Viral Kupas Bawang Rp700 Ribu, Ternyata Ada Perbedaan Tiga Nol

- Penulis

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Viral Kupas Bawang Rp700 Ribu, Ternyata Ada Perbedaan Tiga Nol

Viral Kupas Bawang Rp700 Ribu, Ternyata Ada Perbedaan Tiga Nol

Redaksiku.com – Kata kunci “kupas bawang 700 ribu” mendadak ramai diperbincangkan publik pada Jumat hingga Sabtu, 14–15 Agustus 2026.

Bukan karena harga bawang melonjak menjadi ratusan ribu rupiah per kilogram, melainkan karena munculnya perdebatan mengenai angka Rp700 yang kemudian ramai dikaitkan dengan narasi “Rp700 ribu”.

Pembahasan tersebut berkembang di media sosial setelah pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian agenda kenegaraan memunculkan perhatian publik terhadap angka penghasilan pekerja di sektor pangan. Percakapan warganet kemudian berkembang menjadi candaan mengenai pekerjaan mengupas bawang yang disebut-sebut bisa menghasilkan Rp700 ribu per kilogram.

Namun, Rp700 ribu per kilogram bukan angka upah pengupas bawang yang ditemukan dalam sumber pembanding yang tersedia. Justru sejumlah laporan mengenai pekerja pengupas atau pemroses bawang menunjukkan angka upah berada pada kisaran ratusan hingga ribuan rupiah per kilogram. Sebagai contoh, laporan mengenai pekerja pengupas bawang di Pasar 16 Ilir Palembang mencatat upah Rp700 per kilogram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal inilah yang kemudian membuat istilah “kupas bawang 700 ribu” menjadi bahan perbincangan luas.

Dari Rp700 Menjadi Rp700 Ribu

Perbedaan tiga angka nol menjadi inti perdebatan yang berkembang.

Jika seseorang memperoleh upah Rp700 per kilogram, maka mengupas 10 kilogram bawang menghasilkan Rp7.000.

Sementara jika benar dibayar Rp700.000 per kilogram, mengupas 10 kilogram akan menghasilkan Rp7 juta.

Perbedaannya sangat besar.

Itulah yang membuat narasi “kupas bawang Rp700 ribu” dengan cepat menjadi bahan candaan di media sosial.

Di Reddit, misalnya, sejumlah pengguna membahas kemungkinan seseorang salah memahami angka Rp700 sebagai Rp700 ribu. Percakapan tersebut menunjukkan bahwa isu ini memang sedang menjadi bahan pembicaraan publik, meskipun komentar warganet sendiri tidak dapat dijadikan bukti mengenai angka upah resmi.

Berapa Sebenarnya Upah Pengupas Bawang?

Salah satu contoh yang cukup jelas berasal dari pengalaman pekerja pengupas bawang di Palembang.

Dalam laporan yang diterbitkan pada 2020, seorang pekerja bernama Suparti mengatakan dirinya memperoleh bayaran Rp700 per kilogram bawang yang dikupas.

Ia dapat mengupas sekitar 30–40 kilogram per hari.

Dengan jumlah tersebut, pendapatannya berkisar sekitar Rp20 ribu hingga Rp35 ribu per hari, tergantung jumlah bawang yang tersedia dan kecepatan bekerja.

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa pekerjaan pengupas bawang memang menggunakan sistem pembayaran berdasarkan berat, tetapi nilainya sangat jauh dari Rp700 ribu per kilogram.

Data Lain Juga Menunjukkan Angka Serupa

Bukan hanya di Palembang.

Laporan mengenai pekerja protol atau pemrosesan bawang merah di Nganjuk pada 2023 juga mencatat upah Rp700 per kilogram.

Pekerja yang mampu menyelesaikan sekitar 50 kilogram dalam satu hari dapat memperoleh sekitar Rp35 ribu.

Temuan tersebut semakin memperkuat bahwa angka Rp700 per kilogram memang pernah digunakan dalam praktik pekerjaan yang berkaitan dengan pemrosesan bawang.

Mengapa Pekerjaan Dibayar Berdasarkan Kilogram?

