Kecelakaan helikopter BK-117 D3 yang terjadi di Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, telah menyita perhatian luas masyarakat.
Peristiwa ini menelan korban delapan orang penumpang dan kru yang seluruhnya dinyatakan meninggal dunia setelah helikopter hilang kontak pada 1 September 2025.
Proses pencarian dilakukan secara intensif melibatkan berbagai pihak mulai dari tim SAR gabungan, TNI, Polri, hingga relawan setempat.
Setelah bangkai helikopter BK-117 D3 ditemukan, perhatian kemudian tertuju pada upaya identifikasi para korban melalui operasi Disaster Victim Identification (DVI).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Polda Kalimantan Selatan memastikan seluruh korban akhirnya berhasil dikenali dan dipulangkan ke keluarga masing-masing, menutup rangkaian panjang tragedi ini.
Fakta Jatuhnya Helikopter BK-117 D3 di Tanah Bumbu
Helikopter milik Eastindo dinyatakan hilang kontak pada Senin pagi 1 September 2025 sekitar pukul 08.00 WITA.
Pesawat tersebut sedang menempuh rute dari Kotabaru, Kalimantan Selatan menuju Palangka Raya, Kalimantan Tengah dengan membawa delapan orang di dalamnya.
Pihak otoritas segera mengaktifkan operasi pencarian setelah helikopter BK-117 D3 tidak memberikan kabar dan tidak muncul di jalur penerbangan.
Lokasi jatuhnya helikopter akhirnya diketahui berada di kawasan hutan Kecamatan Mentewe, Tanah Bumbu yang cukup sulit dijangkau tim penyelamat.
Evakuasi korban dan puing helikopter BK-117 D3 berlangsung dramatis karena medan terjal, cuaca kurang bersahabat, dan risiko keselamatan tinggi bagi petugas.
Proses Identifikasi Korban Helikopter BK-117 D3
Setelah seluruh korban dievakuasi, tim DVI Polda Kalimantan Selatan langsung melakukan proses identifikasi terhadap delapan jenazah.
Menurut Kabiddokkes Polda Kalsel Kombes M El Yandiko, tim DVI melibatkan berbagai ahli mulai dari forensik hingga odontologi forensik atau identifikasi melalui gigi.
Enam korban berhasil diidentifikasi lebih awal dengan metode pencocokan sidik jari serta ciri fisik yang jelas dikenali keluarga.
Dua korban lainnya memerlukan pemeriksaan lanjutan karena kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk dikenali secara visual ataupun melalui sidik jari.
Untuk kedua korban terakhir, tim DVI mengandalkan tes DNA yang kemudian dicocokkan dengan sampel DNA keluarga terdekat.
Setelah hasil DNA keluar, identitas dua korban itu pun dipastikan sehingga seluruh korban helikopter BK-117 D3 resmi terungkap.
Kabiddokkes kemudian menyatakan operasi DVI resmi ditutup karena tugas identifikasi telah selesai sesuai standar internasional.
Dampak dan Tanggapan atas Tragedi Helikopter BK-117 D3
Tragedi ini bukan hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan berbagai evaluasi terkait dunia penerbangan.
Banyak pihak mendesak adanya pemeriksaan teknis menyeluruh pada armada helikopter BK-117 D3 yang digunakan untuk penerbangan komersial maupun sewa.
Pertanyaan besar muncul mengenai penyebab jatuhnya helikopter BK-117 D3, apakah faktor cuaca, kesalahan teknis, atau human error dari kru penerbangan.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) turut dilibatkan dalam investigasi untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan yang menelan delapan korban jiwa tersebut.
Pemerintah daerah dan pusat juga berjanji memberikan perhatian serius, termasuk santunan bagi keluarga korban helikopter BK-117 D3.
Selain itu, tragedi ini memunculkan peringatan keras tentang pentingnya pengawasan ketat terhadap standar keselamatan penerbangan di wilayah-wilayah terpencil.
Helikopter BK-117 D3 sebelumnya dikenal sebagai armada andalan untuk transportasi udara di daerah yang sulit diakses jalur darat.
Namun peristiwa ini menjadi catatan penting bahwa meski helikopter canggih sekalipun tetap memiliki risiko tinggi dalam pengoperasiannya.
Penutupan Operasi DVI Helikopter BK-117 D3
Dengan teridentifikasinya seluruh korban, enam jenazah langsung diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan sesuai tradisi masing-masing.
Dua jenazah lainnya yang baru teridentifikasi melalui DNA masih menunggu keluarga datang untuk menjemput dan mengurus pemakaman.
Kabiddokkes Kombes El Yandiko menegaskan penutupan operasi DVI menjadi akhir dari seluruh rangkaian identifikasi korban helikopter BK-117 D3.
Ia menyampaikan apresiasi besar kepada tim medis, forensik, dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses panjang penuh tantangan ini.
Meski operasi identifikasi ditutup, investigasi penyebab jatuhnya helikopter BK-117 D3 masih terus berjalan dan diharapkan segera menghasilkan kepastian.
Hasil investigasi akan menjadi bahan evaluasi bagi industri penerbangan Indonesia agar tragedi serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
Tragedi ini meninggalkan pelajaran bahwa keselamatan transportasi udara harus menjadi prioritas utama, terutama di daerah yang sangat bergantung pada helikopter.
Keluarga korban, masyarakat, hingga dunia penerbangan berharap agar musibah helikopter BK-117 D3 bisa menjadi momentum perbaikan serius.
Sebagai penutup, kecelakaan helikopter BK-117 D3 di Tanah Bumbu menjadi salah satu tragedi penerbangan paling menyedihkan dalam beberapa tahun terakhir.
Seluruh korban akhirnya berhasil diidentifikasi melalui kerja keras tim DVI, menutup satu babak duka yang mendalam.
Namun penyebab jatuhnya helikopter ini masih harus diungkap secara tuntas agar ada kejelasan dan rasa keadilan bagi keluarga korban.
Tragedi ini diharapkan menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan standar keselamatan penerbangan dan perlindungan bagi setiap penumpang.
Masyarakat kini menanti hasil investigasi resmi agar tidak ada lagi korban jiwa sia-sia dalam kecelakaan helikopter di masa depan.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






