Redaksiku.com – Nathalie Holscher lagi-lagi jadi sorotan, tapi kali ini bukan karena penampilannya di panggung atau status pribadinyamelainkan karena ledakan emosinya di media sosial! Mantan istri komedian Sule ini terlihat gercep dan blak-blakan ngerespon konten YouTube dari salah satu media yang bahas soal dirinya dan fenomena bangga disawer, sampai-sampai disebut-sebut kayak sindrom.
Nathalie yang dikenal cuek dan santai, kali ini kelihatan bener-bener murka. Di Instastory-nya, doi langsung naik pitam dan ngajak netizen buat bantuin dia cari tahu identitas si media dan psikolog yang muncul di video tersebut.
Ngamuk di Instagram: Bantu Cari, Gue Kasih Bonus!
Pada Selasa, 1 Juli 2025, Nathalie unggah story yang bikin netizen auto terjaga. BANTU CARI SIAPA MEDIA INI DAN IBU INI YA! NANTI KU KASIH BONUS KALO KETEMU, tulisnya sambil nge-tag beberapa akun yang berkaitan.
Emosinya makin naik saat dia nulis, Media goblok, nanya ke psikiater soal gue disawer pas DJ? Sindrom? Lah dari zaman gue ngeband juga sering disawer, biasa aja kaleee!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nathalie bener-bener gak habis pikir kenapa harus ada psikolog atau media yang ngebahas saweran dalam konteks gangguan mental. Buat dia, itu sama aja kayak menghakimi gaya hidup orang lain, padahal realitanya saweran tuh udah lama banget jadi bagian dari dunia hiburan Indonesia.
Disawer Itu Apresiasi, Bukan Aib!
Menurut Nathalie, disawer itu bukan hal aneh, apalagi buat musisi, DJ, atau performer di atas panggung. Dia bahkan bilang kalau dia sendiri suka nyawer kalo lagi nonton band atau DJ yang penampilannya keren.
Apa kabar penyanyi dan musisi lain yang sering di sawer juga? Itu bukan sindrom, itu bentuk suka dan apresiasi dari penonton. Gue juga sering nyawer kalo suka perform-nya, itu normal! tulis Nathalie.
Yang lebih bikin kesel, ada cuplikan video yang memperlihatkan si narasumber (psikolog) bilang bahwa kebanggaan Nathalie saat disawer berpotensi berdampak ke psikologis anak. Di sinilah titik ledakan Nathalie makin tak terbendung.
Pake nanya-nanya dampak ke anak segala. Lah bapaknya anak gue juga nyanyi sambil disawer kok. SERIUS APADEH, RIBET AMAT HIDUP LO. tegasnya.
Respons Netizen: Terbelah, Tapi Banyak yang Bela Nathalie
Komentar netizen pun langsung flooded. Banyak yang ngerasa Nathalie punya hak penuh buat ngomong kayak gitu. Beberapa bahkan ikut bantu cari akun si media dan psikolog yang dibicarakan.
Gak salah sih marah, kadang media suka overanalisis kayak ngerti semua hal padahal bias, tulis seorang netizen.
Tapi ada juga yang bilang Nathalie harusnya lebih cool down, dan gak perlu umbar kemarahan di media sosial. Ya bener sih, tapi kalo bisa diselesaikan elegan, jangan kebawa emosi, Nath, kata yang lain.
Tapi mayoritas netizen, apalagi yang sering berkecimpung di dunia hiburan atau pernah jadi pelaku seni panggung, paham banget konteksnya. Mereka setuju bahwa saweran adalah budaya apresiasi yang udah mengakar, bukan semata soal orientasi atau kebanggaan pribadi.
Media & Profesional Psikologi Diminta Lebih Bijak
Buntut dari hebohnya unggahan Nathalie, muncul diskusi baru soal tanggung jawab media dan profesional kayak psikolog saat bicara di ruang publik. Banyak yang ngingetin, jangan sampe pendapat pribadi dibungkus seolah-olah itu analisis ilmiah yang mutlak. Apalagi kalau konteksnya cuma potongan video tanpa konfirmasi dari pihak yang dibicarakan.
Beberapa netizen bahkan nanya, Emangnya beneran psikolog? Sudah bersertifikat atau sekadar opini diundang media?
Isu ini jadi makin rame karena menyangkut etika media dan dampak penyampaian informasi ke publik. Banyak banget kejadian belakangan ini di mana konten clickbait atau hot take berujung bikin masalah dan memperkeruh suasana.
Saweran: Antara Tradisi dan Kontroversi
Di Indonesia sendiri, budaya saweran udah ada sejak lama. Dari panggung dangdut, musik tradisional, sampe sekarang di era DJ dan live music modern, nyawer dianggap sebagai bentuk dukungan dan penghargaan langsung dari penonton. Bahkan di beberapa daerah, saweran punya makna adat dan tradisi.
Tapi emang gak semua orang paham konteks ini. Ada aja yang ngeliat dari sisi negatif atau langsung nge-cap sesuatu tanpa tahu background-nya. Dan di sinilah, menurut Nathalie, masalah utamanya: kurangnya empati dan pemahaman terhadap profesi dan budaya hiburan.
Kesimpulan: Nathalie Gak Salah, Media Harus Hati-Hati
Ledakan emosi Nathalie Holscher bisa dipahami. Dia ngerasa dipermalukan, dicap buruk, dan bahkan dikaitkan dengan kesehatan mental anaknya hanya karena kebiasaannya di atas panggung. Padahal yang dia lakukan bukan hal aneh di dunia hiburan.
Sementara itu, buat media dan siapa pun yang ngebahas publik figur, penting banget buat tetap profesional, adil, dan gak asal lempar analisis yang bisa jadi boomerang. Soalnya yang diomongin itu manusia, bukan karakter fiksi.
Dan buat kita semua? Yuk belajar ngeliat lebih dari satu sisi sebelum nge-judge.






