Novel : Choose Happiness (Part 11)

- Penulis

Jumat, 11 Oktober 2024 - 17:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Choose Happiness (Part 11)

Bab. 11 Di Balik Sikap Dingin Itu

Hari berlalu dengan begitu cepat, kini terlihat Amora yang berjalan keluar dari lorong kampusnya bersama dengan Marvell, mereka berdua berbincang-bincang kecil sembari berjalan menuju parkiran.

“Kamu dijemput suamimu?” tanya Marvell tiba-tiba.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ee, iya. Ada apa?” tanya Amora balik seraya tersenyum kecil setelah menjawab apa adanya.

“Ngga papa. Daren kayaknya suka ya sama kamu?” jawab Marvell yang juga menunjukkan senyumannya.

Mendengar ucapan Marvell di akhir membuat Amora terkejut sendiri, “Hah?, suka?”

“Kalau suka sama gue ngga akan punya pacar kali” lanjut Amora di dalam hatinya dengan tersenyum miring dan terlihat sangat sinis.

Marvell sedikit mengerutkan dahinya saat melihat ekspresi Amora yang terlihat sangat aneh, “Kenapa gitu?”

“Hah?, enggaa. Ya ngga tau ya, tapi menurutku dia cukup perhatian sih” jawab Amora yang lalu diangguk-anggukki oleh Marvell.

Mereka berdua pun berjalan hingga sampai di parkiran kampus itu, dan saat Amora melihat keberadaan mobil Daren dirinya pun berpisah dengan Marvell dan melanjutkan langkahnya menuju mobil Daren yang terparkir di antara beberapa mobil.

Karena tidak dikunci, Amora pun dengan mudah masuk ke dalam mobil itu, “Hahh, panas banget di luar” gumam Amora dengan nafas panjang.

“Siapa laki-laki itu?” tanya Daren tiba-tiba, Amora yang mendengar itu seketika langsung melihat ke arah Daren dengan tatapan heran.

“A?, oh orang yang jalan sama aku tadi?. Kenapa emangnya?” bukan menjawab, Amora malah balik bertanya.

“Saya bertanya, bisa tidak kamu menjawab tanpa harus melempar pertanyaan lagi?” tanya Daren yang lalu menginjak gas mobilnya hingga mobil miliknya itu bergerak pergi dari kawasan parkiran kampus itu.

Mendengar nada bicara Daren yang tiba-tiba berubah membuat Amora menelan salivanya, “Marvell, udah kan?. Kok kamu ngomongnya pakai saya lagi sih?”

“Maaf, aku keceplosan” jawab Daren sembari terus fokus menyetir.

“Heem” gumam Amora.

Saat Amora membenarkan barang-barang serta duduknya tiba-tiba Daren yang awalnya mengendarai mobilnya di kecepatan 60 KM/jam menginjak rem dengan sangat mendadak hingga membuat Amora yang belum memakai seat belt atau sabuk pengaman sedikit terpental ke depan.

Karena belum memakai sabuk pengaman, kepala Amora pun terbentur di laci dashboard mobil milik Daren dengan cukup keras, “Ra!”

“Arghh!!” ringis Amora kesakitan sembari memegang dahinya, sedangkan barang-barangnya sudah berjatuhan di bawah.

“Bentar-bentar” ucap Daren yang lalu kembali menginjak gas untuk menepikan mobilnya di pinggir jalan yang lebih aman.

Setelah berhenti, Daren langsung memegang dahi Amora yang sebelumnya dipegang sendiri oleh Amora. Dengan lembut Daren mengusap dahi Amora yang memerah seraya sedikit meniupnya agar rasa sakit itu berkurang.

“Maaf ya, tadi ada truk yang berhenti tiba-tiba, jadi aku juga rem mendadak. Maaf ya, masih sakit ngga?” tanya Daren yang masih mengusap lembut dahi Amora.

Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Amora terdiam, dia tidak menyangka bahwa Daren yang bersifat dingin seperti itu sangat perhatian kepadanya, bahkan dia tidak gengsi untuk mengucapkan kata maaf.