Sistem pembayaran berdasarkan kilogram cukup umum untuk pekerjaan yang berkaitan dengan hasil produksi pertanian.

Pekerja dibayar berdasarkan volume pekerjaan yang berhasil diselesaikan.

Semakin banyak bawang yang dapat diproses, semakin besar pendapatan yang diperoleh.

Sistem seperti ini juga memungkinkan pemilik usaha menyesuaikan biaya tenaga kerja dengan jumlah produksi.

Viral Kupas Bawang Rp700 Ribu, Ternyata Ada Perbedaan Tiga Nol
Viral Kupas Bawang Rp700 Ribu, Ternyata Ada Perbedaan Tiga Nol

Pekerjaan Mengupas Bawang Tidak Semudah yang Terlihat

Di balik candaan mengenai “kerja kupas bawang Rp700 ribu”, pekerjaan tersebut sebenarnya membutuhkan tenaga dan ketelitian.

Pekerja harus menangani bawang dalam jumlah besar, membersihkan bagian yang tidak diperlukan dan memastikan hasil tetap memiliki kualitas baik.

Aroma bawang yang menyengat juga dapat membuat mata terasa perih.

Seorang pekerja pengupas bawang di Palembang bahkan menggambarkan mata perih dan berair sebagai salah satu risiko pekerjaan tersebut.

Kecepatan Menentukan Pendapatan

Karena dibayar berdasarkan berat, kecepatan menjadi salah satu faktor penting.

Pekerja yang mampu menyelesaikan lebih banyak kilogram tentu memperoleh pendapatan lebih besar dibandingkan pekerja yang hanya mampu mengerjakan sedikit.

Namun, kemampuan fisik dan jumlah bawang yang tersedia juga menjadi faktor penentu.

Tidak setiap hari seorang pekerja dapat memperoleh jumlah pekerjaan yang sama.

Tren Bawang Kupas Justru Sedang Berkembang

Menariknya, di tengah viralnya istilah “kupas bawang 700 ribu”, kebutuhan terhadap bawang yang sudah dikupas memang mengalami perkembangan.

Laporan RRI pada Mei 2026 menyebut bawang merah dan bawang putih kupas semakin diminati masyarakat di Ranai, Natuna.

Produk tersebut dianggap praktis karena menghemat waktu ketika memasak.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan mengolah bawang tetap mempunyai nilai ekonomi.

Pedagang Makanan Membutuhkan Bawang dalam Jumlah Besar

Bawang kupas bukan hanya dibeli rumah tangga.

Pelaku usaha kuliner juga membutuhkan bawang dalam jumlah besar untuk berbagai kebutuhan produksi.

Restoran, warung makan, katering dan usaha makanan dapat menghemat waktu persiapan apabila menggunakan bawang yang sudah dibersihkan.

Karena itu, permintaan terhadap produk bawang kupas dapat menciptakan peluang bagi pekerja maupun usaha pengolahan pangan.

Harga Bawang Kupas Tidak Sama dengan Upah Pengupas

Hal lain yang perlu dibedakan adalah harga bawang kupas dan upah tenaga kerja mengupas bawang.

Keduanya merupakan angka yang berbeda.

Dokumen standar harga satuan Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk 2026, misalnya, mencantumkan bawang putih kupas sekitar Rp57.800 per kilogram dan bawang merah kupas sekitar Rp43.100 per kilogram.

Angka tersebut merupakan contoh harga barang, bukan upah pekerja.

Mengapa Angka Rp700 Menjadi Viral?

Angka kecil seperti Rp700 sebenarnya mempunyai konteks panjang dalam pekerjaan pengolahan bawang.

Sejumlah laporan dari berbagai daerah menunjukkan angka tersebut pernah digunakan sebagai tarif per kilogram.

Namun ketika angka tersebut berubah dalam percakapan menjadi “Rp700 ribu”, nilainya melonjak seribu kali lipat.

Perubahan kecil dalam penyebutan angka akhirnya menghasilkan narasi yang jauh lebih sensasional.

Warganet Langsung Menghitung Potensi Penghasilan

Begitu muncul narasi Rp700 ribu per kilogram, warganet langsung melakukan perhitungan.

