Aku langsung keluar dari mobil Reivan begitu mobilnya selesai diparkirkan. Cepat-cepat kulangkahkan kaki memasuki ruang keluarga.
Ibu pasti udah tidur, ya?
Belum, Neng, jawab Bu Lia yang berusaha menyamai kecepatan langkahku. Anu, Neng
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nanti, Bu.
Kepulanganku langsung disambut pelukan erat Bu Nawang. Tidak hanya itu, ia juga menghujaniku dengan ciuman bertubi-tubi.
Selamat, ya, katanya dengan mimik wajah ceria, sekaan-akan ia baru saja memenangkan lotere bernilai puluhan juta. Matanya berbinar-binar, diwarnai dengan sukacita yang tak kuketahui untuk alasan apa.
Selamat kenapa, Bu?
Bu Nawang hanya mengulum senyum.
Selamat, ya, Reivan, kata Bu Nawang lagi.
Ucapannya ditimpali pertanyaan serupa dari Reivan. Kami berdua sepertinya dilanda kebingungan yang sama.
Kalian itu ¦ pasti kalian sengaja, ya, mau bikin kejutan buat Ibu? Pantas Hana kelihatan pucat, lemas, sama mual-mual terus ¦ ternyata istrimu itu hamil, Reivan!
Keheningan seketika mencekikku. Aku tidak sanggup menimpali ucapan ibu mertuaku itu.
Kok, kalian diem aja, sih? Aduh, Hana, kamu belum kasih kabar ini ke Reivan, ya? Ya ampun! Ibu enggak ngerusak rencana kamu, kan, Nak?
Saat itu juga, ribuan lebah seakan-akan menancapkan sengatnya secara bersamaan ke kepalaku. Kepalaku langsung berdenyut-denyut sementara pandanganku berpindah-pindah, ke wajah Bu Nawang yang memancarkan kebahagiaan, ke muka Bu Lia yang menyiratkan kecemasan, lalu ke paras Reivan yang menunjukkan kemurkaan.
Oh, Tuhan ¦ jika aku diizinkan bunuh diri, aku akan menggunakan sorot mata Reivan yang tersakiti itu sebagai senjata untuk menggapai kematianku sendiri. Kemudian aku akan memohon kepada-mu, Tuhan, tolong, di kehidupan yang mana pun, matikan aku sebelum sempat terlahir kembali. []
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