Karena masih tidak menyangka dengan tindakan Daren, Amora hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum mengeluarkan suaranya, “Ngga papa, udah ngga sakit kok.”

“Beneran?” tanya Daren setelah melepaskan tangannya dari dahi Amora.

“Iyaa, udah lanjut aja. Takut Mama udah nungguin” jawab Amora yang lalu menunduk untuk mengambil buku-bukunya yang berjatuhan di bawah tempat kakinya berada.

Melihat itu Daren dengan sigap melindungi kepala Amora, takut istrinya itu terbentur laci mobil lagi untuk yang kedua kalinya. Setelah mengambil buku-buku itu, Daren kembali mendekat untuk menarik sabuk pengaman di kursi yang ditempati oleh Amora dan memakaikannya di Amora.

Selesai itu Daren kembali mengendarai mobilnya dan mulai masuk lagi ke dalam jalan raya. Sedangkan Amora, perempuan itu mengepalkan tangannya karena menahan sebuah rasa yang aneh di dalam hatinya yang membuat pipinya sedikit memerah.

Beberapa menit kemudian, mereka berdua pun sampai di rumah orang tua Daren, di sana Yesa langsung memeluk Amora ketika mereka berdua baru saja sampai dan tengah berjalan masuk ke dalam rumahnya.

“Sayaangg, aduh anak perempuannya Mama datang, sini-sini duduk” ucap Yesa yang lalu menarik Amora menuju sofa dan menyuruhnya untuk duduk di dekatnya setelah mereka berdua saling berpelukan.

“Iya, Ma” jawab Amora yang tak lupa menunjukkan senyum manisnya.

Daren yang melihat itu hanya diam saja dan mengikuti pergerakan kedua perempuan itu dan juga ikut duduk di sofa yang ada di sana, “Ini kepala kamu kenapa, sayang?, kok merah?” tanya Yesa yang lalu memegang dahi Amora.

Melihat itu reflek Amora juga ikut memegang dahinya sembari mencari alasan, “Ee, ngga papa kok, Ma. Tadi cuma kebentur dikit aja” jawab Amora tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi tadi.

“Kamu ini, hati-hati dong sayang. Kamu juga Daren, kok bisa biarin istri kamu kebentur, kamu ngga jaga Amora dengan baik ya?” kini Yesa yang bertanya kepada Daren hingga memojokkan laki-laki itu.

“Iya, maaf, Ma. Setelah ini Daren akan lebih hati-hati lagi buat jaga Amora. Jadi Mama mau ngomong apa ke kita?” jawab serta tanya Daren yang tidak ingin berbasa basi lagi.

“Itu, besok Sabtu kalian jadi berangkat bukan?” tanya Yesa yang diangguki oleh Amora dan Daren secara bersamaan.

“Boleh minta tolong beliin kain kesukaan Mama yang cuma ada di Paris ngga?” tanya Yesa lagi. Yesa adalah orang yang hobi sekali menjait dan membuat baju atau apapun yang berkaitan dengan menjait.

Dia sangat suka dan mahir dalam menjait, bahkan seperempat dari baju yang dia punya sekarang adalah hasil dari jerih payahnya dalam menggeluti hobi.

Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, Amora menjawab pertanyaan dari Mama mertuanya itu, “Boleh, Ma, boleh banget. Mama tinggal bilang aja mau yang kayak gimana dan tokonya di mana, nanti aku sama Kak Daren yang ke sana buat beliin.”

“Ya itu makanya Mama suruh kamu ke sini, karena Mama mau ngasih tau bahan kayak gimana yang Mama suka dan mau. Ayo ikut Mama ke kamar” ajak Yesa setelah menjawab ucapan Amora.

Mendapat ajakan itu Amora pun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyuman yang sedari tadi terpampang jelas. Setelah itu mereka berdua pun pergi ke kamar Yesa, sedangkan Daren memilih untuk menunggu saja di ruang keluarga itu seraya mengutak-atik benda pipih miliknya yang berwarna hitam itu.

Keesokan harinya terlihat Amora yang tengah menyiapkan sarapannya dengan Daren, tapi di tengah-tengah itu terdengar bel rumahnya yang berbunyi. Mendengar itu Amora pun menghentikan aktivitasnya dan berjalan dari dapur menuju pintu utama.

