“Jadi, Mas tertarik sama dia?” Ayyara menatap suaminya. “Maksudku, dalam artian ketertarikan terhadap lawan jenis dalam hal asmara.”
Abyan menatap lama wajah istrinya. “Jujur … iya, aku tertarik sama dia.”
Ayyara terkesiap mendengar jawaban suaminya. Dia langsung memejamkan mata seraya menghela napas panjang. Hatinya seakan mendapat cubitan keras, terasa perih sampai berdenyut-denyut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tapi kamu tenang dulu, Ay … sampai kapan pun, kamu akan selalu jadi nomor satu di hati aku.”
Ayyara tersenyum mengejek. “Kalau aku nomor satu, berarti akan ada nomor dua, tiga, dan seterusnya, begitu?” sendirinya sinis.
Sekarang, giliran Abyan yang terkekeh. “Maaf, Sayang … aku salah. Kamu akan selalu jadi pemenangnya.” Dia meralat ucapannya.
“Kalau gitu, mulai sekarang, kamu bisa tinggalin dia?” desak Ayyara menguji sang suami.
Abyan kembali menatap istrinya. Dia menarik jemari tangan Ayyara dan menggenggamnya. “Tolong kasih aku waktu, ya. Untuk saat ini belum bisa, aku nggak mau berhutang janji. Please, kamu ngertiin aku, ya,” mohonnya dengan wajah memelas.
Ibu dua anak ini membalas tatapannya dengan sorot mata tajam. “Kenapa nggak bisa, Mas? Kalau memang benar cuma urusan kerjaan, kan bisa di-handle yang lain. Apa yang bikin kamu berat buat ninggalin dia?” cecar Ayyara dengan nada suara mulai meninggi.
Abyan tidak langsung menjawab ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Memori di otaknya malah memutar ulang peristiwa beberapa tahun lalu awal perjumpaannya dengan Lidya.
“Mas, ditanya kok, malah begong?” sentak Ayyara mengembalikannya dari lamunan.
“Oh, iya, sorry … kenapa tadi?” Sedikit tergagap, Abyan kembali bertanya.
“Apa yang bikin kamu berat ninggalin dia?”
“Hmm, karena aku punya janji pada ibunya, sebelum dia meninggal,” jawab Abyan dengan mata tertunduk.
“Janji apa? Nikahin dia?” tanya Ayyara kian sewot.
Abyan menggeleng. “Dulu, aku nggak pernah berpikir sejauh itu, tapi sekarang … entahlah, kalau keadaan memaksa, mungkin saja itu terjadi.”
“Mas!” bentak Ayyara seraya bangkit dari duduknya. Lengkingan suaranya ikut mengagetkan Abyan.
“Apa, sih, yang sebenarnya terjadi sama kamu? Kenapa kamu jadi berubah?” cecar Ayyara dengan wajah memerah.
Abyan ikut berdiri. Harinya mulai ikut panas. Dia tatap istrinya dengan tajam. “Bukan aku yang berubah, tapi kamu!” tegasnya tak kalah sengit sembari melayangkan jemari telunjuknya ke depan w ajah Ayyara.
“Apa maksud kamu? Di mana letak kesalahanku hingga kamu menuduh aku berubah?”
Lelaki itu tersenyum sinis. “Kamu tahu, Ay? Kenapa aku nikahin kamu?” tanyanya.
“Karena kamu cinta sama, iya, kan?” ucap Ayyara yang terdengar seperti meragukan jawabnya sendiri.
Abyan menggeleng. “Benar, aku memang cinta sama kamu. Tapi, ada hal utama yang meyakinkan aku untuk menikahimu ….” Abyan menggantung kalimatnya. Dia pandangi dulu mata istrinya yang sekarang tengah memandanginya dengan penuh tanya. “Karena kamu orang pertama yang bisa memahami apa yang kurasakan selama ini. Aku merasa dihargai, bisa jadi diri sendiri saat berada di sampingmu.”
Ayyara tertegun mendengar penjelasan suaminya. Kenapa baru kali ini dia tahu alasan di balik ngototnya Abyan untuk segera menikahinya kala itu.
“Pada awal pernikahan, aku merasakan kehidupanku sudah lengkap. Seakan semua hal di luar dirimu itu nggak penting. Sampai kemudian, Allah kirimkan Zay pada kita. Dan ternyata, aku harus mulai membagi kebahagiaanku itu.”
“Ya, ampun, Mas … masa anak sendiri dijadiin saingan?” celetuk Ayyara.
“Ay!” bentak Abyan hingga membuat istrinya terperanjat. “Bisa nggak, jangan motong ucapanku!”
Ayyara langsung tertunduk dengan tangan gemetar. Baru kali ini Abyan membentakknya begitu keras melebihi saat dulu di kamar hotel.
“Kamu tahu kapan pertama kali aku ketemu Lidya?” tanyanya dengan suara yang kembali melunak. Dia kaget sendiri saat melihat reaksi istrinya.a
Ayyara menggeleng. Tanpa terasa genangan air di sudut-sudut matanya mulai mengalir membasahi pipi.
“Saat kamu mulai menolak diajak ngobrol tentang kegiatanku di tempat kerja. Saat aku ingin sekedar bercerita menghilangkan penat, tapi kamu selalu menolak dengan alasan nggak ngerti dengan dunia kerjaku,” ucap Abyan dengan suara yang mulai bergetar juga.
Dia memutar badannya, menghindari tatapan sang istri karena matanya pun mulai berkaca-kaca. “Kemudian, aku bertemu Lidya yang saat itu menjadi mahasiswi bimbinganku. Aku lihat kamu yang dulu ada dalam dirinya. Aku mulai nyaman ngobrol sama dia.”
Ayyara memejamkan matanya. Hatinya terasa ditusuk-tusuk. Dia tak pernah menyangka ternyata dirinyalah yang mengawali kehancuran itu.
“Tapi kemudian, kamu kembali hadir dengan semua keputusanmu. Aku dipaksa mengundurkan diri dari kampus,” ungkap Abyan masih dengan badan membelakangi istrinya.
Untuk beberapa saat, Abyan terdiam sejenak. “Aku nggak tahu, apakah ini rezeki atau justru ujian? Karena setelah pindah kerja, aku kembali ketemu Lidya. Dia datang berkonsultasi ke perusahaan tempatku bekerja karena ingin membangun bisnis di bidang fashion.”
Ayyara kian tersedu-sedu, ternyata perselingkuhan suaminya sudah dimulai jauh sebelum peristiwa di hotel tersebut.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






