(sumber video: youtube)
Bima merasakan jantungnya bertalu-talu dan darahnya berdesir kencang. Hatinya terbelah menjadi dua. Di satu sisi, ada desakan kuat yang membuatnya ingin menyerah pada hasrat lelakinya. Tangannya hampir tidak tahan untuk tidak balas menyentuh sang wanita. Sementara itu, di sisi lain, sebagian akal sehatnya memberi alarm tanda bahaya, memintanya untuk pergi menjauh. Bima memutuskan untuk memilih yang terakhir.
Ketika membuka mata, Bima kembali lagi ke kamarnya sendiri. Seluruh pemandangan tadi hilang dari hadapannya. Namun, isi kepalanya masih dipenuhi oleh suara nyanyian si wanita misterius itu. Aroma melati masih menempel kuat di hidungnya, seolah wanita tersebut masih ada di sini, di dekatnya. Belaian sang wanita juga rasanya terlalu nyata untuk dibilang mimpi belaka. Rambut-rambut di sekujur tubuh Bima meremang hebat. Alhasil, lelaki itu nyaris tidak tidur lagi hingga subuh tiba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanpa sadar, Bima semakin mendekatkan diri pada tubuh sang istri. Sejujurnya, ia terlalu takut untuk memejamkan mata malam ini. Kalau sampai wanita itu kembali datang dalam mimpinya, Bima tidak yakin bisa menghindar lagi. Pikirannya terlalu berkabut untuk melihat mana yang salah dan mana yang benar. Bisa saja ia memutuskan untuk menyerah pada godaan wanita tersebut.
Beruntung, malam itu, Bima tidak mendapat mimpi apa-apa. Yang ia ingat hanyalah hitam dan gelap. Bima bersyukur dalam hati, tanpa tahu apa yang menantinya di malam berikutnya.
***
Giska mengempaskan tubuh di sofa usai mencuci dan menjemur pakaian. Bima sudah berangkat ke kantor dua jam lalu. Ini saatnya Giska melaksanakan rencananya untuk menelepon seseorang. Perempuan itu meraih ponselnya, kemudian membuka fitur kontak.
Halo?
Begitu telepon terhubung, suara seorang lelaki terdengar di seberang. Giska langsung menegakkan tubuh. Halo, Mas Edo?
Iya, siapa, ya?
Ini Giska, Mas. Istrinya Bima.
Oalah! Giska, to? seru Edo dengan logat Jawa yang medok. Apa kabar, Gis? Lama nggak ketemu. Kok nggak pernah ikut muncak lagi bareng kita?
Iya, nih, Mas. Sibuk banget. Giska tertawa salah tingkah saat mengutarakan alasan basi itu. Kabar aku baik. Mas Edo sama Mbak Sekar gimana? Sehat, kan?
Sehat walafiat, alhamdulillah.
Ng ¦ aku ganggu, nggak, Mas? Mau ngobrol bentar sama Mas Edo.
Mendengar nada bicara Giska yang mendadak serius, Edo langsung punya firasat ada sesuatu penting yang terjadi. Tunggu bentar, ya, katanya.
Oh, kalau ganggu, nanti aja nggak pa-pa, Mas. Masih jam kerja juga ini, ujar Giska buru-buru.
Nggak, nggak ganggu, kok. Kebetulan kantor lagi sepi, nggak ada kerjaan. Sik, aku tak izin keluar bentar biar leluasa ngobrolnya.
Giska mendengar Edo berbicara pada salah satu rekan kerjanya. Setelah beberapa saat, lelaki itu menyapa lagi, Halo, Gis? Gimana? Mau ngomong apa?
Giska menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Ia sungguh-sungguh berharap, percakapannya dengan Edo bisa memberinya jawaban. Mau baik ataupun buruk, Giska tetap membutuhkan jawaban tersebut. Ia pun memantapkan hati. Gini, Mas. Aku mau nanya sesuatu soal suamiku. Akhir tahun kemarin, Mas Edo, kan, ke Sumbing bareng Mas Bima. Selama di sana, Mas Bima kelihatan aneh nggak?
Aneh gimana maksud kamu? tanya Edo bingung.
Pokoknya aneh, Mas. Giska menarik napas panjang. Tidak mungkin ia menggali informasi dari Edo tanpa menjelaskan permasalahan yang terjadi. Sebenernya, abis pulang dari Sumbing, sikap Mas Bima tiba-tiba berubah total. Udah kayak bukan dia yang biasanya.
Giska pun menerangkan satu per satu kejadian yang ia dan sang suami alami selama beberapa minggu terakhir. Ini pertama kalinya ia membiarkan orang lain tahu tentang prahara rumah tangganya. Edo merupakan salah seorang sahabat Bima dari zaman kuliah. Sejak dulu, mereka sering naik gunung bersama-sama, termasuk dengan istri mereka masing-masing. Edo kini menjadi orang yang Giska percaya bisa membantu karena lelaki itu kenal dekat dengan Bima.
Karena itu, aku khawatir, Mas. Apa jangan-jangan, Mas Bima selingkuh di belakangku? ujar Giska di akhir penjelasannya.
Heh! Ngawur kamu. Nggak mungkinlah, Bima selingkuh, tegur Edo.
Ya, habisnya, kenapa lagi, Mas? Otakku bener-bener buntu dari kemarin, rengek Giska. Aku sempet curiga, apa dia ketemu cewek lain pas di Sumbing?
Gini, ya, Gis, Edo menghela napas, Kamu percaya, to, sama aku? Aku berani sumpah, Bima nggak macem-macem selama kita ke Sumbing. Dia malah bilang, kangen sama kamu. Dia pingin naik gunung lagi bareng kamu.
Giska terenyak, tidak menyangka akan mendengar informasi itu. Mas Bima bilang gitu? tanyanya lirih.
Iya. Waktu itu, to, pas kita di kamp, Bima sempet curhat ke aku sama istriku. Katanya, justru kamu yang berubah sejak nikah, lanjut Edo. Kamu jarang mau diajak main ke luar, apalagi naik gunung. Bima kadang ngerasa kesepian kalau muncak tanpa kamu. Sekar, istriku, lalu bilang, mungkin prioritas kamu sekarang udah beda, jadi maklumin aja.
Giska menutup mulutnya yang mulai bergetar. Kedua matanya memanas tatkala perasaan bersalah bertubi-tubi menghujam dadanya. Mungkinkah, ia sendiri yang menjadi penyebab perubahan sikap Bima selama ini?
***
Selanjutnya: A Way to Find You (Part 8)
Halaman : 1 2






