Selat Drake: Perairan Paling Ganas & Sejarah Iklimnya

- Penulis

Kamis, 3 September 2026 - 21:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gelombang besar di Selat Drake yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik.

Ilustrasi perairan Selat Drake yang menjadi lokasi penelitian iklim purba oleh ilmuwan kelautan internasional.

Redaksiku.com – Para ilmuwan kelautan internasional berhasil mengungkap rahasia iklim purba yang tersimpan di dasar Selat Drake, perairan sepanjang 800 kilometer yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik pada Kamis, 3 September 2026. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change pada November 2025 ini menunjukkan bahwa arus laut di wilayah tersebut tetap stabil di tengah perubahan pola angin global. Penemuan ini memperkuat pemahaman ilmiah mengenai peran strategis kawasan tersebut dalam menyerap karbon dan panas dari atmosfer bumi.

Kawasan pemisah antara Tanjung Horn di Chili dan Kepulauan Shetland Selatan ini telah lama dikenal sebagai salah satu jalur laut paling ganas di planet ini. Gelombang tinggi yang kerap disebut sebagai Drake Shake menghantam kapal-kapal sejak era pelayaran pertama sebelum Terusan Panama dibangun. Kondisi ekstrem tersebut terbentuk akibat tiupan angin tanpa hambatan daratan di zona lintang selatan yang dikenal sebagai Furious Fifties dan Screaming Sixties.

Di balik reputasinya yang menakutkan bagi para pelaut komersial, perairan ini menjadi koridor utama bagi pergerakan massa air global. Arus Lingkar Antartika mengalir melalui celah sempit ini sebagai satu-satunya arus laut yang mengelilingi bumi tanpa terhalang oleh daratan benua. Interaksi antara angin kencang dan topografi dasar laut menciptakan turbulensi hebat yang menggerakkan sistem sirkulasi samudra secara keseluruhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dasar laut Selat Drake menyimpan lapisan sedimen berusia 140.000 tahun yang merekam sejarah perubahan arus laut dan iklim bumi secara konsisten.

Analisis terhadap inti sedimen laut yang diambil dari dasar selat memberikan lembaran sejarah iklim masa lalu yang sangat berharga. Data tersebut merekonstruksi dinamika arus laut sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum era industri modern mengubah komposisi atmosfer bumi. Melalui sampel geologis ini, para peneliti dapat melihat bagaimana sistem kelautan merespons fluktuasi suhu global pada masa glasial dan interglasial.

Studi terbaru ini memberikan kejelasan mengenai ketahanan sistem sirkulasi laut terhadap tekanan perubahan iklim kontemporer. Para pembuat kebijakan dan komunitas ilmiah internasional mengandalkan data oseanografi ini untuk memproyeksikan kondisi iklim global di masa depan. Pemahaman yang lebih akurat tentang dinamika samudra membantu memperbaiki model prediksi kenaikan muka air laut dan pemanasan global.

Dinamika Arus dan Perubahan Iklim

Peran ekologis Selat Drake melampaui batas geografisnya sebagai jalur pelayaran internasional yang menghubungkan dua samudra besar. Kawasan ini berfungsi sebagai katup pengatur utama yang mendistribusikan panas ke berbagai penjuru dunia melalui mekanisme sirkulasi termohalin. Tanpa adanya aliran air yang stabil di koridor ini, keseimbangan termal planet bumi akan mengalami gangguan yang signifikan.

Penelitian lanjutan terus dilakukan guna memantau kecepatan dan volume air yang melewati celah sempit antara Amerika Selatan dan Antartika tersebut. Penggunaan teknologi sensor bawah air modern memungkinkan pemantauan secara real-time terhadap suhu, salinitas, dan tingkat keasaman air laut. Data jangka panjang ini sangat krusial untuk mendeteksi tanda-tanda awal pelemahan arus akibat pencairan es di kutub selatan.

Ancaman perubahan iklim global menuntut pengamatan yang lebih intensif terhadap kawasan-kawasan kunci di kutub dan sekitarnya. Samudra Selatan menyerap sebagian besar kelebihan panas dan emisi karbon dioksida hasil aktivitas manusia di permukaan bumi. Stabilitas Arus Lingkar Antartika menjadi penentu utama seberapa besar kapasitas samudra dalam menahan laju pemanasan global.

