Kenapa Bangun Tidur Masih Lelah Padahal Sudah Istirahat? Ini Penjelasan Medisnya dan Tipsnya Mengatasinya
Bangun tidur seharusnya menjadi momen ketika tubuh kembali segar dan siap menghadapi hari. Namun, tak sedikit orang justru merasa lelah begitu membuka mata.
Meski telah tidur selama 7 – 8 jam, tubuh terasa berat, mata masih mengantuk, dan semangat seolah tertinggal di balik bantal.
Kondisi ini bukan hal sepele dan tidak selalu menandakan kurang tidur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Istilah medis untuk kondisi ini adalah sleep inertia. Kondisi ini bisa menjadi gangguan serius bagi produktivitas di pagi hari dan menjadi tanda kualitas tidur tidak sebaik yang dikira.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi?
Apa Itu Sleep Inertia?
Dikutip dari berbagai sumber, sleep inertia adalah kondisi penurunan fungsi kognitif dan motorik sesaat setelah bangun tidur.
Otak belum sepenuhnya terbangun sehingga tubuh merasa limbung dan kesulitan berkonsentrasi.
Menurut penelitian, sleep inertia dapat berlangsung dari beberapa menit hingga satu jam, tergantung pada fase tidur saat kita terbangun.
Jika seseorang bangun tidur dalam fase tidur dalam (deep sleep), maka kemungkinan mengalami sleep inertia akan lebih tinggi.
Fase ini merupakan bagian dari siklus tidur di mana aktivitas otak sangat lambat, sehingga butuh waktu untuk kembali ke kondisi sadar sepenuhnya.
Akibatnya, tubuh terasa lemas dan respon mental jadi melambat ketika bangun tidur.
Kualitas Tidur Lebih Penting dari Lamanya Tidur
Tidur selama delapan jam belum tentu menjamin tubuh terasa segar keesokan harinya. Kualitas tidur jauh lebih berperan dibanding durasinya.
Tidur yang sering terbangun di malam hari, mimpi buruk, atau tidur di tempat yang bising akan membuat siklus tidur terganggu.
Akibatnya, otak tidak dapat menyelesaikan fase tidur secara utuh, termasuk fase REM (Rapid Eye Movement) dan deep sleep yang penting untuk pemulihan tubuh dan mental.
Menurut Studi dari National Sleep Foundation menyatakan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan erat dengan rasa lelah kronis, penurunan daya tahan tubuh, dan gangguan mood.
Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya fokus pada berapa lama kita tidur, tetapi juga bagaimana kualitas tidur kita setiap malam.
Kebiasaan Sebelum Tidur Bisa Jadi Penyebab
Selain faktor biologis, kebiasaan sebelum tidur juga sangat memengaruhi kondisi tubuh saat bangun.
Menggunakan gawai terlalu dekat dengan waktu tidur, misalnya, dapat mengganggu produksi melatoninhormon yang membantu kita tertidur.
Cahaya biru dari layar smartphone atau laptop membuat otak tetap aktif dan sulit memasuki fase tidur dalam.
Mengonsumsi kafein, makanan berat, atau alkohol sebelum tidur juga dapat memengaruhi ritme sirkadian dan membuat tidur menjadi tidak nyenyak.
Bahkan, tidur dengan pikiran yang gelisah atau stres tinggi juga akan membuat tubuh tetap waspada sepanjang malam, meski mata tertutup.
Tips Agar Bangun Tidur Jadi Memulihkan Energi
Agar tidur benar-benar memulihkan energi dan membuat tubuh terasa segar saat bangun, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
- Tetapkan waktu tidur dan bangun yang konsisten. Hindari begadang dan bangun terlalu siang saat akhir pekan.
- Jauhkan gawai minimal 30 menit sebelum tidur. Manfaatkan waktu luang itu untuk membaca buku atau sekadar relaksasi ringan agar tubuh dan pikiran terasa lebih tenang.
- Ciptakan suasana kamar yang nyaman. Pastikan kamar gelap, sejuk, dan bebas dari kebisingan.
- Sebaiknya hindari minuman berkafein dan makanan berat pada malam hari agar kualitas tidur tetap terjaga.
- Lakukan aktivitas fisik secara rutin, tetapi hindari olahraga berat mendekati waktu tidur.
- Latih teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau meditasi sebelum tidur agar pikiran lebih tenang.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






