Reivan tertawa, tetapi aku menangkap ada kepalsuan dalam tawanya. Masih grogi, Bu
Grogi apanya? Kalian sudah nikah berapa bulan, sih?
Mau delapan bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sudah tidur bareng, kan, sudah saling lihat luar dalam juga, kan?
Tiba-tiba suara berkelontangan terdengar dari arah dapur. Bu Lia muncul beberapa saat kemudian untuk meminta maaf sambil berkata bahwa yang tadi itu adalah perbuatan Dewi. Katanya, Dewi ceroboh ketika sedang merapikan panci. Sesaat sebelum Bu Lia kembali ke dapur, aku menoleh melihatnya. Bu Lia mengangguk singkat dan kuterjemahkan anggukannya itu sebagai jaminan bahwa rahasiaku dan Reivan tetap aman di tangannya.
Dengar Reivan, Hana, menikah dijodohkan itu memang enggak gampang. Pasti canggung, tapi kalau canggungnya terus dipelihara, kapan kalian bisa jadi suami istri seutuhnya?
Aku tidak menjawab. Reivan pun memutuskan melakukan hal yang sama.
Enggak apa-apa kalau sekali-kali kalian bertengkar. Enggak apa-apa kalau kalian ribut, namanya rumah tangga memang itu bumbunya. Itu juga bagian dari adaptasi kalian sebagai suami istri. Tapi lain kali usahakan tidak bikin ribut keluarga besar.
Reivan contohnya, sebagai suami kamu jangan gampang main tangan. Perempuan itu kalau marah memang sukanya ngomel, kayak kamu enggak kenal Ibu aja. Biarin Hana keluarin dulu unek-uneknya, nanti kalau udah puas juga pasti bisa diajak ngobrol baik-baik lagi. Hana juga, kalau Reivan ada salah tolong jangan langsung bikin berita yang enggak-enggak. Mungkin Reivan lagi banyak masalah, mungkin dia lagi kurang sabarnya, tolong maklumin dulu. Laki-laki kalau marah itu enggak akan lama, kok, enggak kayak kita.
Iya, Bu.
Bu Nawang membelai tanganku sambil melanjutkan petuahnya. Ibu minta maaf, ya, kalau kemarin sikap Reivan bikin kamu marah, sakit, dan sedih. Sebagai ibunya, Ibu merasa bersalah karena masih kurang ngedidik Reivan.
Ibu ¦ Ibu enggak salah, kok ¦. Suaraku tiba-tiba saja bergetar, rasanya aku ingin menangis mendengar kata-kata Bu Nawang.
Sepertinya, menyadari aku hampir kehilangan pertahanan diri, Bu Nawang pun memutuskan menyudahi sesi obrolan malam itu. Ia memeluk lalu mencium keningku, tanpa tahu bahwa kedua hal itu malah membuat perasaanku menjadi jauh lebih buruk. Dorongan untuk menangis menguat dibandingkan sebelumnya.
Udah, kalian baik-baik lagi, ya. Jangan baiknya pura-pura aja di depan Ibu, tapi di belakang masih marah-marahan. Jadikan kejadian kemarin sebagai pembelajaran, ya, Reivan? Kendalikan emosimu. Jangan lagi gampang main tangan sama perempuan.
Iya, Bu, timpal Reivan sambil tersenyum.
Minta maaf dulu sama istrimu.
Maaf, ya. Saya salah.
Saya lagi ¦ yang lain, dong, Nak!
Reivan tertawa gugup. Kentara sekali ia tidak nyaman diperlakukan seperti itu di depanku. Mas? Mas minta maaf, ya ¦ Dek? Enggak apa-apa, ya, saya panggil Dek?
Aku mengangguk sementara Bu Nawang tertawa geli. Sepertinya ia menikmati kecanggungan di antara kami.
Coba cium dulu itu istrimu. Peluk terus usap-usap kepalanya. Perempuan itu seneng, lho, digituin sama suaminya.
Malu, ah, Bu
Malu gimana? Kalian ini udah sah jadi suami istri, kok! Malu sama Ibu, ya?
Bukannya menjawab, Reivan malah menarikku ke pelukannya. Ia mendekapku erat, menjauhkanku sesaat untuk mengecup keningku, kemudian kembali merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Sambil berusaha menghalau gelenyar aneh di tiap pembuluh darahku, kuimbangi tindakan Reivan dengan balas memeluknya.
Sejujurnya malam itu aku tidak ingin Reivan melepaskan pelukannya dari tubuhku. []
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.