Redaksiku.com – Isu ketahanan pangan yang berkelanjutan kini menjadi perhatian utama berbagai kalangan di Jawa Timur, termasuk di wilayah Malang. Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) baru saja menyelenggarakan inisiatif bertajuk ‘Rame-rame Pasar Hijau’ yang berlangsung di Malang Creative Center pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Kegiatan ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara praktik usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan tuntutan menjaga kelestarian lingkungan. Melalui pendekatan berbasis komunitas, para pelaku UMKM diajak untuk lebih peka terhadap dampak ekologis dari proses produksi pangan yang mereka jalankan sehari-hari.
Integrasi Praktik Ekonomi Hijau
Penyelenggaraan acara ini didorong oleh kesadaran bahwa sektor UMKM memiliki peran strategis dalam rantai distribusi pangan lokal. KRKP melihat perlunya transformasi cara pandang pelaku usaha, dari sekadar berorientasi pada keuntungan ekonomi menjadi entitas yang mendukung ketahanan lingkungan jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam forum tersebut, para peserta berdiskusi mengenai berbagai tantangan nyata yang mereka hadapi di lapangan. Fokus utama pembahasan mencakup beberapa poin krusial untuk membangun ekosistem usaha yang lebih sadar lingkungan:
- Penerapan sistem pengemasan ramah lingkungan untuk mengurangi limbah plastik sekali pakai di pasar tradisional.
- Optimalisasi rantai pasok pangan lokal agar meminimalisir jejak karbon dari proses transportasi bahan baku.
- Pemberdayaan petani lokal sebagai mitra utama penyedia bahan baku bagi para pelaku UMKM pangan di Malang.
- Pemanfaatan platform kreatif sebagai media edukasi bagi konsumen mengenai pentingnya mengonsumsi produk lokal yang diproses secara etis.
Gerakan Pasar Hijau ini bertujuan untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam operasional harian UMKM demi menciptakan kedaulatan pangan yang mandiri dan ekologis.
Kolaborasi Antar Sektor untuk Ketahanan Pangan
Lokasi Malang Creative Center dipilih sebagai ruang pertemuan karena simbolisasinya sebagai titik temu berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pegiat lingkungan, pelaku ekonomi kreatif, hingga produsen pangan lokal. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai krusial untuk mempercepat adopsi teknologi tepat guna yang dapat membantu UMKM bertransisi menjadi bisnis yang lebih hijau.
Kegiatan ini menjadi momentum penting di mana pelaku usaha dapat berinteraksi langsung dengan lebih dari 50 perwakilan UMKM pangan yang berkomitmen menjalankan operasional bisnis dengan standar keberlanjutan baru.
Selain diskusi mendalam, acara ini juga menjadi ajang pameran bagi produk-produk yang telah menerapkan standar lingkungan. Para pengusaha yang hadir berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka mulai mengurangi ketergantungan pada bahan pengawet kimia dan beralih ke kemasan berbahan dasar serat alam yang mudah terurai.
Tantangan dan Masa Depan UMKM Hijau
Meskipun antusiasme pelaku UMKM cukup tinggi, transisi menuju praktik ekonomi hijau tentu memiliki hambatan tersendiri. Biaya produksi yang terkadang lebih mahal untuk bahan kemasan ramah lingkungan menjadi kendala yang sering dikeluhkan oleh para pengusaha skala kecil.
Para pelaku UMKM disarankan untuk memulai transisi hijau secara bertahap, misalnya dengan mengganti kantong plastik dengan tas belanja pakai ulang atau kertas daur ulang secara konsisten.
KRKP menegaskan bahwa pemerintah dan pihak swasta harus memberikan dukungan lebih nyata melalui insentif. Dukungan ini diharapkan dapat meringankan beban biaya yang dikeluarkan UMKM saat mengadopsi standar keberlanjutan. Tanpa keberpihakan kebijakan yang jelas, target ketahanan pangan yang selaras dengan pelestarian lingkungan akan sulit tercapai secara masif.
Ke depannya, inisiatif Pasar Hijau di Malang diharapkan menjadi model percontohan bagi daerah lain di Jawa Timur. Dengan memperkuat jejaring antar-UMKM, mereka dapat saling berbagi sumber daya dan informasi untuk bertahan di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu saat ini.
Pertanyaan Umum
Apa tujuan utama dari kegiatan Rame-rame Pasar Hijau di Malang?
Tujuan utamanya adalah mendorong pelaku UMKM di sektor pangan untuk menerapkan praktik usaha yang lebih ramah lingkungan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah melalui kolaborasi antar komunitas.
Mengapa isu lingkungan dianggap relevan bagi pelaku UMKM pangan?
Karena sektor UMKM pangan memiliki kontribusi besar dalam rantai pasok dan penggunaan kemasan, sehingga perubahan sekecil apa pun dalam proses produksi mereka akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi lingkungan.
Siapa saja yang terlibat dalam inisiatif ini?
Kegiatan ini diinisiasi oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dengan melibatkan para pelaku UMKM lokal, pegiat lingkungan, serta komunitas kreatif di wilayah Malang.
Ringkasan
Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menyelenggarakan inisiatif ‘Rame-rame Pasar Hijau’ di Malang Creative Center pada Sabtu, 3 Oktober 2026, untuk mendorong transformasi pelaku UMKM pangan agar menerapkan praktik usaha yang ramah lingkungan. Kegiatan ini mempertemukan lebih dari 50 perwakilan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pangan, pegiat lingkungan, serta komunitas kreatif guna menyelaraskan rantai produksi pangan lokal dengan ketahanan ekologis jangka panjang.
Dalam pertemuan tersebut, para pelaku usaha mendiskusikan langkah strategis seperti pengurangan limbah plastik lewat penggunaan kemasan serat alam, optimalisasi rantai pasok lokal guna menekan jejak karbon, serta pemberdayaan petani sebagai mitra penyedia bahan baku utama. Acara ini juga menyajikan pameran produk pangan yang bebas pengawet kimia sebagai bentuk edukasi langsung kepada konsumen mengenai pentingnya konsumsi produk yang diproses secara etis.
Meskipun antusiasme peserta tinggi, tingginya biaya bahan ramah lingkungan masih menjadi kendala utama bagi pengusaha kecil, sehingga KRKP menyarankan transisi secara bertahap seperti penggunaan kantong kertas daur ulang. KRKP juga menegaskan perlunya dukungan insentif nyata dari pemerintah dan pihak swasta agar model ketahanan pangan yang ramah lingkungan ini dapat direplikasi di daerah lain di Jawa Timur dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.