Lapisan sedimen di dasar laut Selat Drake merekam data iklim purba yang membentang hingga 140.000 tahun ke belakang.

Hasil riset ini sekaligus menepis kekhawatiran sebagian pihak bahwa perubahan angin akibat pemanasan global akan serta-merta menghentikan pergerakan arus utama di selatan bumi. Karakteristik fisik dasar laut dan dinamika massa air terbukti memiliki mekanisme ketahanan tersendiri dalam menghadapi anomali cuaca. Kendati demikian, para ahli tetap mengingatkan bahwa tekanan lingkungan yang terus meningkat dapat memicu perubahan jangka panjang yang tidak terduga.

Komunitas ilmiah global kini memfokuskan perhatian pada integrasi data sedimen purba ini ke dalam model komputer iklim masa depan. Upaya mitigasi perubahan iklim memerlukan dasar empiris yang kuat dari fenomena nyata yang terjadi di lautan lepas. Dengan terungkapnya stabilitas arus di jalur es tersebut, proyeksi iklim global diharapkan menjadi lebih akurat dan dapat diandalkan.

Pertanyaan Umum

Mengapa Selat Drake sangat penting bagi iklim global?

Selat ini adalah satu-satunya jalur lintasan Arus Lingkar Antartika yang mengelilingi bumi tanpa hambatan daratan, sehingga berperan vital dalam menyerap panas dan karbon dari atmosfer.

Apa temuan terbaru dari penelitian di Selat Drake?

Studi yang dipublikasikan pada November 2025 menunjukkan bahwa arus laut di selat tersebut tetap bertahan stabil di tengah perubahan pola angin global yang ekstrem.

Bagaimana para ilmuwan meneliti iklim purba di wilayah tersebut?

Peneliti menganalisis lapisan sedimen di dasar laut yang telah mengendap selama 140.000 tahun untuk merekonstruksi sejarah perubahan arus dan suhu masa lalu.

Ringkasan

Pelajari rahasia iklim purba dan stabilitas arus di Selat Drake, perairan paling ganas di dunia yang merekam sejarah iklim bumi hingga 140.000 tahun.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Alasan Ular Berjemur di Bawah Sinar Matahari Menurut Ahli
Alasan Kucing Rumah Kini Malas Menangkap Tikus
Warga Tiongkok Dideportasi Usai Buru Kasuari di Papua
Fakta Unik Penyu Kembali ke Pantai Tempat Menetas untuk Bertelur
11 Orangutan di Samboja Menanti Pelepasliaran ke Hutan
Manfaat Perilaku Aktif Menjelajah Hutan bagi Kemandirian Anak Orangutan
Penemuan Kembali Ular Pasir Afro-Asia Setelah 150 Tahun
Faktor Utama Komodo Terancam Punah Meski Populasi Stabil

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Alasan Ular Berjemur di Bawah Sinar Matahari Menurut Ahli

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:43 WIB

Alasan Kucing Rumah Kini Malas Menangkap Tikus

Minggu, 11 Oktober 2026 - 23:27 WIB

Warga Tiongkok Dideportasi Usai Buru Kasuari di Papua

Minggu, 11 Oktober 2026 - 00:31 WIB

Fakta Unik Penyu Kembali ke Pantai Tempat Menetas untuk Bertelur

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 22:50 WIB

11 Orangutan di Samboja Menanti Pelepasliaran ke Hutan

Berita Terbaru

Bernadya merilis single terbaru berjudul Lebih Beruntung Sedikit hasil kolaborasi dengan Pamungkas dan Eross Candra.

Viral

Kolaborasi Bernadya, Pamungkas, dan Eross di Lagu Baru

Rabu, 14 Okt 2026 - 15:00 WIB

Infrastruktur kritis di Jepang menghadapi peningkatan ancaman serangan ransomware yang diduga melibatkan teknologi AI.

Computer Security

Serangan Ransomware di Jepang Meningkat Diduga karena AI

Rabu, 14 Okt 2026 - 14:59 WIB

Pekerja dengan gaji UMP Jakarta perlu perencanaan finansial yang matang untuk memiliki kendaraan roda empat.

Otomotif

Simulasi Kredit Mobil untuk PekerjaBergaji UMP Jakarta

Rabu, 14 Okt 2026 - 14:52 WIB