernur Rano Karno menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengawal pelaksanaan Perda ini sehingga ondel ondel bisa tampil di panggung yang sesuai dan dihargai oleh masyarakat luas.
Kebijakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak karena dinilai mampu mengembalikan kemuliaan ondel ondel sebagai bagian dari warisan budaya Betawi.
Pendekatan ini juga memperlihatkan perhatian pemerintah dalam melestarikan budaya tanpa mengabaikan kebutuhan sosial para pelaku seni yang selama ini mengandalkan ondel ondel sebagai alat penghasilan.
Ondel Ondel dan Harapan Pelestarian Budaya Betawi yang Terhormat
Pelarangan ondel ondel digunakan sebagai alat mengamen bukan hanya untuk menjaga martabat budaya Betawi, tetapi juga sebagai upaya memperkuat identitas budaya ibu kota.
Ondel ondel bukan sekadar mainan atau hiburan keliling, melainkan simbol budaya yang sarat makna sejarah dan nilai luhur.
Dengan menegakkan aturan ini melalui Perda, diharapkan masyarakat semakin menghargai dan memahami pentingnya pelestarian budaya Betawi.
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta mengajak semua pihak untuk mendukung kebijakan ini agar budaya Betawi bisa tetap hidup dan berkembang secara bermartabat.
Melalui penataan ini, ondel ondel diharapkan mampu tampil dalam berbagai acara resmi, pertunjukan seni, dan festival budaya yang lebih terorganisir dan profesional.
Kebijakan ini juga menjadi langkah strategis agar budaya tradisional tidak kehilangan relevansinya di tengah modernisasi dan perkembangan zaman.
Dengan demikian, ondel ondel akan menjadi warisan budaya yang bukan hanya dikenang, tetapi juga dijaga keberlangsungannya dengan penuh rasa hormat.
Pemprov DKI Jakarta berharap masyarakat turut mendukung kebijakan ini agar ondel ondel tetap menjadi simbol budaya yang terjaga.
Dengan penataan yang tepat, seniman ondel ondel juga bisa mendapatkan apresiasi yang layak tanpa harus mengorbankan nilai budaya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






