Redaksiku.com – Isu mengenai konflik di Gaza lagi-lagi bikin heboh publik internasional. Kali ini, yang jadi sorotan adalah dugaan bahwa pemerintah Israel mengucurkan dana super besar kepada Google demi menjalankan kampanye iklan digital.
Nilainya nggak main-maindisebut mencapai Rp 740 miliar.
Kampanye ini disebut-sebut bertujuan untuk membentuk narasi tertentu di mata dunia, terutama soal kondisi di Gaza yang sedang diguncang krisis kemanusiaan.
Media Independen Buka Fakta Mengejutkan
Fakta soal dugaan kontrak jumbo ini pertama kali diungkap media independen bernama Drop Site News. Temuan mereka kemudian dikutip oleh Middle East Monitor pada Jumat (5/9/2025), dan langsung jadi bahan diskusi panas di banyak forum internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut laporan itu, kontrak tersebut mencakup penayangan iklan di YouTube serta lewat platform iklan milik Google yang bernama Display & Video 360. Dokumen resmi pemerintah Israel bahkan secara gamblang menyebut kampanye ini sebagai bagian dari strategi propaganda.
Kata yang dipakai pun cukup jelas: hasbara. Buat yang belum tahu, hasbara adalah istilah Ibrani yang biasanya digunakan untuk menggambarkan propaganda resmi dari pemerintah Israel, terutama untuk menutupi atau mengalihkan sorotan dari operasi militernya.
Google Dituding Ikut Sahkan Kampanye
Yang bikin makin ramai, Google disebut mengesahkan kampanye iklan ini. Dengan begitu, promosi yang memuat narasi pro-Israel bisa tayang di banyak platform digital, dan menjangkau jutaan orang di berbagai negara.
Kontennya pun bukan sembarangan. Beberapa iklan yang beredar terang-terangan membantah laporan media independen dan lembaga internasional soal kondisi kelaparan di Gaza.

Kontroversi di Tengah Krisis Kemanusiaan
Kampanye iklan ini diluncurkan pada momen yang cukup sensitif. Pasalnya, sejak 2 Maret 2025, Israel memutuskan menghentikan total pasokan makanan, bahan bakar, hingga bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Keputusan itu menuai kecaman global. Banyak pihak, mulai dari organisasi hak asasi manusia, negara-negara sahabat, hingga PBB, mengecam langkah Israel yang dianggap memperburuk penderitaan warga sipil.
Tapi di saat sorotan makin tajam, justru muncul kampanye digital masif yang isinya mengklaim kalau situasi di Gaza nggak seburuk yang diberitakan.
Salah Satu Iklan Paling Viral
Salah satu materi iklan yang jadi sorotan adalah video YouTube resmi dari Kementerian Luar Negeri Israel. Dalam video itu, pemerintah Israel menyampaikan klaim: Ada makanan di Gaza. Klaim lain adalah kebohongan.
Pernyataan ini jelas bertolak belakang dengan laporan lapangan dari berbagai media internasional yang menunjukkan kondisi warga Gaza sedang kekurangan pangan parah.
Video itu sendiri sudah ditonton lebih dari 6 juta kali, dan angka tersebut sebagian besar didorong oleh sistem promosi berbayar dari kontrak pemerintah. Jadi, bukan hanya viral secara organik, tapi memang digencarkan lewat iklan masif.
Kenapa Propaganda Digital Jadi Senjata Baru?
Di era digital kayak sekarang, perang nggak cuma terjadi di medan tempur, tapi juga di dunia maya. Narasi, opini publik, hingga persepsi internasional bisa dibentuk lewat media sosial dan iklan digital.
Israel disebut memanfaatkan hal ini dengan serius. Dengan mengguyurkan dana super besar ke Google, pesan-pesan yang mereka anggap penting bisa tersebar luas, bahkan mengalahkan jangkauan berita independen.
Strategi ini jelas efektif dari sisi visibilitas, tapi di sisi lain juga mengundang kritik keras karena dianggap menyesatkan publik global.
Respon Dunia Internasional
Laporan tentang kontrak propaganda ini langsung memancing reaksi beragam. Banyak pihak menilai langkah Israel menunjukkan upaya sistematis untuk mengontrol narasi publik, bahkan dengan cara membantah bukti nyata yang sudah ada di lapangan.
Aktivis HAM internasional menyebut, tindakan ini seperti menutup mata dunia terhadap realita pahit yang dialami warga Gaza.
Ada juga akademisi yang berpendapat bahwa kerja sama antara pemerintah dengan platform raksasa seperti Google bisa berbahaya. Sebab, hal ini membuat batas antara iklan berbayar dan manipulasi informasi jadi makin kabur.
Netizen Ikut Ramaikan Perdebatan
Di media sosial, warganet dari berbagai negara langsung rame ngebahas isu ini. Ada yang marah karena menganggap Google menjual idealisme demi uang, ada juga yang menuntut transparansi dari pihak platform iklan digital.
Hashtag terkait Gaza, propaganda, dan Google sempat trending di Twitter/X. Banyak netizen membandingkan iklan resmi Israel dengan foto-foto kondisi nyata di lapangan yang dibagikan jurnalis independen maupun relawan kemanusiaan.
Kontras antara iklan dan fakta di lapangan inilah yang bikin perdebatan makin panas.
Google Bakal Buka Suara?
Sampai sekarang, pihak Google belum memberikan keterangan resmi yang detail soal laporan kontrak Rp 740 miliar ini. Biasanya, perusahaan teknologi besar punya kebijakan soal iklan politik atau propaganda, tapi dalam kasus ini, sorotan publik sudah terlalu besar untuk diabaikan.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






