Redaksiku.com – Jagat maya kembali diramaikan oleh sebuah kontroversi besar yang melibatkan konten kreator asal Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, bernama Marina Qila.
Namanya mendadak viral bukan karena karya inspiratif, melainkan akibat unggahan video yang dianggap menistakan bacaan suci Ta™awudz, salah satu dzikir penting dalam Islam.
Video berdurasi singkat itu memperlihatkan Marina Qila dan beberapa rekannya menirukan bacaan A™udzubillahi minasy-syaithonir-rojim dengan nada bercanda, bahkan disertai ekspresi dan gaya yang dinilai melecehkan makna aslinya. Dalam hitungan jam, konten tersebut langsung menyebar luas di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Facebook, hingga X (Twitter).
Tak butuh waktu lama, video itu pun menuai gelombang amarah dan kecaman keras dari warganet, terutama masyarakat Kalimantan Barat yang merasa nama daerah mereka ikut tercoreng.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
😡 Bacaan Suci Dijadikan Candaan, Publik Langsung Murka
Dalam video yang kini sudah dihapus dari akun aslinya, Marina terlihat tertawa sambil menirukan bacaan Ta™awudz dengan gaya bercanda. Padahal, dalam ajaran Islam, kalimat Ta™awudz adalah bentuk permohonan perlindungan diri kepada Allah dari godaan setan, dan biasanya diucapkan dengan penuh hormat serta kekhusyukan sebelum membaca Al-Qur™an.
Tindakan Marina itu pun dianggap sangat tidak pantas dan menyinggung nilai-nilai agama. Banyak warganet menilai bahwa menjadikan bacaan dzikir sebagai bahan humor menunjukkan kurangnya adab dan pemahaman terhadap makna spiritual.
Kalimat suci seperti Ta™awudz itu bukan untuk bahan bercanda. Ada batas dalam berkonten. Ini udah kebangetan, tulis seorang pengguna Facebook di grup Sambas Informasi yang langsung diserbu ribuan komentar setuju.
💬 Warganet Kalbar Kompak Mengecam
Gelombang protes terbesar datang dari netizen asal Kalimantan Barat, terutama dari komunitas lokal Sambas yang merasa tindakan Marina dan teman-temannya telah mencoreng citra daerah mereka.
Komentar pedas bermunculan di berbagai kolom unggahan ulang video tersebut. Salah satu komentar viral berbunyi:
Konten sekarang makin ngawur. Demi viral, semua dibikin bahan bercanda, bahkan hal-hal yang sakral. Semoga cepat sadar dan minta maaf dengan tulus.
Warganet lainnya menulis dengan nada kecewa:
Ini bukan cuma soal agama, tapi juga etika. Kalau konten kayak gini dibiarkan, nanti orang lain bisa meniru.
Beberapa warganet bahkan menandai akun lembaga keagamaan dan tokoh masyarakat setempat agar segera menindaklanjuti peristiwa ini, karena dianggap melukai perasaan umat Islam.
👥 Tak Hanya Marina, Beberapa Rekannya Juga Disorot
Selain Marina Qila, ada sejumlah akun lain yang ikut berinteraksi dalam unggahan tersebut, antara lain Zalina Ajja (Zalina Zainal), Sasya Naziva, Kakdhe Danie Ajj, dan Hasan. Mereka disebut ikut menanggapi video itu dengan nada bercanda, seolah-olah mendukung atau menormalisasi aksi parodi bacaan dzikir tersebut.
Komentar-komentar seperti Biar viral dulu, nanti klarifikasi belakangan dan Lucu banget sumpah! justru semakin menyulut kemarahan publik. Banyak yang menilai bahwa para kreator ini sudah kehilangan batas moral demi mengejar popularitas dan views.
Mereka kayak nggak mikir panjang. Konten tuh bisa viral tanpa harus nistain agama, ujar salah satu warganet di TikTok, yang komentarnya ditonton lebih dari 50 ribu kali.
š–ï¸ Perspektif Hukum Agama: Termasuk Perbuatan Haram dan Dosa Besar
Dari sudut pandang agama, tindakan menirukan atau mempermainkan bacaan dzikir seperti Ta™awudz dengan niat bercanda tergolong perbuatan haram. Para ulama menegaskan, siapapun yang menjadikan kalimat suci sebagai bahan olok-olok dianggap telah merendahkan ajaran Islam.
Bahkan, dalam Al-Qur™an Surat At-Taubah ayat 6566, Allah dengan tegas memperingatkan:
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang perbuatan mereka itu), tentulah mereka akan menjawab: ˜Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.™ Katakanlah: ˜Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?™ Janganlah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.
Ayat ini sering dijadikan rujukan oleh para ahli fikih untuk menegaskan bahwa bercanda dalam hal-hal yang menyangkut agama bisa berakibat fatal secara spiritual.
🧠Hilangnya Etika di Dunia Konten Digital
Fenomena seperti ini sayangnya bukan pertama kali terjadi. Di era media sosial yang serba cepat, banyak kreator lebih fokus mengejar engagement dan viralitas, tanpa mempertimbangkan nilai moral dan sosial dari konten yang dibuat.
Dalam konteks kasus Marina Qila, banyak pakar komunikasi menilai bahwa ini adalah contoh nyata dari hilangnya batas antara hiburan dan penghormatan terhadap nilai keagamaan.
Dosen komunikasi digital Universitas Tanjungpura, Dr. Nindy Prameswari, menjelaskan:
Kreator sekarang cenderung memprioritaskan sensasi. Mereka tahu konten kontroversial cepat naik algoritma. Tapi yang mereka lupa, kepercayaan publik itu nggak bisa dibeli dengan views.
Menurut Nindy, seharusnya para konten kreator memiliki rasa tanggung jawab sosial, terutama jika memiliki audiens luas. Setiap unggahan yang bersentuhan dengan agama, budaya, atau identitas sosial tertentu harus melalui pertimbangan matang.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