Jika seseorang mampu mengupas 10 kilogram dalam sehari, pendapatannya secara matematis akan mencapai Rp7 juta sehari.

Jika bekerja 30 hari, angkanya menjadi Rp210 juta per bulan.

Perhitungan inilah yang kemudian membuat istilah “kupas bawang 700 ribu” semakin viral.

Namun perhitungan tersebut hanya simulasi berdasarkan angka Rp700 ribu dan bukan bukti bahwa pekerja pengupas bawang benar-benar menerima upah sebesar itu.

Bawang Merah dan Bawang Putih Memiliki Proses Berbeda

Pekerjaan pengolahan bawang juga tidak selalu berarti mengupas kulit sampai bersih.

Dalam industri bawang, terdapat berbagai aktivitas seperti memotong daun, membersihkan akar, memilah, mengupas dan melakukan sortasi.

Jenis pekerjaan tersebut dapat mempunyai tarif berbeda.

Karena itu, angka upah tidak bisa digeneralisasi untuk seluruh pekerja bawang di Indonesia.

Pengupas Bawang Tetap Menjadi Pekerjaan Informal

Banyak pekerja pengolahan bawang berada dalam sektor informal.

Mereka mendapatkan pekerjaan berdasarkan kebutuhan pedagang atau pemilik usaha.

Ketika pasokan bawang meningkat, jumlah pekerjaan dapat bertambah.

Sebaliknya, ketika aktivitas perdagangan menurun, pekerjaan juga bisa berkurang.

Kondisi tersebut membuat pendapatan pekerja tidak selalu tetap setiap hari.

Bawang Kupas Memberikan Efisiensi bagi Pedagang

Bagi pedagang makanan, membeli bawang kupas mempunyai nilai ekonomi tersendiri.

Mereka tidak perlu mengalokasikan waktu khusus untuk membersihkan bawang sebelum memasak.

Waktu yang dihemat dapat digunakan untuk mempersiapkan bahan lain atau meningkatkan produksi.

RRI mencatat alasan kepraktisan menjadi salah satu faktor meningkatnya permintaan bawang kupas di Ranai.

Peluang Usaha dari Bawang Kupas

Tren tersebut juga membuka peluang usaha.

Seseorang dapat membeli bawang dalam jumlah tertentu, melakukan proses pembersihan, kemudian menjualnya kembali sebagai produk siap masak.

Namun usaha tersebut membutuhkan perhitungan biaya yang matang.

Biaya bahan baku, tenaga kerja, kemasan, penyimpanan, transportasi dan risiko kerusakan harus diperhitungkan.

Tantangan Menjual Bawang Kupas

Bawang kupas mempunyai masa simpan yang berbeda dengan bawang yang masih memiliki kulit.

Karena lapisan pelindungnya telah dibuang, penanganan dan penyimpanan harus lebih diperhatikan.

Pelaku usaha juga perlu memastikan kebersihan selama proses pengupasan dan pengemasan.

Hal tersebut penting karena produk akan langsung digunakan konsumen.

Jangan Terjebak Angka Viral

Fenomena “kupas bawang 700 ribu” kembali menunjukkan bagaimana angka dapat berubah makna ketika dipotong dari konteks.

Masyarakat perlu membedakan antara:

Rp700 per kilogram

dengan

Rp700.000 per kilogram.

Perbedaan tersebut bukan sekadar tiga angka nol.

Secara ekonomi, keduanya mempunyai nilai yang sangat berbeda.

Fakta Lama Bisa Menjadi Viral Kembali

Informasi mengenai upah Rp700 per kilogram sebenarnya bukan informasi baru.

Laporan mengenai pengupas bawang yang menerima Rp700 per kilogram sudah muncul beberapa tahun lalu.

Namun ketika angka tersebut dikaitkan dengan isu yang sedang ramai pada Agustus 2026, pembahasannya kembali muncul dan menjadi tren di media sosial.

Fenomena Ini Juga Membuka Diskusi Soal Upah Buruh

Di balik candaan, viralnya isu ini sebenarnya membuka diskusi mengenai pendapatan pekerja informal.

