KMP Tunu Pratama Jaya menjadi sorotan publik setelah insiden tragis di Selat Bali yang menewaskan sejumlah penumpang.
Tragedi ini memicu keprihatinan mendalam karena banyak korban masih dalam pencarian hingga hari kedua pascakejadian.
Dari total 65 orang dalam manifes, 31 berhasil selamat dan 6 ditemukan meninggal dunia termasuk seorang balita.
Pihak TNI, Polri, Basarnas, serta relawan gabungan dikerahkan menyisir wilayah pesisir Jembrana hingga Ketapang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga turut turun tangan menginvestigasi penyebab tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya.
Kronologi Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali
KMP Tunu Pratama Jaya diketahui berlayar dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, pada Rabu malam, 3 Juli 2025.
Kapal milik PT Pasca Dana Sundari tersebut membawa 65 orang, terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru, serta mengangkut 22 kendaraan yang tersimpan di dek kapal.
Pelayaran berlangsung dalam kondisi laut yang mulai tidak bersahabat, di mana gelombang meninggi dan angin bertiup cukup kencang saat kapal berada di tengah Selat Bali.
Menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.20 WIB, kapal dilaporkan mengalami kondisi darurat dan mulai kehilangan kendali di posisi koordinat 8°9’32.35″ LS dan 114°25’6.38″ BT.
Sinyal distress dari kapal diterima oleh pihak berwenang sebagai tanda bahwa kapal menghadapi situasi bahaya yang mengancam keselamatan penumpang dan awak kapal.
Laporan dari petugas di lapangan menyebut bahwa hanya berselang sekitar 15 menit setelah sinyal bahaya dikirimkan, kapal tersebut tenggelam pada pukul 23.35 WIB.
Dalam kondisi gelap dan cuaca yang buruk, proses evakuasi darurat di atas kapal berjalan sangat terbatas dan hanya sebagian penumpang yang sempat mengakses sekoci atau pelampung.
Minimnya waktu untuk bereaksi serta terbatasnya jumlah alat keselamatan menyebabkan banyak penumpang terpaksa melompat ke laut tanpa perlindungan yang memadai.
Sementara itu, sinyal pemancar darurat atau beacon yang seharusnya aktif saat kapal tenggelam tidak terdeteksi, sehingga menyulitkan pelacakan titik pasti kejadian pada malam itu.
Tim SAR gabungan dari TNI AL, Basarnas, Polri, serta relawan baru bisa memulai pencarian skala penuh keesokan harinya setelah cuaca mulai memungkinkan untuk operasi laut dan udara.
Pencarian korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya memasuki hari kedua dengan penguatan armada laut dan udara.
Proses Evakuasi KMP Tunu Pratama Jaya Hari Kedua Diperluas ke Selatan
Berdasarkan hasil evaluasi semalam, operasi diperluas ke arah Selatan, dimulai dari lokasi datum tenggelamnya kapal di Pantai Ketapang.
Sebanyak dua kapal perang milik TNI AL, yakni KRI Teluk Ende dan KRI Tongkol, diturunkan ke lokasi pencarian bersama pesawat CN-235.
Sementara dari udara, pencarian melibatkan tiga helikopter, masing-masing dari Basarnas, Polri, dan satu swasta dari Bali Air.
Pencarian juga dilanjutkan di sisi Gilimanuk, Bali, oleh petugas gabungan yang menyisir pesisir sepanjang Jembrana hingga Pantai Melaya.
Sementara itu, cuaca menjadi tantangan utama tim pencari dengan hujan rintik dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter di sisi selatan.
BMKG memperingatkan potensi gelombang tinggi dan arus deras hingga 2,1 meter per detik ke arah selatan yang menyulitkan proses evakuasi.
Kondisi tersebut membuat seluruh personel harus bekerja ekstra hati-hati namun tetap intensif dalam menyisir lokasi.
Komandan Lanal Denpasar, Kolonel Laut (P) Cokorda Gede Parta Pemayun, menyatakan pihaknya masih belum menemukan korban tambahan di pesisir.
Posko informasi korban di Pelabuhan Gilimanuk terus melayani keluarga dan masyarakat yang mencari kabar para penumpang KMP Tunu Pratama Jaya.
KNKT Soroti 3 Tanda Kelalaian Kapal KMP Tunu Pratama Jaya
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mempertanyakan jumlah dan kondisi sekoci aktif yang tersedia di KMP Tunu Pratama Jaya.
Dari data sementara, hanya empat penumpang yang berhasil selamat menggunakan sekoci, yang jumlahnya tidak sebanding dengan total penumpang.
KNKT mengingatkan bahwa rakit penyelamat (life raft) seharusnya berkembang otomatis saat terjadi kecelakaan untuk menolong penumpang.
Soerjanto juga menyatakan bahwa tidak ada beacon atau pemancar sinyal otomatis yang aktif saat kapal tenggelam, hal yang sangat krusial dalam situasi darurat.
KNKT akan menjadikan kelemahan ini sebagai poin penting dalam rekomendasi keselamatan pelayaran yang lebih ketat ke depannya.
Selain itu, KNKT mulai menelusuri dokumen Surat Persetujuan Berlayar (SPB) yang dikeluarkan oleh Syahbandar Pelabuhan Ketapang.
Investigasi menyasar apakah proses penerbitan SPB sudah sesuai prosedur, termasuk pemeriksaan kelaikan kapal dan kesiapan evakuasi.
Beberapa kejadian serupa seperti tenggelamnya KMP Yunice (2021) dan KMP Rafelia 2 (2016) dijadikan bahan evaluasi penting untuk mencegah kasus berulang.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






