Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 29)

- Penulis

Kamis, 21 November 2024 - 09:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lihat baik-baik! Akan aku masukkan ini ke perut wanita sainganmu! Jika kau sekali lagi melakukan kebodohan tadi, akan kumasukkan ke perutmu, mengerti?

Mata Erlika membesar ketakutan, wajahnya pias, tubuhnya gemetar. Tatapannya memudar, lalu gelap. Erlika tak sadarkan diri. Dukun cabul mendengus lalu membantingnya ke kasur.

Dukun itu kembali duduk. Setelah menyerap habis tenaga Erlika dengan cara sadis, dia duduk bersila sambil mengisap rokok klembak menyan. Dengan nikmat rokok dihisap dalam-dalam, lalu diembuskan perlahan. Disusul isapan dan embusan, lagi dan lagi. Asap berbau kemenyan bercampur tembakau bergulung-gulung keluar dari mulut yang menghitam, memenuhi rumah itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah terbakar sepertiga, rokok ditaruh di asbak. Kemudian, dia membakar dupa sambil berkomat-kamit. Dupa ditambahkan sedikit-sedikit. Asap makin banyak dan tebal seperti kabut yang berbau. Wangi dupa bercampur wangi kemenyan dan tembakau, memenuhi rumah yang sempit dan suram.

Bau wangi yang menyengat menyadarkan Erlika. Begitu matanya terbuka, rasa perih menyergap, langsung memejamkan mata kembali. Penasaran Erlika mengintip perbuatan Jungsemi, senyum tipis menghiasi bibirnya. Akhirnya maniak itu melakukan ritual dengan serius, batinnya. Saatnya dendam terbalaskan.

Aki Jungsemi menaruh wadah benda-benda tajam itu di atas tungku pembakaran dupa, mengasapinya beberapa saat, sambil komat-kamit melafalkan mantra. Tiba-tiba benda-benda itu membara. Jungsemi mengentakkan wadah itu. Isinya yang telah membara terlontar ke udara, menari-nari berputar-putar membuat gumpalan-gumpalan kecil masing-masing berotasi dengan cepat.

Pergilah dan masuk ke perut perempuan itu, jangan sampai gagal! titahnya, lalu huaaah, teriaknya sambil mendorong kedua telapak tangannya lurus-lurus.

Gumpalan benda-benda menyala itu terdorong keras, meluncur menembus dinding tanpa suara, disambut kesiur angin kencang, lalu menghilang. Perlahan-lahan kabut asap menipis menyisakan bau yang menyengat hidung.

Selepas salat Asar, Ratih diantar bundanya dan dikawal Pak Kardi berangkat ke kediaman Sumbogo. Mereka memakai mobil Pakde. Arum duduk di belakang menemani Ratih. Mereka tidak melihat sebentuk bayangan hitam yang baru tiba dan bersembunyi di pohon angsana besar di tikungan jalan. Setelah mobil melewatinya bayangan itu menyeringai. Matanya merah penuh kemarahan dan dendam akibat kegagalan sebelumnya.

Di tengah perjalanan, bayangan hitam berkelebat di samping mobil tempat Ratih duduk. Pak Kardi yang waspada langsung memerintahkan untuk berzikir dan tadarus. Berkat bacaan ayat-ayat suci yang dibaca Arum, zikir dengan ayat-ayat pilihan yang kuat dari Ratih dan pak Kardi, bayangan itu hancur berkeping lalu menguap hilang.

Jauh di angkasa segumpal besar awan hitam pekat memayungi bumi, membuat cahaya mentari di baliknya tak mampu menembusnya. Serpihan bayangan berkumpul di bawahnya satu persatu, membentuk potongan-potongan besar. Tiba-tiba bertiup angin kencang memorak-porandakan kembali. Dengan gigih bayangan itu berkumpul menyatu membentuk bayangan hitam pekat. Di tengahnya benda-benda tajam membara dan berputar kencang dalam formasi bulat. Bayangan hitam itu utusan Jungsemi.

Setelah benar-benar utuh, bayangan itu kembali melesat meluncur ke bawah. Mata merahnya nyalang menyala-nyala penuh dendam, mencari buruannya. Di bawah sana, mobil yang membawa Ratih dan bundanya, disopiri oleh Pak Kardi hampir sampai di rumah kediaman Barman. Dengan seringai menakutkan, bayangan hitam itu secepat kilat menukik turun mendekati korbannya.

Mobil berhenti di depan teras. Bayangan hitam lalu menyerang dengan gumpalan benda-benda tajam membara dan berotasi kencang, ke arah Ratih, tepat saat dia membuka pintu belakang. Tanpa rasa curiga, Ratih turun. Belum sampai berdiri, tiba segumpal hawa panas menyerangnya. Ratih menjerit kesakitan.

Ratih ¦, jerit Arum yang baru menurunkan satu kaki dari mobil. Kenapa, Sayang ¦ kamu kenapa? tanya Arum tergopoh sambil berusaha mendudukkan Ratih yang meringkuk kesakitan.

Astagfirullahalazim! Pak Kardi tersentak merasa kecolongan. Hanya sedetik terpesona melihat rumah mewah yanng mereka datangi, membuatnya terlena. Pendengarannya yang tajam menangkap suara dari dunia lain, suara gelak tawa mengejek penuh kemenangan dari bayangan hitam.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru