Novel : Room for Two Bab 33: Bencana yang Datang Tanpa Rencana

Ketika aku meninggalkan rumah sakit tiga hari kemudian, aku telah kehilangan bobot tubuh hampir 6 kilo dalam 2 bulan. Berat badanku yang sebelumnya 53 kilo menjadi 47 kilo saja. Dokter bilang tubuhku terlalu kurus untuk seorang perempuan yang sedang mengandung bayi 8 minggu. Padahal aku tidak berencana diet, padahal aku selalu berusaha makan, tetapi rupanya beban pikiran menjadi obat yang paling mujarab untuk menguruskan badan. Belum lagi sesi mual muntah yang benar-benar menguji kesabaran.
Sesuai saran dokter, Reivan membawaku berkonsultasi dengan seorang ahli gizi. Berkat panduan diet darinya, perlahan-lahan aku pun kembali menemukan kenyamanan saat makan, tanpa khawatir akan memuntahkannya kembali di pagi hari.
Di samping itu, aku juga harus segera mengejar ketertinggalan. Karena pada minggu-minggu pertama kehamilan aku tidak pernah memeriksakan kandungan, ditambah upaya mengakhiri hidup yang pernah kulakukan, dokter pun memantau perkembangan janin dalam perutku dengan ketat. Ia mewanti-wanti agar aku membatasi kegiatan dan menggunakan lebih banyak waktu untuk istirahat agar kandunganku baik-baik saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk memastikan kesehatanku, Reivan sampai menyuruhku mengundurkan diri dari Sebar Kabar Benar. Itu sebuah keputusan yang berat. Bagaimanapun, menjadi seorang jurnalis merupakan impianku sejak dulu. Meninggalkannya adalah hal yang tidak pernah kubayangkan apalagi kurencanakan. Namun, aku tidak lagi membantah suamiku.
Lu bisa balik kapan aja ke SKB. Terpenting sekarang, lu dan anak lu sehat dulu.
Janji Mbak Monic-lah yang kemudian menyempurnakan kebulatan tekadku meninggalkan Sebar Kabar Benar. Hatiku pun terasa ringan saat menyampaikan permohonan pengunduran diri kepada tim redaksi.
Sejak tidak lagi bekerja, hari-hariku lebih banyak di rumah. Agar tidak bosan, aku kerap menata ulang beberapa furnitur di rumah Reivania mengizinkanku melakukannya sepanjang aku tidak mengeluh kelelahan atau kesakitan. Reivan tahu, sejak keluar dari rumah sakit itu perutku selalu terasa kram dan nyeri. Namun, karena sakitnya hilang timbul dan tidak berlangsung terus-menerus, kuyakinkan diriku bahwa itu hanyalah kontraksi palsu.
Di rumah aku juga menyibukkan diri dengan menyiapkan kamar bayi. Kupakai bekas kamarku untuk anak kami nantiaku sendiri sudah pindah permanen ke kamar Reivan yang kini menjadi lebih nyaman setelah terkena sentuhan tangan perempuan.
Lebih jauh lagi, aku memutuskan terlibat dalam urusan pengaturan pekerjaan rumah tangga. Kalau sebelumnya Bu Lia dan Dewi bekerja serabutanmereka cenderung bekerja saat teringat telah kelupaan mengerjakan apakali berikutnya kuberlakukan pembagian peran. Bu Lia, yang tinggal 24 jam bersamaku, kuminta rutin berbelanja sayur, memasak, dan menyetrika. Sementara Dewi yang pulang pergi setiap hari bertugas mengerjakan sisanya. Untuk tugas-tugas yang membutuhkan tenaga laki-laki, biasanya Reivan akan mendatangkan tukang secara khusus dari kantornya.
Hari itu, meski perutku beberapa kali berdenyut nyeri dan teras tegang, aku tetap berkegiatan seperti biasa. Aku bahkan sempat keluar rumah menemui Mama dan Bu Nawang. Kuajak mereka makan siang di luar sambil berkeliling mal.
Mereka mengaku senang saat aku melakukannya. Dalam hati, sejujurnya akulah paling senang. Aku tidak hanya bisa melamurkan kesedihan dan kesepian Mama setelah ditinggalkan Papa, tetapi juga karena bisa memenangkan dan menyenangkan hati Bu Nawang. Akulah yang paling berbahagia karena akhirnya, di depanku, Bu Nawang berkata bahwa dirinya sudah bisa memaafkan dan menerima kondisiku.
Penghargaan tertinggi tentu saja kuberikan kepada suamiku sendiri. Reivan begitu menjaga kehamilanku, seakan-akan anak dalam rahimku itu adalah benihnya yang ia titipkan kepadaku. Meski membutuhkan waktu yang sangat panjang dan jalan yang sangat berliku, akhirnya aku percaya, Reivan adalah jawaban sekaligus jaminan dari Tuhan bahwa aku akan selalu punya teman seperjalanan di dunia. Sekeras apa pun cobaannya, sepanjang ada Reivan bersamaku, maka semuanya akan baik-baik saja.
Kenapa ngelihatin akunya kayak gitu? tanya Reivan tiba-tiba. Ternyata butuh waktu hampir satu tahun untuk membiasakan Reivan membahasakan dirinya aku di depanku. Perut kamu sakit lagi, ya?
Enggak. Iya sakit, sih, sedikit, tapi akunya enggak kenapa-kenapa.
Terus kenapa kamu ngelihatin aku terus? Aku ada salah, ya?
Enggak ¦ kamu risih, ya, aku lihatin?
Reivan menggeleng. Bukan risih, katanya, serem aja. Kirain tadi lagi nonton bareng, pas nengok ternyata kamu lagi ngeliatin aku kayak gitu.
Kayak gitu gimana?
