Review Film Tinggal Meninggal: Bahas Kematian Jadi Bahan Tawa?
Kematian sering dianggap sebagai bagian alami dari kehidupan manusia. Tanpa kematian, perjalanan hidup di bumi mungkin terasa membosankan.
Tema ini bukanlah hal baru di dunia perfilman; ratusan film telah mengangkat kisah yang berawal dari kematian seseorangbaik orang tua, teman, kekasih, maupun sosok asing.
Kematian terbukti menjadi pemicu cerita yang efektif. Hal serupa dilakukan Kristo Immanuel dan Jessica Tjiu dalam film Tinggal Meninggal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Film ketujuh produksi Imajinari ini memang mengangkat kematian sebagai fokus cerita, tetapi dikemas secara lebih berani dan unik.
Kisah Gema
Cerita berpusat pada Gema (diperankan Omara Esteghlal) yang mendadak menjadi pusat perhatian rekan-rekan kantornya setelah kabar kematian ayahnya tersiar.
Sebagai anak yang jarang mendapat perhatian sejak kecil, Gema menikmati momen itu sepenuh hati.
Namun, rasa haus akan perhatian membuatnya mencari berbagai cara agar sorotan tidak berhenti.
Kabar kematian kucing kesayangan hingga kakek-neneknya dijadikan umpan perhatian.
Puncaknya, Gema nekat ingin memalsukan kematiannya sendiri demi mendapatkan perhatian terbesar yang ia dambakan.
Tinggal Meninggal menghadirkan teknik breaking the fourth walldi mana tokoh utama berbicara langsung kepada penonton.
Tokoh Gema yang digambarkan sebagai seorang neurodivergent kerap berbicara sendiri atau tenggelam dalam pikirannya.
Kristo dan Tjiu memanfaatkan momen ini agar Gema menghancurkan dinding keempat sinema.
Teknik ini tidak hanya membuat penonton merasa lebih dekat dengan tokoh, tetapi juga memberi pemahaman tentang bagaimana seorang neurodivergent berpikir dan merasakan dunia.
Perilaku komat-kamit atau tampak hilang fokus, yang sering disalahartikan, menjadi lebih dimengerti melalui perspektif film ini.
Selain memberikan pengalaman sinematik yang segar, cara ini juga menyadarkan penonton bahwa setiap individu memiliki cara unik dalam berkomunikasi dengan diri sendiri.
Komedi Getir
Keberanian Imajinari menyajikan kematian dalam balutan komedi gelap menjadi daya tarik utama film ini.
Topik duka, kehilangan, dan kematian biasanya digambarkan serius, tetapi Tinggal Meninggal menghadirkannya dengan sentuhan komedi getir.
Respon penonton pun bisa sangat beragam. Ada yang terbahak melihat adegan tertentu, sementara penonton lain justru merasa tidak nyaman.
Perbedaan ini menjadikan film terasa unik dan memancing diskusi setelah menonton.
Imajinari sukses membuat pengalaman menonton yang tidak seragamada tawa, ada renungan, bahkan ada rasa janggal yang sengaja dibiarkan menggantung.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






