Redaksiku.com – Ratusan buruh perkebunan kelapa sawit yang tergabung dalam Divisi Agri PT Murni Nusantara Mandiri kembali turun ke lapangan pada Kamis, 1 Oktober 2026, untuk menggelar aksi unjuk rasa di Kampung Nalkin, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke.
Aksi lanjutan ini melibatkan sekitar 300 karyawan yang menuntut perbaikan mendasar terkait hak-hak pekerja dan transparansi manajemen perusahaan. Kehadiran massa di area operasional perkebunan tersebut langsung mendapat perhatian dari aparat keamanan setempat.
Pengamanan Ketat dan Imbauan Aparat Kepolisian
Untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, jajaran Kepolisian Sektor Jagebob langsung bergerak cepat ke lokasi kejadian. Pengamanan melibatkan sinergi antara personel Polsek Jagebob dan satuan Brigade Mobil dari Brimob Yon B Pelopor Merauke.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapolsek Jagebob Iptu Turhamun bersama Danton Brimob Yon B Pelopor Merauke Iptu Suwardi A Tosofo turun langsung untuk berdialog dan mengawal jalannya penyampaian aspirasi tersebut.
Aparat keamanan secara persuasif meminta massa buruh agar tetap tenang dan kooperatif. Petugas menekankan pentingnya menjaga suasana kondusif agar proses penyampaian tuntutan berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Aparat mengimbau agar massa buruh tidak melakukan tindakan anarkis yang dapat merusak fasilitas perusahaan selama unjuk rasa berlangsung.
Tuntutan Hak Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh
Aksi protes yang melibatkan ratusan pekerja ini bukan tanpa sebab, melainkan akumulasi dari berbagai persoalan operasional dan administratif yang dirasakan para buruh di lapangan. Para pekerja menuntut manajemen perusahaan segera merespons sejumlah poin krusial demi kesejahteraan bersama.
- Kejelasan status kepegawaian yang dinilai masih menggantung bagi sebagian besar buruh harian lepas maupun kontrak.
- Sistem rekrutmen dan penerimaan tenaga kerja baru yang dinilai perlu lebih transparan bagi warga lokal.
- Kebijakan sistem penggajian yang sesuai dengan ketentuan dan beban kerja riil di lapangan.
- Penyediaan fasilitas pendukung karyawan yang layak, mulai dari perumahan hingga sarana kesehatan dasar.
- Kejelasan mengenai jenjang karier bagi karyawan yang telah mengabdi dalam jangka waktu lama.
- Perbaikan sarana transportasi operasional untuk mobilitas pekerja dari tempat tinggal menuju lokasi kerja.
Manajemen perusahaan bersama perwakilan buruh diharapkan segera duduk bersama untuk mencari solusi komprehensif atas permasalahan ketenagakerjaan di Kabupaten Merauke ini agar aktivitas perkebunan dapat kembali berjalan normal.
Pertanyaan Umum
Apa penyebab utama aksi protes karyawan PT Murni Nusantara Mandiri?
Aksi protes dipicu oleh berbagai persoalan ketenagakerjaan, termasuk status karyawan, sistem penggajian, fasilitas kerja, hingga persoalan transportasi di lingkungan perusahaan.
Di mana lokasi aksi unjuk rasa tersebut berlangsung?
Aksi penyampaian aspirasi ini berlangsung di Kampung Nalkin, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Siapa saja pihak yang mengamankan jalannya aksi unjuk rasa buruh?
Pengamanan dilakukan secara gabungan oleh personel Polsek Jagebob bersama anggota Brimob Yon B Pelopor Merauke yang dibantu oleh pihak keamanan internal perusahaan.
Ringkasan
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, sekitar 300 karyawan Divisi Agri PT Murni Nusantara Mandiri menggelar aksi unjuk rasa di Kampung Nalkin, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke, untuk menuntut perbaikan hak-hak pekerja dan transparansi manajemen. Keamanan aksi dikawal langsung oleh Kapolsek Jagebob, Iptu Turhamun, bersama Danton Brimob Yon B Pelopor Merauke, Iptu Suwardi A Tosofo, yang mengimbau massa untuk tetap tertib tanpa melakukan tindakan anarkis.
Aksi ini merupakan akumulasi dari berbagai persoalan ketenagakerjaan, mencakup ketidakjelasan status kepegawaian, sistem penggajian yang dianggap tidak sesuai, hingga kurangnya fasilitas pendukung seperti perumahan, layanan kesehatan, dan transportasi operasional. Para buruh juga mendesak transparansi dalam sistem rekrutmen tenaga kerja lokal serta kepastian jenjang karier, sehingga diharapkan segera ada dialog formal antara pihak manajemen dan perwakilan buruh untuk mencapai solusi komprehensif bagi keberlangsungan operasional perusahaan.