Ya, kayak gitu, tuh. Melotot gitu. Mirip ¦.
Mirip apa?
Enggak, enggak jadi.
Bilang, enggak, mirip apa? Kucubit pinggang Reivan hingga ia mengaduh kesakitan lalu tertawa kegelian.
Mirip itu ¦. Reivan berusaha menahan tawanya. Udah, lah. Tidur, yuk.
Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah mengalungkan lengannya dan memelukku seperti guling. Aku menggeliat berusaha melepaskan diri dari kungkungannya.
Reivan tertawa lagi lalu membiarkanku mencari posisi nyaman dengan menyenderkan kepala ke dadanya. Ia membelai rambutku menggunakan tangan kanan sementara aku memainkan jemari tangan kirinya yang melingkari perutku yang mulai membesar.
Tau enggak, kok tiba-tiba aku kepingin makan gelato, ya?
Gelato? Kamu ngidam?
Aku mengangkat bahu.
Besok, yuk. Ke tempat yang waktu itu, mau? Sekalian ngerayain ulang tahun pernikahan kita yang ¦ masih dua mingguan lagi, sih.
Aku tertawa sebentar sebelum berkata, Mau-mau! Setelah itu kudekati Reivan dan kukecup pipinya berulang kali.
Buat apa ini?
Ucapan terima kasih.
Ucapan terima kasih bukan kayak gitu, sahutnya, tapi gini.
Reivan menempelkan bibirnya ke bibirku lalu mengecupnya dengan penuh kelembutan. Dalam sekejap, kecupan yang penuh kehangatan itu berganti menjadi lenguhan, lalu berakhir dengan peluh penuh kenikmatan.
***
Aku terbangun karena rasa mulas yang meremas-remas perutku. Saat itu hari masih pagi, bahkan terlalu pagi karena Reivan pun belum bangun untuk melakukan rutinitas lari keliling kompleks. Dengan mata yang masih mengantuk, aku berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Namun, rasa kantukku hilang ketika kutemukan flek kemerahan memanjang di pakaian dalamku.
Van! Reivan!
Karena yang kupanggil tak kunjung bangun, aku bergegas menghampiri Reivan. Saat itu rasa melilit di perutku menjadi-jadi.
Melihatku membungkuk sambil memegangi perut, Reivan pun langsung meloncat dari posisi tidur. Tampaknya ia melewati tahapan mengumpulkan nyawa dan langsung siaga ke posisi terjaga.
Sakit banget? Kita ke rumah sakit, ya, sekarang. Kamu bisa jalan?
Aku menggeleng sambil meremas tangan Reivan. Sakit seperti itu belum pernah kurasakan sebelumnya. Seperti nyeri haid, tapi dengan skala yang berlipat-lipat ganda.
Reivan menyuruhku menunggu. Selama masa-masa tunggu itu kurasakan ada sesuatu yang menggumpal keluar dari jalan lahir. Perasaanku langsung tidak enak.
Reivan!
Yang datang kemudian bukannya Reivan, melainkan Bu Lia. Dengan wajah masih mengantuk ia tergopoh-gopoh mendatangiku.
Kenapa, Neng? Mana yang sakit?
Perut bawah.
Ya ampun, Neng!
Kepanikan dan ketakutan yang tersirat dari suara Bu Lia membuatku yakin, bahwa perasaan tidak enak yang melandaku bukanlah kebetulan belaka. Pasti ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang buruk. Aku tidak berani memikirkannya apalagi menunduk untuk memastikannya.
Mobilnya udah siap ¦.
Kenapa? Kenapa?! Reivan kenapa muka kamu kayak gitu?
Bu Lia ikut saya ke rumah sakit!
Tanpa bertanya apakah aku mau diperlakukan seperti itu, Reivan langsung membopongku. Bersamaan dengan itu, nyeri yang begitu luar biasa kembali menyerang perutku.
Sakit banget!
Sebentar, tahan dulu. Kita ke IGD, kata Reivan sambil terengah-engah.
Sepuluh menit kemudian, aku meringkuk di kursi belakang ditemani Bu Lia, sementara Reivan menyetir dengan kecepatan yang membabi buta. Tidak kuhitung berapa lama perjalanan kami menuju rumah sakit, yang jelas sepanjang masa itu nyeri yang kurasakan tidak berkurang sama sekali.
Begitu tiba di IGD, Reivan langsung berlari meminta bantuan. Tidak lama kemudian, seorang perawat berjalan cepat menuju mobil sambil mendorong kursi roda. Bersama Reivan ia mendudukkanku ke kursi itu, kemudian aku dibawa ke tempat pemeriksaan bertriase merah. Tidak butuh waktu lama, seorang dokter perempuan muda datang dan melakukan pemeriksaan.
Bapak,dokter itu bicara kepada Reivanmaaf, janin di kandungan Ibu sudah tidak ada detak jantungnya. Saya sudah coba periksa berulang kali, hasilnya sama. Kehamilan Ibu tidak bisa diselamatkan. Demi kesehatan dan keselamatan Ibu, kami harus segera melakukan tindakan. Mohon disetujui.
Bu Lia, yang berdiri di samping kasur yang kutiduri, langsung menangis tersedu-sedu. Sementara Reivan, ia mematung. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya. Ia juga tidak merespons ketika aku meremas tangannya. Entah mengapa aku melakukan itu, mungkin aku hanya ingin membuat Reivan merasakan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh tangan-tangan tak kasatmata yang sedang meremas-remas hatiku.
Bapak, bagaimana?
Reivan menoleh ke arahku. Ia mengerjap beberapa kali lalu berdeham membersihkan tenggorokannya, sebelum kemudian berkata dengan suara amat pelan, Maaf. []
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