Pekerjaan yang terlihat sederhana dapat membutuhkan waktu, tenaga dan ketahanan fisik.

Namun penghasilan yang diterima pekerja belum tentu mencerminkan besarnya nilai produk setelah masuk ke rantai perdagangan.

Hal tersebut menjadi persoalan ekonomi yang lebih luas daripada sekadar angka Rp700.

Pentingnya Melihat Rantai Pasok

Harga sebuah produk pangan tidak hanya ditentukan oleh biaya tenaga kerja.

Ada petani, pengepul, pedagang besar, distributor, pedagang eceran hingga konsumen.

Pada setiap tahap terdapat biaya transportasi, penyimpanan, penyusutan dan tenaga kerja.

Karena itu, membandingkan upah pengupas dengan harga jual akhir secara langsung dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Kesimpulan

Istilah “kupas bawang 700 ribu” menjadi salah satu topik yang ramai diperbincangkan pada 14–15 Agustus 2026.

Namun, tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pengupas bawang secara umum mendapatkan Rp700 ribu per kilogram.

Sejumlah laporan justru menunjukkan angka Rp700 per kilogram. Di Palembang, seorang pekerja pada 2020 dilaporkan memperoleh Rp700 per kilogram dan mampu mengupas sekitar 30–40 kilogram sehari.

Laporan lain dari Nganjuk pada 2023 juga mencatat pekerja pemrosesan bawang memperoleh Rp700 per kilogram.

Sementara itu, permintaan terhadap bawang kupas memang mempunyai tren tersendiri karena dianggap praktis oleh rumah tangga dan pelaku usaha kuliner.

Dengan demikian, Rp700 dan Rp700 ribu adalah dua angka yang sangat berbeda. Narasi yang berkembang di media sosial sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai informasi upah resmi sebelum terdapat sumber yang jelas.

Viralnya “kupas bawang 700 ribu” pada akhirnya bukan hanya soal bawang, tetapi juga menunjukkan bagaimana satu angka dapat berubah menjadi fenomena besar ketika dipotong dari konteks dan menyebar cepat di media sosial.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Penulis : Redaksiku

Editor : Redaksiku

Sumber Berita: Dept Viral

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anthropic Ungkap Penyalahgunaan AI Claude untuk Kejahatan Siber
PLN Operasikan Jaringan 150 kV Subang Baru untuk Pasokan Listrik
OpenAI Pertimbangkan Perlambat Pengembangan AI demi Keamanan
Pentingnya Saling Mengasihi Karena Kita Semua Pendosa
Dampak Modal Konglomerat Keluar Negeri dan Lonjakan Utang Global
Kanselir Sekolah NYC Kamar Samuels Janjikan Reformasi di Tengah Skandal
Prakiraan Cuaca Bandung Hari Ini, Minggu 13 September 2026
Studi DNA Ungkap Hubungan Kekerabatan Hiu Putih Besar

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 09:00 WIB

Anthropic Ungkap Penyalahgunaan AI Claude untuk Kejahatan Siber

Minggu, 13 September 2026 - 08:48 WIB

PLN Operasikan Jaringan 150 kV Subang Baru untuk Pasokan Listrik

Minggu, 13 September 2026 - 07:45 WIB

OpenAI Pertimbangkan Perlambat Pengembangan AI demi Keamanan

Minggu, 13 September 2026 - 07:39 WIB

Pentingnya Saling Mengasihi Karena Kita Semua Pendosa

Minggu, 13 September 2026 - 07:15 WIB

Dampak Modal Konglomerat Keluar Negeri dan Lonjakan Utang Global

Berita Terbaru

Dua lampu bertenaga surya di makam keluarga Vidi Aldiano di TPU Tanah Kusir dilaporkan hilang dicuri.

Life Style

Dua Lampu Panel Surya di Makam Keluarga Vidi Aldiano Dicuri

Minggu, 13 Sep 2026 - 08:41 WIB

Koei Tecmo memutuskan untuk mengurangi konten kostum seksi dalam game Dead or Alive 6 Last Round.

Esports

Dead or Alive 6 Last Round Akan Kurangi Kostum Seksi

Minggu, 13 Sep 2026 - 08:24 WIB