Sesampainya di sana, Amora merapikan bajunya seperti dan membuka pintu besar itu, “Siapa?”

Melihat seorang perempuan dengan rok pendek berwarna putih dan juga kemeja crop top kotak-kotak yang berdiri di depannya sekarang seketika membuat Amora terdiam sejenak mengamati perempuan itu.

“Lo Amora ya?” tanya perempuan itu.

“Lo Nasyla?” tanya Amora balik.

“Ohh, Daren udah cerita tentang siapa pacarnya ya?” jawab perempuan bernama Nasyla itu dengan menekan kata ‘siapa pacarnya’ yang dia ucapkan barusan.

Mendengar jawaban Nasyla membuat Amora menyunggingkan bibir kirinya dan menyilangkan tangannya di depan dada, “Jadi pacarnya aja bangga lo?”

“Ya iyalah, karena gue perempuan yang dicintai sama Daren. Sedangkan lo?, perasaan ke lo aja dia ngga punya” jawab Nasyla seraya mengibaskan rambutnya yang semula di depan menjadi di belakang.

“Setidaknya gue yang dinikahi, satu atap, dan bahkan direstui sama keluarganya. Bukan lo yang cuma dicintai, tapi ngga dapet restu dari keluarganya” jawab Amora dengan nada datar dan sangat sarkas.

Terlihat Nasyla yang emosi dan hendak mengangkat tangannya untuk memukul Amora, tapi itu semua terhenti ketika suara Daren muncul. Dengan cepat Nasyla langsung menjatuhkan tangannya dan mulai bersikap manis.

“Siapa, Ra?” tanya Daren yang lalu muncul dari belakang Amora.

“Nih, pacar lo” jawab Amora yang lalu berjalan pergi menuju dapur dan lanjut menyiapkan sarapannya yang tadi hampir jadi.

Dengan cepat Amora melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti, dan setelah selesai dia mengambil beberapa untuk sarapannya dan membawanya ke atas. Karena di ruang makan terdapat Daren dan Nasyla.

“Kalau mau sarapan ambil aja. Udah jadi” ucap Amora tanpa melihat ke arah mereka dan langsung berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.

Di siang harinya terlihat Amora yang baru saja keluar dari salah satu kelas yang ada di fakultasnya, setelah itu dia berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Amora terdiam sejenak sebelum meraih handphone-Nya dan menelfon seseorang.

Orang yang dia telfon itu adalah Marvell, “Halo, Vell.”

“Iya, Ra?, ada apa?” tanya Marvell dengan suara lembut di sebrang sana.

“Aku boleh minta tolong ngga?” tanya Amora balik untuk memastikan apakah Marvell mau.

“Boleh lah, mau minta tolong apa, Ra?, bilang aja. Kalau bisa pasti aku bantu” jawab Marvell.

Amora menghela nafasnya, “Boleh ketemuan aja ngga?, aku ngga bisa kalau harus ngomong di telfon” jawab Amora.

“Boleh, boleh banget. Kamu sekarang ada di mana?, biar aku ke sana, aku masih di kampus soalnya” jawab Marvell atas ucapan Amora.

“Aku di parkiran mobil. Baru aja keluar dari fakultas. Kita ketemu di kantin biasanya aja ya?” jawab serta tanya Amora.

“Oke,” setelah itu telfon mereka pun tertutup dan Amora beranjak keluar dari mobilnya.

Di sebuah kantin yang sangat ramai terlihat Amora dan Marvell yang menjadi salah satu orang di antara keramaian itu, “Mau minta bantuan apa, Ra?” tanya Marvell dengan lembut dengan senyum yang tampan.

Amora terdiam sebelum menghela nafasnya dan mulai mengatakan sesuatu, “Vell, sorry kalau aku lancang dan ngga tau diri dengan ngomong kayak gini. Tapi kamu mau ngga jadi pacar pura-puraku?”

 

 

Bersambung…….

 

 

 

https://www.redaksiku.com/novel-choose-happiness-part-10/

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru