Jakarta, 2 Oktober 2025 Ketegangan politik internasional kembali memanas setelah insiden dramatis menimpa Global Sumud Flotilla (GSF), armada kapal solidaritas kemanusiaan yang menuju Jalur Gaza.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mencegat dan menahan delapan kapal GSF di perairan internasional, Rabu (1/10) malam pukul 20.30 waktu setempat.
Langkah keras Israel ini memicu reaksi tajam dari Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang langsung mengumumkan pengusiran seluruh diplomat Israel dari negaranya. Tidak hanya itu, Kolombia juga secara sepihak menghentikan perjanjian perdagangan bebas dengan Israel yang sudah berlaku sejak 2020.
🚢 Armada Solidaritas Dicegat
Menurut laporan Al Jazeera, setidaknya ada delapan kapal yang menjadi bagian dari konvoi GSF: Deir Yassine/Mali, Huga, Spectre, Adara, Alma, Sirius, Aurora, dan Grande Blue.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapal-kapal ini membawa aktivis dari berbagai negara dengan misi mengirim bantuan kemanusiaan ke Gaza. Namun, sebelum mencapai tujuan, mereka dihadang IDF dan dipaksa menuju pelabuhan Israel.
Yang membuat situasi makin sensitif, di antara aktivis yang ditahan terdapat dua warga negara Kolombia, Manuela Bedoya dan Luna Barreto, serta aktivis lingkungan terkenal asal Swedia, Greta Thunberg.
š¡ Kolombia Murka
Reaksi keras datang cepat. Presiden Gustavo Petro menyebut tindakan Israel sebagai “kejahatan internasional baru” dan langsung mengumumkan pengusiran seluruh perwakilan diplomatik Israel dari Kolombia.
Dua perempuan Kolombia yang bergabung dalam aktivitas solidaritas kemanusiaan untuk Palestina telah ditahan oleh pasukan Israel di perairan internasional. Kami menuntut pembebasan segera mereka, tegas Petro, dikutip dari AFP.
Langkah ini menandai titik terendah hubungan diplomatik KolombiaIsrael dalam beberapa dekade terakhir.

¥ Hubungan KolombiaIsrael Memanas
Sebenarnya, hubungan kedua negara memang sudah memburuk sejak tahun lalu. Petro dikenal sebagai salah satu kepala negara paling vokal mengecam serangan Israel ke Gaza.
Dalam sidang Majelis Umum PBB September lalu, Petro secara terbuka menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan genosida. Ia bahkan menyebut mantan Presiden AS Donald Trump ikut bersekongkol dalam tindakan itu.
Petro juga sempat ikut aksi demonstrasi pro-Palestina di New York minggu lalu. Akibatnya, pemerintah AS mencabut visanya, sebuah langkah yang semakin mempertegas sikap keras negara Barat terhadap Petro.
🌠Diplomasi Internasional dalam Sorotan
Pengusiran seluruh diplomat Israel bukan hanya simbol protes, tapi juga memiliki dampak strategis. Dengan keputusan ini, Kolombia menjadi salah satu negara pertama di Amerika Latin yang mengambil langkah ekstrem memutus hubungan diplomatik dengan Israel secara penuh.
Selain itu, penghentian kesepakatan perdagangan bebas menandai babak baru dalam hubungan ekonomi kedua negara. Sejak perjanjian berlaku tahun 2020, Israel dan Kolombia telah menjalin kerja sama di bidang pertanian, teknologi, hingga pertahanan. Kini, semua kerja sama itu dibekukan sepihak oleh Bogotá.
📢 Desakan Pembebasan Aktivis
Di dalam negeri, pemerintah Kolombia juga mendapat desakan dari masyarakat sipil untuk memastikan keselamatan dua warganya. Organisasi HAM lokal menilai penahanan di perairan internasional melanggar hukum internasional.
Manuela Bedoya dan Luna Barreto bukan kriminal. Mereka ikut serta dalam aksi solidaritas kemanusiaan. Penahanan ini adalah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia, tulis salah satu organisasi dalam pernyataan resmi.
👥 Profil Aktivis yang Ditahan
-
Manuela Bedoya dikenal aktif di gerakan perempuan muda Kolombia, sering terlibat dalam kampanye global untuk perdamaian.
-
Luna Barreto mahasiswa sekaligus aktivis lingkungan, yang sebelumnya aktif mendukung isu Palestina melalui forum-forum internasional.
-
Greta Thunberg ikon aktivis iklim dunia, kehadirannya dalam flotilla ini membuat perhatian publik semakin besar. Greta disebut ikut serta karena melihat isu Palestina sebagai bagian dari keadilan global.
🛑 Kritik ke Israel
Banyak pihak internasional mengecam Israel atas tindakan mencegat GSF. Pasalnya, flotilla itu berlayar di perairan internasional, bukan di wilayah yurisdiksi Israel.
Pengamat hukum internasional menilai langkah IDF melanggar Konvensi PBB tentang Hukum Laut. Mencegat kapal di perairan internasional tanpa alasan yang sah merupakan tindakan ilegal. Apalagi, ini adalah kapal kemanusiaan, ungkap seorang pakar hukum dari Universitas Oxford.
📊 Dampak Politik Global
Keputusan Kolombia bisa memberi efek domino. Negara-negara lain di kawasan Amerika Latin, seperti Chile dan Bolivia, sudah lebih dulu mengkritik keras Israel. Ada kemungkinan langkah Kolombia menginspirasi negara lain untuk meninjau ulang hubungan diplomatik mereka dengan Tel Aviv.
Di sisi lain, Israel diperkirakan akan memberikan respons keras. Selama ini, Tel Aviv melihat Amerika Latin sebagai mitra penting dalam diplomasi global. Kehilangan Kolombia jelas bukan kabar baik bagi mereka.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






