💬 Duka dan Penghormatan dari Dunia Seni
Kabar wafatnya Ki Anom Suroto membuat linimasa media sosial dipenuhi ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan.
Dari dalang muda, pejabat daerah, hingga masyarakat umum, semuanya sepakat bahwa kepergiannya meninggalkan kekosongan besar dalam dunia seni tradisional.
Beliau bukan cuma dalang, tapi penjaga moral dan budaya Jawa. Orang yang mengingatkan kita untuk tetap rendah hati meskipun sudah setinggi langit, tulis seorang penggemar di platform X.
Beberapa komunitas seni di Solo dan Klaten juga berencana menggelar malam tahlil dan pentas wayang tribut khusus untuk mengenang jasa dan karya beliau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
ðŸ•Šï¸ Jejak Abadi Sang Dalang
Kini, Ki Anom Suroto telah berpulang kepada Sang Pencipta, namun karya dan warisannya tetap hidup di hati banyak orang.
Ia telah mengabdikan hidupnya untuk memuliakan budaya wayang kulit dan memperkenalkan falsafah Jawa ke dunia internasional.
Dari ribuan pementasan, ratusan murid, dan puluhan penghargaan, Ki Anom meninggalkan pesan abadi:
bahwa seni bukan sekadar hiburan, tapi jalan untuk memahami kehidupan dan menghormati leluhur.
Ki Anom adalah dalang yang mampu menyeimbangkan tradisi dan zaman. Beliau adalah pengingat bahwa budaya harus dirawat, bukan hanya ditonton, ujar budayawan asal Solo, Suharno Santosa.
Dengan wafatnya sang maestro, dunia pewayangan seolah kehilangan satu bintang paling terang di langit budaya Nusantara.
Namun, cahayanya tidak padamia akan terus hidup dalam setiap sabetan wayang, dalam setiap gamelan yang berdentum, dan dalam hati para penikmat seni.
🌹 Selamat Jalan, Ki Anom Suroto
Pemakaman sang maestro dilaksanakan pada hari yang sama, Kamis (23/10), di kampung halamannya di Klaten.
Suasana duka bercampur haru mewarnai prosesi perpisahan. Ratusan pelayat hadir memberikan penghormatan terakhir, termasuk sesama dalang, pejabat daerah, serta masyarakat yang tumbuh besar menyaksikan pementasan-pementasan Ki Anom.
Suara gamelan lembut mengiringi jenazah menuju peristirahatan terakhir. Di antara air mata dan doa, ada rasa syukurkarena Indonesia pernah memiliki sosok seperti Ki Anom Suroto, sang penjaga warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.
Ikuti berita viral dari Redaksiku di Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






